||Catatan Mahasiswa Berprestasi UM: Di Balik Perjalanan Meraih Beasiswa Bidikmisi

Catatan Mahasiswa Berprestasi UM: Di Balik Perjalanan Meraih Beasiswa Bidikmisi

2019-02-19T12:09:01+00:00Cerita Komunitas|0 Comments

Selama menjadi mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM), Indra Febrianto—yang akrab disapa Indra—telah menorehkan banyak prestasi. Akan tetapi, tak banyak orang tahu bahwa di balik segala pencapaiannya, tak sedikit pula kegagalan yang ia lewati, di antaranya gagal lolos SNMPTN dan mendapatkan beasiswa Bidikmisi.

Teman-teman kuliah Indra mungkin mengenalnya sebagai sang “Mapres”. Memang, mahasiswa semester 7 jurusan Ekonomi Pembangunan ini belum lama terpilih sebagai Mahasiswa Berprestasi di kampus kebanggaannya, UM. Namun, rupanya perjuangan Indra untuk sampai di posisinya saat ini tak selalu berjalan mulus.

Gagal SNMPTN dan Bidikmisi

Mengenang suka duka saat masih berstatus pelajar SMK dulu, Indra mengaku kisahnya cukup penuh dengan “drama”. Merasa terkendala dengan biaya kuliah yang mahal, Indra memutuskan untuk mendaftar SNMPTN melalui jalur Bidikmisi.

Bidikmisi adalah suatu program bantuan biaya pendidikan yang disediakan oleh pemerintah melalui Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Kemenristekdikti RI). Selain membebaskan biaya pendidikan selama 8 semester, Bidikmisi juga memberikan subsidi biaya hidup kepada peserta didik berprestasi yang mengalami keterbatasan ekonomi.

Sayangnya, hasil yang Indra dapatkan tak sesuai harapan. Ia tidak diterima di satu pun program studi yang ia pilih dalam SNMPTN, yaitu Manajemen, Pendidikan Administrasi Perkantoran, dan Sastra Inggris. Ketiganya di Universitas Negeri Malang.

Saat mencoba menganalisis kegagalannya tersebut, Indra mendapati bahwa kurangnya prestasi yang ia raih sebagai seorang pelajar merupakan salah satu alasan utama mengapa ia tidak lolos SNMPTN.

Indra menyaksikan sendiri keberhasilan salah satu temannya yang masuk perguruan tinggi negeri dengan modal prestasi di SMA, sedangkan pada saat itu dirinya terlalu fokus mengejar satu tujuan, yaitu menjuarai Lomba Kompetensi Siswa (LKS) se-Jawa Timur, sampai-sampai lupa untuk berorganisasi.

Sempat merasa kecewa, mahasiswa asal Jombang ini pun memutuskan untuk mencari pekerjaan di Surabaya sebagai salah satu upaya untuk menghibur diri. Ia bahkan sampai melupakan niat untuk mendaftar SBMPTN karena sudah nyaman dengan pekerjaan tersebut.

Untungnya, berkat dorongan sang guru, akhirnya Indra kembali bersemangat untuk mendaftar SBMPTN, dan memasukkan jurusan Pendidikan Ekonomi di Universitas Negeri Malang sebagai pilihan pertamanya.

Perjuangan meraih Bidikmisi

Setelah resmi menjadi mahasiswa UM yang lolos lewat jalur SBMPTN, Indra tetap tak menyerah untuk mengejar beasiswa. Selama dua tahun, ia terus menerus mencoba melakukan pengajuan Bidikmisi susulan ke pihak kampus, tapi belum berhasil.

Program beasiswa lainnya juga turut ia coba, seperti beasiswa PPA (Peningkatan Prestasi Akademik), serta beasiswa dari BCA. Akan tetapi, keduanya tak ada yang memberi kabar kelulusan. Hingga akhirnya di semester 4 ia mendapat secercah harapan.

Indra mengungkapkan bahwa setiap perguruan tinggi memiliki kuota mahasiswa Bidikmisi masing-masing. Jika ada kursi Bidikmisi yang kosong, tak menutup kemungkinan pihak kampus akan menyerahkannya kepada mahasiswa yang masuk dalam daftar yang potensial.

Itulah yang terjadi pada Indra.

Kala itu, seorang teman mengabarinya bahwa terdapat satu orang penerima Bidikmisi yang mengundurkan diri. Indra lantas menghubungi pihak kampus untuk menanyakan kejelasan kabar tersebut, hingga kemudian ia diberi kesempatan untuk menjadi salah satu calon pengganti penerima Bidikmisi.

Yang mengincar kesempatan ini tentu bukan cuma Indra, lalu mengapa ia yang terpilih?

Belajar dari kesalahan saat SMA, Indra sungguh-sungguh meningkatkan keaktifan berorganisasinya di perguruan tinggi. Menjadi koordinator event di UKM Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM), serta Ketua Riset dan Pengembangan LP3ME (Lembaga Pengembangan, Penalaran, dan Penelitian Mahasiswa Ekonomi) adalah beberapa contoh keterlibatan Indra di lingkungan kampus.

