||Cerita Pengguna Pinjaman Pendidikan Dana Cita yang Mengejar Passion di Universitas Brawijaya

Cerita Pengguna Pinjaman Pendidikan Dana Cita yang Mengejar Passion di Universitas Brawijaya

2018-12-05T11:35:39+00:00Cerita Komunitas|0 Comments

“Saya harus membuktikan bahwa (mahasiswa) sastra itu gak serta merta jadi sastrawan. (Mahasiswa) sastra bisa jadi apa aja. Kita bisa jadi diplomat, kerja di Kemenlu, dan sebagainya. (Cakupannya) luas banget,” tegas Clinton, salah satu pengguna pinjaman pendidikan Dana Cita.

Berangkat dari keluarga sederhana di Karawang, Jawa Barat, Sri Clinton Nara Praja Wijaya, adalah seorang anak dengan rasa ingin tahu yang besar. Sejak kelas 1 SD, Clinton sudah jatuh cinta pada pelajaran sejarah. Guru dan teman-temannya sering dibuat terpukau dengan wawasannya yang luas tentang sejarah dunia.

Pola pikirnya yang kritis membuat Clinton menyukai debat, baik di lingkungan sekolah maupun bersama sang ayah di rumah. Meski sudah terbiasa diajak berdiskusi seputar ilmu filsafat, Ayah Clinton tak semudah itu merelakan anaknya yang begitu tertarik dengan filosofi Cina untuk mengambil jurusan kuliah yang sesuai dengan passion-nya.

Seandainya saat itu Clinton gagal meyakinkan kedua orangtuanya, tentu sekarang ia tidak sedang menjalani kuliah di Universitas Brawijaya (UB), Malang di jurusan Sastra Cina.

Hampir masuk perguruan tinggi swasta di Jakarta

Sejak SD sampai SMA, Clinton selalu masuk sekolah swasta. Tak heran kalau ia dan teman-temannya mempunyai mindset yang langsung mengarahkan mereka untuk melanjutkan pendidikan tinggi di instansi swasta juga.

Pada akhir 2017, Clinton sudah mulai mendaftar di beberapa perguruan tinggi swasta (PTS), di antaranya Universitas Parahyangan, BINUS, Universitas Multimedia Nusantara, dan Trisakti School of Management. Semuanya menerima Clinton dengan beasiswa uang pangkal.

Clinton mengakui bahwa keputusannya untuk mendaftar ke PTS sebenarnya tak terlepas dari pengaruh lingkungan sekolah dan dorongan orangtuanya.

Sebagai anak tunggal, Clinton menjadi satu-satunya harapan kedua orangtuanya. Ia pun mengambil program studi Ekonomi demi memenuhi keinginan mereka.

“Orangtua pasti pengin anaknya kalau kerja gampang. Makanya ambil ekonomi supaya nanti gampang kerja kantoran karena peluangnya banyak,” kata Clinton mengenang harapan ayah dan ibunya.

Clinton menjatuhkan pilihan pada program S1 Manajemen di (Trisakti School of Management) TSM yang berlokasi di Jakarta Barat—dengan pertimbangan uang semester yang terhitung masih lebih rendah dibandingkan pilihan lain. Ia bahkan sudah mendaftar ulang dan melakukan survei ke lokasi calon kampusnya itu.

Meski demikian, pada akhirnya Clinton memutuskan untuk melepaskan kesempatan tersebut demi mengejar passion-nya.

Dana Cita | Pengguna Pinjaman Pendidikan Dana Cita dari Universitas Brawijaya

Clinton bersama mahasiswa angkatannya di Universitas Brawijaya (photo by Sri Clinton)

Iseng ikut SBMPTN

Tak seperti kebanyakan teman-temannya yang sungguh-sungguh mengikuti SBMPTN, Clinton yang sebenarnya sudah diterima di TSM, daftar SBMPTN dengan alasan “coba-coba”, tanpa sepengetahuan kedua orangtuanya.

Penikmat musik klasik ini pun mengakui bahwa di saat orang lain serius menjejali diri mereka dengan soal-soal latihan SBMPTN, saat itu ia justru lebih senang menonton film-film dokumenter dan membaca artikel-artikel sejarah.

