||Dari Sekolah di Finlandia sampai Jadi Mahasiswa Teknik Informatika UNPAD

Dari Sekolah di Finlandia sampai Jadi Mahasiswa Teknik Informatika UNPAD

2019-02-19T10:24:10+00:00Cerita Komunitas|0 Comments

Sejalan dengan kebutuhan manusia di era digital yang kian berkembang, tenaga kerja yang andal di bidang teknologi informasi menjadi sangat diburu. Hal inilah yang telah lama diamati oleh Ibnu Ahsani, mahasiswa Teknik Informatika UNPAD (Universitas Padjadjaran).

Perjalanan Ibnu hingga masuk perguruan tinggi negeri yang berlokasi di Jatinangor, Jawa Barat ini mungkin tak seperti kebanyakan pelajar lain. Di saat teman-teman seangkatannya sedang mulai berkuliah tahun 2015, Ibnu masih harus mengikuti sekolah persiapan ujian paket C selama setahun.

Lahir di Jakarta 22 tahun silam, Ibnu dibesarkan oleh orangtua dengan profesi yang menuntut keluarganya untuk ikut berpindah-pindah tempat tinggal. Selain Indonesia, anak kedua dari lima bersaudara ini pun pernah merasakan tinggal di tiga negara.

Masa-masa Sekolah Dasar sempat Ibnu lewati di Myanmar dan Finlandia. Saat SMA pun ia hanya menghabiskan 1,5 tahun sekolah di Jakarta sebelum akhirnya mengikuti sang ayah yang dipindahtugaskan ke Filipina.

Sistem pendidikan yang berbeda membuat Ibnu lulus lebih cepat. Tahun 2014, ia sudah menyandang status mahasiswa di jurusan Computer Science Mapúa University Manila. Namun, tak sampai setengah tahun di sana, kondisi keluarga mengharuskan Ibnu untuk meninggalkan studinya dan kembali ke Jakarta.

Tantangan ikut ujian SBMPTN

Tiba di Tanah Air awal tahun 2015, Ibnu langsung bersiap-siap ikut ujian masuk perguruan tinggi. Sayangnya, permohonan penyetaraan ijazah Ibnu ditolak oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ia tak bisa menggunakan ijazah SMA-nya di Manila untuk mendaftar ke perguruan tinggi dalam negeri.

Setelah mempertimbangkan solusi yang ada, Ibnu memutuskan untuk mengambil gap year alias menunda kuliahnya demi mengejar ijazah paket C yang sudah jelas diakui oleh pemerintah.

Sekolah paket C ini Ibnu jalani di PKBM Negeri 12 Tengah Jakarta Timur, bersamaan dengan persiapan SBMPTN. Jadwal yang tak sepadat sekolah umum memungkinkan ia untuk mengambil program bimbingan belajar, serta berlatih soal-soal SBMPTN di sela-sela waktunya.

Diakui Ibnu, belajar kelompok menjadi cara yang paling efektif baginya. Ia merasa materi SBMPTN yang banyak akan lebih mudah dipahami jika dipecahkan bersama-sama. Apalagi setiap anggota kelompok belajar pasti punya materi yang dikuasai masing-masing.

Gaya belajar Ibnu sendiri cenderung lebih banyak praktek. Ia mengaku sulit menangkap teori tanpa mengerjakan soalnya secara langsung.

Meski demikian, cara tersebut justru sukses mengantarkan Ibnu menjadi mahasiswa Teknik Informatika UNPAD. Seleksi yang terbilang ketat—di mana ia bersaing dengan pelajar-pelajar lain yang bekal persiapannya mungkin lebih matang, nyatanya berhasil ia taklukkan.

Menemukan passion pada teknologi

Masuk sekolah penerbangan sempat jadi impian Ibnu sewaktu sekolah. Sayang, syarat kesehatan mata yang tak bisa dipenuhi memaksa dirinya untuk berganti haluan.

Setelah melakukan riset tentang tenaga ahli yang dibutuhkan dunia, Ibnu pun mantap memilih Computer Science sebagai jurusan kuliahnya di Filipina, dan kemudian Teknik Informatika UNPAD saat mendaftar SBMPTN.

Sebelum bergelut dengan Computer Science, Ibnu mengaku tidak terlalu mengerti komputer. Ketertarikan justru datang setelah ia menjalani studinya di Filipina.

Berbicara lebih jauh tentang ilmu komputer dan teknologi informasi, menurut Ibnu tidak dibutuhkan pengetahuan dasar untuk masuk ke kedua program studi tersebut. Yang lebih dibutuhkan adalah kemampuan untuk mempelajari hal-hal baru sendiri.

“Di ilmu komputer gak ada yang ‘stay’. Setiap tahun pasti ada tren dan tool baru yang dipakai, dan gak mungkin tool ini selalu diperbarui di kurikulum jurusan. Jurusan cuma menyediakan dasar-dasarnya saja, selebihnya dikembalikan lagi ke mahasiswanya,” ungkap Ibnu.

