||Di Balik Prestasi Gemilang Pendiri Startup Muda Asal Institut Teknologi Bandung

Di Balik Prestasi Gemilang Pendiri Startup Muda Asal Institut Teknologi Bandung

2019-04-18T16:48:11+00:00Cerita Komunitas|0 Comments

Bisnis startup yang terus tumbuh seakan memacu anak-anak muda untuk mengikuti jejak para pendahulunya. Ide-ide inovatif untuk memecahkan permasalahan masyarakat lantas lahir dari banyak pendiri startup muda, salah satunya Andri.

Andri merupakan mahasiswa Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB). Selain mengerjakan skripsi, saat ini Andri juga tengah menjalankan bisnis startup-nya yang bernama invesproperti.id.

Merealisasikan ide bisnis menjadi sebuah startup yang berhasil meraih pendanaan awal, sambil aktif berkuliah dan menorehkan prestasi akademik yang gemilang tentu bukan perkara mudah. Namun, Andri berhasil membuktikan bahwa pencapaian itu bukan hal yang mustahil.

Sekilas tentang invesproperti.id

Ide untuk melahirkan invesproperti.id datang dari Andri beserta sang CEO yang memiliki background pekerjaan di industri properti. Bertemu saat sama-sama mengikuti sebuah kompetisi bisnis selama tiga hari, keduanya pun memulai startup tersebut pada bulan Juni 2018.

Pada dasarnya, Andri memang sudah tertarik dengan dunia fintech. Hal itu juga yang menjadi salah satu alasannya mengikuti program Campus Ambassador Dana Cita. Ditambah lagi ia berharap bisa belajar banyak dari founders Dana Cita, yang merupakan lulusan kampus Ivy League di Amerika Serikat.

Secara singkat, invesproperti.id merupakan platform pendanaan project yang dimiliki oleh pengembang properti berskala mikro dan kecil. Lewat platform tersebut, mereka kemudian dihubungkan dengan investor maupun masyarakat luas untuk mendapatkan funding.

Tak ingin sekadar ikut-ikutan tren startup fintech yang semakin meluas, Andri memastikan bahwa bisnisnya memiliki keunggulan-keunggulan yang membedakannya dari startup fintech lain.

Selain didirikan oleh ahli di bidang properti, serta menggunakan asas syariah, model bisnis invesproperti.id juga dinilai memiliki risiko yang relatif lebih kecil.

“Properti itu kan asset-backed, jadi di-back up sama aset yang berwujud. Dengan begitu, in case investasi propertinya gagal, tetap ada dana yang bisa dilikuidasi.”

Saat ini, mahasiswa yang hobi hiking ini mengaku sedang fokus untuk mendapatkan seri pendanaan berikutnya untuk invesproperti.id. Itu sebabnya, ia gencar membangun networking dengan venture capital, angel investor, maupun mentor-mentor di startup incubator.

“Untuk mempersiapkannya kita harus matang secara tim, strategi marketing, dan juga memiliki pendanaan yang kuat,” lanjutnya.

Dana Cita | pendiri startup muda

Andri dan tim kecilnya di kantor invesproperti

Siswa olimpiade yang pandai melihat peluang

Sejak duduk di bangku SMP dan SMA, Andri memang sudah senang berbisnis. Setiap peluang yang ada ia manfaatkan dengan baik, mulai dari menjajakan kue buatan sang ibu, berjualan pulsa, t-shirt, dan sebagainya.

Di usianya yang masih belasan tahun, Andri mampu meraih omzet Rp1 juta dalam seminggu. Bahkan, penghasilannya itu berhasil membiayainya untuk mengikuti kursus bahasa Jerman.

Selain memiliki jiwa bisnis, sejak kelas 10 Andri sudah dikenal memiliki karakter yang rajin dan ulet. Ia sangat menyukai mata pelajaran Ekonomi, serta dipercaya untuk mewakili sekolah dalam mengikuti Olimpiade Sains Nasional.

Berkat kepercayaan dari guru dan teman-teman yang sering mengajaknya belajar bersama, Andri semakin termotivasi untuk giat belajar setiap hari karena ia harus mengerti dulu sebelum mengajari orang lain.

Karena tergolong memiliki gaya belajar visual auditori, Andri lebih senang menyalurkan rasa penasarannya yang tinggi dengan menonton video. Ia sering mengikuti kursus di berbagai platform online, serta mencari tahu hal-hal baru di Internet.

Curiosity adalah salah satu kunci prestasi Andri yang gemilang, baik dalam bidang akademik, non-akademik, maupun bisnisnya.