Pada hari ujian, Clinton—yang saat itu berstatus siswa jurusan IPA, tapi menjadi peserta SBMPTN untuk kelompok IPS—mengaku hanya mengerjakan soal-soal TPA dan Sejarah. Namun, ternyata dengan bermodalkan ilmu sejarah yang ia pelajari secara autodidak, Clinton tetap diterima di salah satu program studi pilihannya, yaitu Sastra Cina UB.

Meskipun sempat menyembunyikan kabar ini dari ayah dan ibunya, Clinton akhirnya mengaku dan langsung ditentang oleh keduanya. Terlebih ketika mereka mengetahui bahwa anak semata wayangnya itu mantap ingin melepaskan tawaran kampus lain yang sudah menerimanya.

Pertanyaan “kamu mau jadi apa di sastra?” bahkan sempat terucap oleh kedua orangtua Clinton.

Awalnya tak mudah bagi Clinton untuk mengubah pikiran kedua orang yang telah membesarkannya. Apalagi ia sadar bahwa larangan ayah dan ibunya tak lain karena mereka ingin yang terbaik untuk masa depan dirinya.

Namun, ketika Clinton melontarkan semua hal yang ia ketahui tentang filosofi Cina di hadapan kedua orangtuanya—yang menandai keseriusannya untuk mendalami ilmu tersebut, mereka pun terkesima. Orangtua Clinton sadar bahwa percuma menjejali seorang anak dengan sesuatu yang bukan minatnya. “Sudah dibayar mahal-mahal, tapi kalau isi otaknya filosofi Cina, ya buat apa?”

“Gak apa-apa kalau itu jalan yang kamu ambil. Yang penting satu hal, di UB kamu harus tunjukkan bakat kamu. Di situ kamu bukan belajar, tapi action. Apa yang kamu pelajari secara autodidak harus kamu keluarkan,” pesan sang ayah yang berusaha Clinton wujudkan saat kuliah di UB.

Perkenalan dengan Dana Cita

Meskipun kuliah di kampus negeri yang dikenal lebih murah daripada swasta, Clinton tetap mencari sumber dana untuk meringankan biaya kuliahnya di UB. Clinton pun memilih Dana Cita sebagai penyedia pinjaman pendidikan yang terjangkau.

Perkenalan Clinton dengan Dana Cita sebenarnya bermula ketika ia berencana masuk TSM. Beasiswa perguruan tinggi swasta yang kebanyakan hanya menutupi uang pangkal, dirasa belum cukup untuk Clinton. Ia pun mencari solusi untuk pembiayaan uang semester, setelah sebelumnya batal mencoba Bidikmisi.

Meskipun sudah tak asing dengan konsep student loan di Amerika Serikatyang ia kenal saat mempelajari sejarah dunia, Clinton baru pertama kali mengetahui soal pinjaman pendidikan di Indonesia lewat Dana Cita.

Tak mau mudah percaya dengan iming-iming pengajuan pinjaman yang mudah dan serba online, Clinton cukup lama menelusuri informasi tentang Dana Cita. Ia mencari review dan kumpulan artikel Dana Cita di media online, serta membandingkannya dengan beberapa penyedia pinjaman lain.

Dengan pertimbangan bunga cicilan yang terjangkau, Clinton lantas memilh menggunakan layanan Dana Cita untuk menutupi uang semester pertama di TSM. Tim Dana Cita pun membantu mengakomodasi kebutuhan Clinton, termasuk melanjutkan proses pinjaman untuk kuliah di perguruan tinggi lain.

“Manfaat Dana Cita cukup berpengaruh di kehidupan perkuliahan saya, karena hadirnya Dana Cita meringankan beban orangtua saya dalam membiayai perkuliahan saya, juga sebagai solusi praktis ketika keluarga saya mengalami kendala biaya kuliah. Pokoknya benar-benar membantu sekali. Big thanks to Dana Cita!”

Janji untuk mensejahterakan orangtua

Kondisi ayah dan ibu Clinton yang sudah tidak bekerja semakin mendorong upaya sang anak untuk sebisa mungkin berkuliah tanpa membebani keduanya—bukan hanya dalam hal finansial, tapi juga dengan memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang mahasiswa.