Ibnu pun kerap mengisi waktu luangnya dengan ikut kursus-kursus online gratis guna memperkaya skill-nya. Setiap pergantian semester ia sudah menentukan skill baru apa yang ingin dipelajari selama liburan. Inisiatif dan semangat belajarnya yang tinggi ini patut diacungi jempol!

Ibnu merasa beruntung karena menemukan passion-nya di bidang yang memang ia geluti, sehingga kuliah sama sekali tidak menjadi beban. Bahkan, waktu luang pun ia isi dengan hiburan yang bermanfaat, di antaranya menyaksikan video di channel-channel YouTube seperti Linus Tech Tips dan TechLinked, serta mendengarkan podcast yang berhubungan dengan teknologi.

Dana Cita | Mahasiswa Teknik Informatika UNPAD

Menghadiri acara TechDay UNPAD 2018 yang diselenggarakan oleh Huawei bertemakan “IOT and its applications” (Photo by Ibnu)

Tentang Dana Cita dan pendidikan di Finlandia

Berbicara mengenai pentingnya wadah pengembangan diri anak muda, Ibnu setuju bahwa organisasi itu penting. Namun, ia menyarankan agar mahasiswa tidak serta merta menyepelekan prestasi akademik.

Ibnu sendiri sempat terlibat di Himpunan Mahasiswa dan sejumlah kepanitiaan atau kegiatan non-akademik lainnya. Namun, pada akhirnya ia menyadari bahwa ada sejumlah unsur organisasi yang kurang sesuai dengan kepribadiannya.

Meski demikian, Ibnu tak segan untuk keluar dari zona nyamannya dan mencari kegiatan ekstrakurikuler di luar kampus. Dari situlah Ibnu bertemu dengan Dana Cita.

Merasa sejalan dengan misi Dana Cita untuk membuka akses pendidikan tinggi di Indonesia, Ibnu memutuskan untuk mengikuti seleksi Campus Ambassador.

Kepedulian Ibnu terhadap pendidikan di Indonesia secara tidak langsung dipengaruhi oleh pengalaman studinya di Finlandia—negara di Eropa yang terkenal dengan sistem pendidikannya yang sangat maju.

Kepada Dana Cita, Ibnu sempat membagikan beberapa fakta menarik tentang pendidikan di Finlandia, berdasarkan pengalaman yang ia dapat dari sekolahnya:

  1. Sekolah-sekolah di Finlandia tidak membuat peraturan mengenakan seragam; anak-anak bebas mengekspresikan diri sesuai kreativitas mereka dan tidak dituntut harus sama dengan yang lain.
  2. Metode pembelajarannya unik, di mana setiap 45 menit sekali murid diharuskan untuk keluar kelas. Selama 15 menit di lapangan, mereka diberi kebebasan untuk bermain, berinteraksi dengan anak-anak lain, serta mengeluarkan emosi mereka.
  3. Murid jarang diberi PR dan setiap mata pelajaran dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang sangat menunjang.
  4. Tak ada sistem penjurusan yang memaksa murid untuk memilih satu dari yang lain, misalnya IPA atau IPS, sehingga murid tidak merasa terjebak. Mereka diberi kebebasan untuk menentukan arah masa depannya.
  5. Biaya pendidikan, makanan, dan transportasi gratis sehingga setiap anak dapat fokus pada studinya.
Dana Cita | Mahasiswa Teknik Informatika UNPAD

Bermain sledding di taman dekat rumah Ibnu di Helsinki saat musim dingin 2009 (Photo by Ibnu)

Mungkin tidak semua metode yang diterapkan di Finlandia dapat ditiru oleh Indonesia. Namun, bukan berarti pelajar dan mahasiswa dalam negeri lantas kalah saing dari mereka yang menempuh pendidikan di luar negeri.

Pemerintah sendiri terus bergotong royong dengan berbagai pihak dalam menghadirkan pinjaman pendidikan terjangkau, sebagai jalan keluar bagi para pelajar/mahasiswa yang merasa kesulitan menggapai cita-citanya karena biaya.

Atas dasar itulah Ibnu bergabung dengan keluarga besar Dana Cita, tak hanya sebagai Campus Ambassador, tapi juga sebagai Software Engineer Intern.

Saat ini Ibnu memang tengah mengikuti program magang di Dana Cita sambil mengisi waktu liburnya di Jakarta. Di bawah bimbingan para anggota tim Tech, Ibnu dipercaya mengerjakan project pembuatan dashboard untuk menunjang kerja tim Operasional Dana Cita.

Ibnu percaya bahwa startup seperti Dana Cita memiliki lingkungan dan budaya yang dapat mendukung minat dan kemampuannya di bidang teknologi. Itulah mengapa ia bertekad setelah lulus nanti ingin mengumpulkan ilmu sebanyak-banyaknya di perusahaan startup selama dua tahun, sebelum kemudian mencari beasiswa S2 di luar negeri, dan kembali ke Indonesia untuk mendirikan startup teknologi miliknya.

Semoga berhasil, Ibnu!

Leave A Comment

Share via