||Hadirkan Solusi bagi Industri Pertambangan melalui Data Science

Hadirkan Solusi bagi Industri Pertambangan melalui Data Science

2019-06-14T13:50:51+00:00Cerita Komunitas|0 Comments

Di tengah pertumbuhan inovasi di bidang teknologi dan maraknya tren big data, kebutuhan akan tenaga kerja yang kompeten dalam mengelola data juga semakin meningkat. Hal itu disadari oleh Reza Bikwanto, seorang profesional yang tengah bekerja di sektor pertambangan sambil mengikuti akademi data science.

Data science merupakan sebuah disiplin ilmu baru yang mempelajari cara menganalisis dan mengolah data, hingga menghasilkan insight yang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan bisnis perusahaan.

Profesi Data Scientist memang kerap ditemukan di lingkup bisnis digital. Namun, ternyata pemanfaatan big data—yakni kondisi data dengan volume dan pertumbuhan yang besar—juga kian menjadi kebutuhan di sektor pertambangan.

Menariknya profesi di bidang tambang

Sejak lulus dari Sekolah Tinggi Teknologi Nasional (STTNAS) Yogyakarta (kini Institut Teknologi Nasional) pada tahun 2014, Reza langsung berkarier di perusahaan tambang batu bara, sesuai latar belakang pendidikannya, yakni S1 Teknik Geologi.

Pekerjaan di sektor pertambangan dikenal dengan gajinya yang “selangit”, tapi tuntutan dan risiko kerjanya juga tinggi. Padahal, kondisi nyata industri ini tak selalu demikian, salah satunya seperti profesi yang digeluti oleh Reza.

Setelah menyelesaikan kontrak kerjanya selama dua tahun, ia kemudian beralih dari pekerjaan yang menuntut banyak kunjungan lapangan, menjadi seorang konsultan yang memungkinkannya untuk bekerja secara remote alias dari jarak jauh.

Pria asal Sumatra Selatan ini bertugas menangani berbagai perusahaan tambang yang ingin melakukan kegiatan eksplorasi hingga produksi. Melalui data-data hasil survei di lokasi tambang, ia dapat memberikan laporan dan rekomendasi untuk kebutuhan para klien.

Sistem dan waktu kerja yang cukup fleksibel memungkinkan Reza untuk bekerja sambil menjalankan bisnis online-nya. Di tengah kegiatan-kegiatan tersebut, ia bahkan masih bisa mengikuti program akademi intensif data science.

Berinisiatif belajar data science

Menurut Reza, banyak perusahaan tambang yang masih memakai cara lama dan belum mengikuti perkembangan zaman. Dalam pekerjaannya yang banyak berurusan dengan data, ia pun sering menjumpai kondisi-kondisi yang menghambat operasional perusahaan.

Dalam penggunaan alat tambang, misalnya, umur pakainya kerap ditentukan berdasarkan asumsi. Alhasil, ketika alat tersebut rusak secara tiba-tiba, kinerja perusahaan lah yang terkena dampaknya. Produksi terpaksa dihentikan dan perusahaan pun mengalami kerugian.

Padahal, kondisi dan kelayakan sebuah alat bisa diprediksi dengan memanfaatkan data-data yang ada. Data yang dihasilkan peralatan tersebut mencakup metrik time series seperti tekanan mesin, suhu, arus, alarm, dan lain-lain.

“Di bidang geologi itu semua pakai data, baik di awal proses tambang maupun saat produksi,” ujar Reza.

Satu mesin atau alat bisa memiliki ratusan hingga ribuan metrik data dan menghasilkan puluhan ribu catatan khusus dengan informasi waktu yang spesifik. Data-data tadi bila diolah menggunakan machine learning, bisa membantu perusahaan dalam mengantisipasi dan memperbaiki suatu alat sebelum kerusakan terjadi.

Seperti yang kita ketahui, setiap perusahaan memiliki target produksinya masing-masing dalam kurun waktu harian, mingguan, bulanan, bahkan tahunan. Jika mereka bisa memprediksi kapan suatu alat akan mengalami kerusakan, mereka bisa melakukan antisipasi dini guna mempertahankan produktivitas.

Berangkat dari kondisi ini, Reza pun merasa perlu mendorong perubahan pada sistem kerja perusahaannya. Ia percaya bahwa dengan kekuatan data, seseorang bisa mengetahui apabila suatu daerah memiliki cadangan tambang baru—berdasarkan keragaman batuan dan sifat-sifat fisik lainnya.

