||Catatan Mahasiswa Universitas Negeri Semarang: Dari Impian Masuk FK Hingga Jadi Aktivis Kemanusiaan

Catatan Mahasiswa Universitas Negeri Semarang: Dari Impian Masuk FK Hingga Jadi Aktivis Kemanusiaan

2019-05-16T16:21:43+00:00Cerita Komunitas|0 Comments

Sejak usia 13 tahun, perhatian Mika Anisatun Karimah sudah tertuju pada isu-isu kemanusiaan. Jiwa sosial itu pun menjadi salah satu alasan yang mendorong mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES) ini untuk mengikuti program Campus Ambassador Dana Cita.

Ketertarikan Mika pada dunia kemanusiaan pertama kali muncul ketika ia bergabung menjadi volunteer Palang Merah Indonesia (PMI). Hasrat yang kuat untuk menolong mereka yang membutuhkan, membuat ia bercita-cita untuk kuliah di Fakultas Kedokteran.

Orangtua Mika tentu saja mendukung apapun yang terbaik untuk sang anak. Keduanya lantas mendorong Mika untuk mengejar mimpinya tersebut di perguruan tinggi negeri (PTN). Alhasil, berbagai jalur seleksi ia coba, mulai dari SNMPTN hingga seleksi mandiri.

Sayangnya, seluruh rangkaian tes tersebut belum berhasil Mika taklukkan. Bahkan, ia dua kali gagal menembus ujian seleksi mandiri di jurusan yang diinginkan. Mika pun terpaksa harus mengubur angannya untuk menjadi dokter.

Cukup lama Mika kesulitan membendung rasa kecewanya. Begitu pula setelah akhirnya diterima di jurusan Pendidikan Bahasa Inggris UNNES, Mika sempat mencoba pindah ke Politeknik Ilmu Pemasyarakatan, tapi lagi-lagi gagal di tahap akhir.

Meski demikian, berkat motivasi yang berusaha keras ia tanamkan pada diri sendiri, Mika yang awalnya kurang menyukai program studinya saat ini, di semester 3 mulai bangkit dari kekecewaan hingga akhirnya meraih IPK dengan predikat Cum Laude.

Menyalurkan passion lewat berbagai organisasi

Terlepas dari kegagalannya untuk masuk jurusan impian, perempuan kelahiran Jepara, 20 tahun silam ini punya banyak cara lain untuk menjalankan misi kemanusiaan.

“Point of view-nya adalah bencana. Kita tahu bahwa belakangan ini negara Indonesia darurat bencana, dan untuk memulihkan hal tersebut butuh waktu yang tidak sebentar. Trauma berkepanjangan (para korban) juga dapat berlangsung lama. Oleh karena itu, (mereka) bukan hanya butuh bantuan material, tapi juga batin,” kata Mika menceritakan alasannya aktif dalam isu-isu kemanusiaan.

Kepedulian Mika ia tunjukkan lewat hal-hal kecil, seperti ikut bergotong royong membantu tetangga, serta ikut menjadi panitia bakti sosial untuk memberikan bantuan logistik kepada masyarakat yang kurang mampu.

Sampai saat ini, Mika juga masih menjadi volunteer PMI, tepatnya di Korps Sukarela Unit UNNES. Selain itu, ia juga menjadi Ketua Komunitas Pencinta Lingkungan bernama Jepara Green Generation.

“(Berorganisasi itu) sangat penting, mengingat dalam kehidupan kerja yang sesungguhnya kita akan berhadapan dengan berbagai macam orang, dan hal itu dapat kita latih melalui organisasi.”

Di luar kampus sendiri Mika ikut serta menjalankan misi Dana Cita untuk meningkatkan kualitas pelajar dan mahasiswa di Indonesia lewat pendidikan yang terjangkau. Ia mengikuti program Dana Cita Campus Ambassador batch kedua dan terpilih bersama beberapa mahasiswa lain dari UNNES.

Dana Cita | Mika - Mahasiswa Universitas Negeri Semarang

Menghadiri Dana Cita Inspiring Forum bersama teman-teman Campus Ambassador UNNES

Mika bercerita bahwa setelah diterima di UNNES, ia harus menyaksikan teman-temannya yang gugur dari seleksi penerimaan mahasiswa baru karena belum bisa membayar SPI (Sumbangan Pengembangan Institusi)–yang mana merupakan syarat untuk calon mahasiswa yang lolos lewat jalur mandiri.

“Oleh karena itu, saya tergugah untuk membantu mereka yang membutuhkan meskipun hanya dengan menyebarkan informasi,” imbuhnya.

Terpaksa cuti kuliah atau memilih program studi dan kampus lain yang tak diinginkan karena keterbatasan biaya, merupakan fenomena yang tak semestinya terjadi. Dana Cita percaya bahwa setiap pelajar berhak meraih mimpinya tanpa terkendala biaya kuliah yang mahal.

Mahasiswa yang menyukai solo traveling ini terinspirasi oleh R.A. Kartini, pahlawan nasional yang tak gentar memperjuangkan hak perempuan untuk meraih pendidikan.

Semangat itulah yang mendorong Mika untuk menjadi pejuang pendidikan seperti tokoh idolanya. Ia pun memendam keinginan untuk mengikuti program Pendidikan Profesi Guru di Daerah Terluar, Terdepan, dan Tertinggal (PPG SM3T).

Pada akhirnya, ada banyak cara untuk memperjuangkan hak-hak kemanusiaan di negara ini. Mika sendiri sebenarnya punya ketertarikan untuk berkarier di dunia startup–mengingat potensi besar yang dijanjikan oleh revolusi 4.0.

Menurut Mika, kontribusi di bidang kemanusiaan bisa dilakukan kapan saja. Toh, menjadi relawan di program-program sosial tak dibatasi oleh profesi maupun usia. Dengan begitu, tujuan karier dan misi kemanusiaan bisa berjalan beriringan.

“Saya memiliki prinsip hidup, “khairunnas anfa’uhum linnas,” yang artinya, “sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi yang lain.”

Leave A Comment

Share via