||Dari yang Tak Fasih Bahasa Inggris Hingga Jadi Delegasi MUN di Harvard University

Dari yang Tak Fasih Bahasa Inggris Hingga Jadi Delegasi MUN di Harvard University

2019-06-12T15:30:54+00:00Cerita Komunitas|1 Comment

Lahir dan tumbuh sebagai anak Sumatra, Agrian Ratu Randa merantau ke Bandung dengan keinginan sederhana, yaitu mendalami ilmu komunikasi. Setelah masuk Universitas Padjadjaran, Agri yang awalnya tak fasih berbahasa Inggris malah semakin termotivasi untuk mengasah potensi dirinya, hingga ia berhasil menjadi delegasi MUN di Harvard University, Amerika Serikat.

Bahasa Inggris bukanlah bahasa yang biasa dipergunakan di lingkungan keluarga maupun pertemanan Agri. Pembekalan kemampuan dasar bahasa asing ini kurang ia dapatkan di sekolahnya di Palembang. Sampai SMA, Agri masih malu-malu karena merasa kesulitan untuk mempraktikkan bahasa Inggris. Namun, semua itu berubah setelah masuk kuliah.

Pilihan mengejar passion berbuah manis

Sebelum masuk Universitas Padjadjaran (UNPAD), Agri sempat didorong oleh orangtuanya untuk masuk Fakultas Kedokteran. Ia bahkan sudah mendapatkan beasiswa di Fakultas Kedokteran Universitas Islam indonesia.

Akan tetapi, menyadari pentingnya menempuh pendidikan sesuai passion, Agri lantas menargetkan untuk masuk jurusan yang sesuai dengan minatnya, yakni Ilmu Komunikasi lewat jalur SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri).

Di tengah keraguan orang-orang sekitar yang menganggap remeh ilmu komunikasi, Agri justru melakukan riset mendalam tentang jurusan tersebut. Ia menemukan bahwa perkembangan teknologi digital dan media sosial telah mendorong kebutuhan industri terhadap lulusan ilmu komunikasi. Fakta tersebut membuat Agri semakin yakin dengan pilihannya.

Tak main-main, Agri yang merupakan siswa kelas IPA rela terbang ke Jakarta setelah Ujian Nasional untuk mengikuti kursus intensif persiapan SBMPTN. Dalam waktu 1,5 bulan, ia berhasil melahap seluruh materi soal untuk program studi IPS dengan keinginan yang kuat untuk lolos.

“Akan banyak hal positif yang didapatkan ketika pilih jurusan yang benar-benar kita sukai dan nikmati, dan ternyata alhamdulillah it works!”

Keputusan Agri untuk mengejar passion ternyata berbuah manis. Di UNPAD, ia tidak hanya berhasil menyalurkan ketertarikannya pada ilmu komunikasi, tapi juga berani mengasah kemampuannya di level yang lebih tinggi, yaitu level internasional.

Dana Cita | MUN Harvard University - volunteer Thailand

Pengalaman Agrian menjadi pengajar volunteer di Thailand (Photo by Agrian)

Manfaatkan setiap kesempatan

Lingkungan yang mendukung ditambah kesempatan untuk berkembang yang terbuka lebar, memotivasi Agri agar meningkatkan kapasitas dirinya. Sebagai anak komunikasi, Agri menyadari betapa pentingnya penguasaan bahasa asing di era modern ini. Demi bahasa Inggris yang lebih fasih, ia pun belajar giat dengan memanfaatkan media film, lagu, dan buku berbahasa Inggris.

Alhasil, meski masih jadi MABA alias mahasiswa baru, Agri sudah mulai coba-coba ikut program pertukaran pelajar ke luar negeri, salah satunya menjadi volunteer sebuah project pendidikan di Thailand.

“Semua kesempatan yang ada dalam hidupku harus aku manfaatkan semaksimal mungkin. No matter what the result is, yang penting aku selalu memberikan usaha terbaik.”

Tak berhenti di situ, laki-laki kelahiran 20 Agustus 1997 ini terus mencari tantangan yang lebih besar lagi. Agri pun memutuskan untuk mengikuti UNPAD MUN (Universitas Padjadjaran Model United Nations), sebuah organisasi simulasi sidang PBB yang dikelola oleh mahasiswa UNPAD.

Setiap tahunnya UNPAD MUN mengadakan seleksi Harvard National Model United Nations yang terbuka untuk seluruh mahasiswa UNPAD dari berbagai jurusan. Pada tahun 2018, Agri terpilih menjadi delegasi sekaligus mahasiswa termuda yang dikirim ke Boston, Massachusetts untuk mewakili kampusnya di ajang bergengsi tersebut.

Perjalanan menuju pencapaian yang membanggakan itu tentunya tidak mudah. Agri harus melalui seleksi CV, esai, motivation letter, wawancara, focus group discussion, serta mini caucus alias simulasi sidang PBB dalam lingkup kecil.