Meski demikian, penyuka musik klasik ini juga tak menyangkal bahwa lingkungan memiliki pengaruh yang besar terhadap keberhasilannya. Seandainya tidak kuliah di ITB, ia mungkin tak akan berada di posisinya saat ini.

“Networking dan fasilitas (yang disediakan) mendorong aku untuk kenal banyak orang. Ekosistemnya bagus dan dekat dengan banyak VC (venture capital) atau incubator. ITB juga basisnya teknologi, jadi gampang kalau mau cari SDM IT.”

Pengalaman hidup yang menguatkan

Seseorang yang memutuskan untuk berwirausaha harus selalu siap dengan risiko gagal. Andri pun sudah mengalami itu sejak masih SMP. Dagangan yang tidak laku kerap membuatnya putus asa dan merasa buang-buang waktu.

Titik baliknya adalah ketika sang ayah meninggal dunia tepat dua minggu sebelum Ujian Nasional SMA. Meski terpukul, Andri langsung memotivasi dirinya untuk bangkit dan menjadi pribadi yang lebih dewasa karena harus menjadi tulang punggung keluarga.

Dari luar, Andri tampak sebagai seorang high achiever yang berambisi tinggi. Namun, ternyata di balik itu ia punya tujuan jangka panjang yang sederhana.

Datang dari keluarga broken home, diam-diam sebenarnya Andri hanya ingin membangun sebuah keluarga yang bahagia. Ia sadar bahwa untuk bisa mencapainya, ia harus bisa hidup bertanggung jawab, mapan secara finansial, dan punya pola pikir yang matang. Atas dasar itulah Andri mempersiapkan dirinya sejak dini untuk meraih masa depan yang diimpikannya.

Selain mengembangkan tim kecilnya untuk menciptakan pertumbuhan bisnis startup yang eksponensial, Andri juga kerap mengikuti berbagai event seperti kompetisi startup, workshop, serta seminar-seminar untuk memperluas networking dan menambah wawasan.

Hebatnya, tak hanya bersinar di luar kampus, Andri juga mampu menjaga prestasi akademiknya dan meraih IPK 3,75.

Dengan bekal ilmu dan pengalaman yang ia kumpulkan selama ini, Andri berharap bisa terus membangun usaha yang dapat memberikan impact di masa yang akan datang, serta menjawab permasalahan-permasalahan yang ada di Indonesia.

Organisasi KSEP (Kelompok Studi Ekonomi dan Pasar Modal)

Pesan untuk calon pendiri startup muda

Selain terus belajar dari pengusaha-pengusaha sukses yang menginspirasi, Andri juga tidak pernah pelit membagikan ilmunya kepada orang-orang sekitar. Di lingkungan kampus, Andri bahkan menjadi mentor di organisasi bernama Student Catalyst.

Kepada teman-teman pembaca blog Dana Cita, Andri membagikan tiga pelajaran utama yang harus diingat ketika mendirikan startup:

Pertama, kemampuan design thinking. Ada lima tahap yang penting untuk dipraktikkan, yaitu empathize, define, ideate, prototyping, dan testing.

“Kita harus mengerti problem yang mau di-solve, apakah kita capable atau ngga, lalu testing ke market untuk tahu apakah mereka perlu atau ngga. Baru dari situ kita bangun tim yang oke.”

Kedua, sering belajar. Ikut seminar, workshop, dan kenalan dengan orang baru.

Ketiga, passionate about what we are doing. Andri mengingatkan bahwa startup journey kita mungkin bisa berjalan sampai beberapa tahun ke depan. Jadi, kita harus punya daya tahan dan passion yang tinggi terhadap apa yang dijalankan.

Sepintas mendirikan startup di era teknologi saat ini tampak mudah. Namun, ada dua tantangan terbesar yang sering kali dihadapi oleh para pendiri startup, yaitu kedisiplinan dan motivasi.

Yang menentukan kecepatan kerja, target, dan kemauan untuk belajar adalah si pengusaha itu sendiri. Ketika ia sedang menghadapi masalah, bisa jadi yang terkena dampak adalah bisnisnya.

“Punya motivasi dan nilai untuk drive diri kita agar terus maju itu penting. Karena banyak orang yang akhirnya berhenti di tengah jalan atau tidak percaya lagi dengan visi yang ia miliki di awal.”

Terakhir, Andri berpesan bahwa anak muda harus tahu betul apa yang mereka suka dan kuasai. Mengingat persaingan tenaga kerja yang sangat tinggi, maka akan lebih baik kalau kita benar-benar jago di satu hal, daripada mempelajari semuanya, tapi tidak ada yang dikuasai.

Leave A Comment

Share via