Di samping itu, mahasiswa yang bercita-cita ingin menjadi business consultant ini juga menghasilkan sejumlah karya tulis ilmiah, serta mengikuti beberapa kongres mahasiswa internasional.

Dana Cita | Di Balik Perjalanan Meraih Beasiswa Bidikmisi (photo by: Indra Febrianto)

Indra saat menghadiri international conference di Istanbul, Turki (photo by Indra Febrianto)

Indra mengakui bahwa aktivitasnya di semester-semester awal membuat koneksinya semakin luas, termasuk dengan pihak kemahasiswaan Fakultas Ekonomi (FE) UM. Melihat prestasi dan kontribusi Indra yang mengagumkan, pihak fakultas pun tidak segan untuk merekomendasikannya sampai ia terpilih menjadi pengganti penerima Bidikmisi.

“Menurut saya untuk masuk ke dalam list tersebut, (mahasiswa) perlu aktif mengajukan diri sebagai susulan atau pengganti Bidikmisi, dan tak lupa juga memberikan performa yang bagus bagi fakultas dan universitas yang pastinya akan menjadi pertimbangan bagi mereka (dalam menentukan mahasiswa yang berhak mendapat bantuan biaya).”

Selalu belajar dan mengambil sisi positif

Suka duka yang dirasakan Indra selama masa mudanya memberikannya banyak pelajaran yang berharga. Ia pun tak menyesali setiap langkah yang ia ambil, termasuk ketika memilih program studi Pendidikan Ekonomi, jurusan Ekonomi Pembangunan.

Secara jujur, Indra menceritakan ketertarikannya yang lebih besar terhadap ilmu ekonomi murni. Bahkan, sampai sekarang pun setiap penelitian yang ia lakukan sebenarnya lebih fokus pada ekonomi pembangunan murni, bukan pendidikan—seperti program studinya.

Meski demikian, seiring berjalannya waktu Indra menyadari sisi positif dari pilihan yang ia ambil.

“Jika saya tidak masuk di prodi pendidikan, mungkin saya tidak bertemu orang-orang yang menghubungkan saya dengan prestasi yang saya dapat sekarang,” akunya.

Keterlambatan Indra untuk aktif berorganisasi juga bukan sesuatu yang terus ia sesali. Justru, meski sudah berhasil meraih Bidikmisi—yang ia kejar selama ini, Indra tak berhenti membuat teman-teman dan keluarganya bangga dengan serangkaian prestasinya.

Terpilih sebagai salah satu Mahasiswa Berprestasi Tingkat Nasional, misalnya, merupakan salah satu pencapaian terbesar yang mengubah hidup Indra. Sejak pemilihan tersebut, Indra langsung mendapat banyak tawaran untuk mengisi seminar, menjadi moderator, hingga menjadi juri acara-acara di dalam maupun luar kampus.

“Tentunya dari hal ini saya bukan hanya belajar bagaimana menjadi mahasiswa yang memiliki prestasi, tapi (juga) bagaimana menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk bisa berprestasi.”

Dana Cita | Di Balik Perjalanan Meraih Beasiswa Bidikmisi

Menerima penghargaan Finalis Mahasiswa Berprestasi Nasional Kemenristekdikti (photo by Indra Febrianto)

Dari Mapres hingga Founder startup

Seakan belum cukup mendapat predikat mahasiswa berprestasi se-Indonesia, Indra kini mulai memasuki ranah kewirausahaan dengan menjadi seorang sociopreneur.

Selain menjadi Campus Ambassador Dana Cita yang aktif berkontribusi dalam menyebarluaskan solusi pinjaman pendidikan terjangkau, Indra juga tengah disibukkan dengan sebuah project platform digital yang ia rintis, bernama Sovipro.

Berangkat dari sebuah karya tulis yang ia hasilkan mengenai masalah agroindustri di Jawa Timur, Indra memutuskan untuk membentuk sebuah tim guna merealisasikan ide tersebut. Sebagai Founder Sovipro, mahasiswa yang punya hobi melakukan riset ini turut menggerakkan pihak akademisi, bisnis, komunitas, dan pemerintah untuk sama-sama terlibat dalam project inisiatifnya.

Dari organisasi-organisasi yang ia ikuti, jalan Indra seakan terbuka lebar menuju masa depan yang lebih cerah. Ia pun tak bisa memungkiri bahwa berkat organisasi itulah, ia bisa mendapat koneksi yang membantu memenuhi kebutuhannya—tak terkecuali ketika ia meraih Bidikmisi.

“Saya tahu bagaimana cara menempatkan diri dalam satu situasi tertentu, saya mendapat pengetahuan dan pengalaman baru dari orang-orang hebat yang saya temui lewat organisasi, dan dari organisasi (pula) saya mendapat kemampuan bagaimana cara menjadi pemimpin bagi orang-orang sekitar,” imbuhnya.

Semoga kisah Indra ini dapat menginspirasi banyak pelajar dan mahasiswa lainnya, agar tak lupa memaksimalkan masa-masa mudanya dengan melakukan hal-hal yang positif.

Leave A Comment

Share via