Mahasiswa semester 1 ini sudah punya bekal wawasan yang cukup tentang budaya, politik, dan filosofi Cina, sehingga ia hanya tinggal meningkatkan kemampuan bahasanya. Meski demikian, Clinton akan selalu ingat pesan sang dosen kepadanya.

“Kalau sudah punya ilmu seperti itu, kamu gak boleh sombong. Kamu harus berbagi sama teman-teman kamu. Segala sesuatu yang kamu punya jangan dipendam sendiri.”

Ia pun dengan senang hati berbagi mengenai tips belajar bahasa Mandarin kepada seluruh pembaca blog Dana Cita.

Di luar kelas, Clinton cukup aktif mengikuti forum penulisan karya ilmiah, terlibat dalam UKM keagamaan, hingga menjadi Campus Ambassador Dana Cita dan mengajak para pelajar atau mahasiswa sepertinya untuk turut merasakan manfaat pinjaman pendidikan yang terjangkau.

Dana Cita | Pengguna Pinjaman Pendidikan Dana Cita dari Universitas Brawijaya

Foto bersama anggota UKM Keluarga Mahasiswa Katolik Fakultas Ilmu Budaya (photo by Sri Clinton)

Meski sudah berhasil menjalani passion-nya, Clinton tak terlalu berambisi untuk mengambil kesempatan yang sebenarnya bisa semakin mengasah kemampuan dan wawasannya, seperti ikut student exchange ke luar negeri. Orangtua adalah salah satu yang jadi pertimbangan Clinton untuk menahan keinginan tersebut.

Jika ditanya soal rencananya setelah lulus, Clinton mengaku ingin fokus mensejahterahkan kedua orangtuanya dulu, baik dengan bekerja di perusahaan atau merintis usaha sendiri. Tentu saja skill bahasa asingnya akan sangat berguna seandainya ia ingin berkomunikasi dengan pedagang dari Cina untuk mengimpor barang dagangannya.

Jika cita-cita itu sudah terwujud, barulah Clinton ingin masuk ke ranah diplomasi—sesuai komitmennya untuk mengubah pandangan dunia yang kurang baik terhadap Indonesia. Upaya ini bahkan secara perlahan ia lakukan dari lingkungan terdekatnya.

Belajar dari masa lalu

Menurut Clinton, kuliah adalah tempat pendewasaan diri sebelum kita masuk ke dunia kerja. Karenanya, ia merasa penting untuk menghidupkan kembali budaya dan tata krama yang sudah mulai redup, misalnya dimulai dari cara berkomunikasi dengan dosen.

Pengagum filsuf asal Tiongkok, Konfusius ini pun tak segan untuk speak up dan mengingatkan teman-temannya yang lupa akan pentingnya menjaga tata krama tersebut.

Meski sekelompok orang kurang suka dengan sikapnya yang cukup vokal, Clinton tak pernah gentar. Ia siap menerima konsekuensi daripada harus bersikap apatis dan membiarkan teman-temannya melakukan kesalahan.

Di lingkungan kampus atau organisasi, Clinton memang dikenal cukup punya influence. Namun, siapa sangka sebelum jadi mahasiswa, Clinton punya masa lalu yang kurang menyenangkan.

Bukan datang dari latar belakang keluarga yang berkecukupan, Clinton merasa kesulitan bergaul dengan para siswa di sekolahnya. Dari SD sampai SMA, ia bahkan kerap dijauhi oleh teman-temannya.

Namun, Clinton sudah berusaha melupakan masa-masa kelam tersebut, dan hanya ingin fokus pada kehidupan sebagai mahasiswa baru yang sedang menjalani passion-nya.

Lantas, apakah keputusan Clinton untuk mengejar passion sampai ke kota Malang memang tepat? Menurut Clinton, ia baru bisa mengetahui jawabannya setelah lulus kuliah nanti.

“Saya belum bisa menilai ini suatu penyesalan atau anugerah. Tuhan sudah kasih, ya saya jalankan. Ibaratnya orang baru berpijak di satu kota, gak mungkin langsung tahu jalan ke mana-mana. Saya akan berusaha mengeksplor dulu apa yang saya punya, apa yang saya sudah pelajari.”

Semoga impianmu untuk menjadikan wajah Indonesia lebih baik di mata dunia—lewat skill dan wawasanmu yang luas—segera terwujud ya, Clinton!

Leave A Comment

Share via