Siapa sangka, Agri yang mengaku ketika SMA masih “struggling” dengan bahasa Inggris, berhasil menginjakkan kaki di Negeri Paman Sam tepat di tahun keduanya sebagai mahasiswa UNPAD.

Bahkan, bahasa Inggris itulah yang mempertemukan Agri dengan para pemuda delegasi Harvard MUN lain dari berbagai belahan dunia, untuk mendiskusikan isu sustainable development alias pengembangan berkelanjutan dengan fokus pada pendidikan.

Dana Cita | MUN Harvard University

Dana Cita | MUN Harvard University

Para delegasi Harvard Model United Nations (Photo by Agrian)

Perjalanan Agri ke Amerika Serikat meninggalkan banyak pengalaman yang berkesan. Selain Massachusetts, ia juga mengunjungi negara bagian lain seperti Pennsylvania, New Jersey, New York, dan Washington DC, di mana ia belajar banyak tentang keberagaman.

Bagi Agri, kemampuan bahasa Inggris yang memadai merupakan hal yang paling mendasar untuk bisa eksis di program-program internasional seperti student exchange atau conference. Namun, ia membantah bahwa level kemampuan bahasa Inggris seseorang ditentukan oleh pengetahuan grammar alias tatabahasa yang bagus.

“Kuncinya adalah kita ngerti yang orang lain omongin dan mereka ngerti yang kita omongin. Grammar itu penting, tapi yang lebih penting understanding each other.”

Keliling dunia secara cuma-cuma

Banyak yang mengira bahwa keikutsertaan Agri di berbagai kegiatan di luar negeri dibiayai oleh kedua orangtuanya. Agri pun menegaskan bahwa ia tak membiarkan mereka mengeluarkan uang sepeser pun untuk memberangkatkannya mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut.

Salah satu Campus Ambassador Dana Cita ini bercerita bahwa ia selalu mencari perusahaan yang bersedia mensponsori setiap program yang ia ikuti, salah satunya International Conference on Social Sciences and Humanities yang berlangsung baru-baru ini.

Lewat proposal dan presentasi yang ia persiapkan dengan matang, Agri menjelaskan bagaimana program yang diadakan di Sydney itu dapat mendatangkan keuntungan bagi perusahaan. Dengan kata lain, ia bukan sekadar “minta dibiayai”, tapi juga menawarkan solusi atau manfaat untuk perusahaan.

“Asalkan kamu ada keinginan dan usaha untuk apply ke berbagai perusahaan, pasti ada jalan. Jadi, gak perlu takut.”

Agri mengingatkan pembaca blog Dana Cita agar tidak melihat biaya sebagai penghalang untuk berprestasi. Ia berprinsip bahwa yang terpenting adalah bagaimana kita mengembangkan diri menjadi seseorang yang punya nilai jual.

“Kalau mau mengumpulkan prestasi di tingkat internasional, yang penting bukan cuma bermimpi, tapi juga planning.”

Agri mencontohkan bagaimana ia selalu membuat perencanaan dalam hidupnya. Di sana ia mengukir tujuan yang ingin dicapai dan langkah-langkah yang harus ia tempuh untuk mencapainya. “Biaya itu masalah ke sekian. Yang penting adalah keinginan,” tegasnya.

Dana Cita | MUN Harvard University - Future Leader Summit

Berpartisipasi dalam acara Future Leader Summit di Semarang (Photo by Agrian)

Anak ketiga dari empat bersaudara yang baru saja meraih gelar sarjananya ini sedang mempersiapkan diri untuk melanjutkan kuliah S2. Ia punya cita-cita yang mulia, yaitu membantu anak-anak Indonesia yang kekurangan dana pendidikan.

Agri memang tak pernah mengalami kesulitan ini secara langsung, tapi ia menyaksikan sendiri perjuangan orang-orang di sekitarnya untuk membiayai sekolah atau kuliah mereka. Tak heran kalau saat ini Agri juga menjadi bagian dari anggota komunitas Dana Cita yang giat menyebarluaskan solusi pembiayaan pendidikan.

Dimulai dari project kecil yang ditujukan untuk orang-orang terdekat, Agri bermimpi dengan bekal ilmu dan pengalaman yang ia kumpulkan, suatu saat nanti ia dapat mendirikan sebuah foundation atau lembaga pendidikan nonprofit bernama The Ratu Randa’s.

One Comment

  1. Vitalia June 29, 2019 at 08:40 - Reply

    Hai, saya Vita
    salam kenal kak Agri
    setelah membaca kisah inspirasi kakak,saya jadi semangat untuk belajar meningkatkan kemampuan bahasa Inggris saya yang masih kurang.Kisah kakak benar – benar menginspirasi.
    Dana Cita luar biasa membant.

Leave A Comment

Share via