Meski demikian, tentu dibutuhkan banyak sekali data untuk bisa mencapainya. Penelitian yang berkesinambungan juga diperlukan agar tidak terjadi kesalahan pada metode machine learning yang diterapkan.

“Banyak yang masih sering salah kaprah dengan big data dan data science. Seolah-olah (keduanya) seperti magic yang bisa menyelesaikan segala masalah. Padahal, tanpa usaha-usaha dasar dalam pembuatan database yang baik dan optimal, semua itu adalah mustahil. Namun, melihat kemajuan teknologi yang semakin canggih, bukan tidak mungkin dunia pertambangan akan mengarah ke otomatisasi,” jelasnya.

Reza lantas berinisiatif untuk mengasah skill-nya di bidang data science. Keterampilan ini juga nantinya dapat bermanfaat bagi bisnisnya, antara lain untuk mengetahui kebiasaan konsumen, tren pasar, dan sebagainya.

Pilih ikut akademi dan menunda kuliah S2

Langkah yang biasa diambil seorang sarjana untuk memperdalam wawasan dan keahliannya adalah melanjutkan kuliah ke jenjang S2. Namun, lain halnya dengan Reza yang melihat bagaimana pergerakan zaman telah mengubah kebutuhan industri.

Gelar magister mungkin mampu mendongkrak karier di bidang kerja atau perusahaan tertentu. Akan tetapi, kini banyak juga pilihan program kursus dan sertifikasi yang patut diperhitungkan sebagai modal kuat untuk bersaing di dunia kerja.

Reza pun memilih lembaga pendidikan nonformal untuk memperkuat kualifikasinya di mata perusahaan. Setelah mempertimbangkan kurikulum, biaya, dan waktu, ia kemudian mempercayakan masa depan kariernya pada Algoritma Data Science School.

Reza memiliki alasan kuat mengapa ia memilih lembaga pelatihan yang berkomitmen melahirkan Data Scientist andal tersebut. Meskipun biayanya hampir sama seperti kuliah S2, tapi program yang ia pilih dapat diselesaikan dalam kurun tiga bulan sehingga lebih efisien.

Jadwal kelasnya juga bisa disesuaikan agar tidak mengganggu pekerjaan utama dan usaha sampingannya. Belum lagi Algoritma memiliki perusahaan-perusahaan rekanan di mana mereka bisa menyalurkan para lulusannya.

Meskipun sudah menyiapkan tabungan untuk membiayai program ini, Reza tetap merasa keberatan untuk membayarnya sekaligus. Beruntung Algoritma juga menjalin kerja sama dengan beberapa perusahaan fintech yang menyediakan pinjaman pendidikan, salah satunya Dana Cita.

Ingin wujudkan cita-cita anak Indonesia bersama Dana Cita

Saat pertama kali mendengar nama Dana Cita, Reza tak langsung tergerak untuk mencoba program pembiayaan pendidikan yang ditawarkan. Menjamurnya perusahaan fintech di Indonesia justru menimbulkan rasa waswas lantaran jaminan keamanan yang kerap dipertanyakan.

Reza pun secara hati-hati menelusuri setiap perusahaan fintech rekanan Algoritma untuk mencari tahu kredibilitas dan kelebihan masing-masing. Saat itulah ia menemukan hal-hal yang menjadi daya tarik Dana Cita.

Selain sudah terdaftar dan diawasi oleh OJK, Dana Cita juga menjamin bahwa dana pinjaman yang disetujui akan disalurkan langsung ke institusi pendidikan terkait, dan tidak memberikan persyaratan uang muka.

Setelah Dana Cita menyetujui pengajuannya, Reza pun memulai program Data Science Academy Full Stack pada bulan April 2019 dan direncanakan lulus bulan Juni 2019. Rencananya setelah itu ia akan terus berkarier di industri pertambangan sambil tetap menjalankan bisnis online-nya.

Meski demikian, Reza tidak menutup kesempatan untuk memasuki industri lain. Ia bahkan mengungkapkan ketertarikannya untuk bergabung dengan Dana Cita—startup teknologi keuangan yang fokus di bidang pendidikan—sebagai seorang Data Analyst.

Ada banyak pelajar dan mahasiswa di Indonesia yang punya potensi untuk dikembangkan di jenjang pendidikan tinggi, tapi terpaksa mengubur cita-cita mereka karena keterbatasan finansial. Menurut Reza, hal itu tak semestinya terjadi.

“Indonesia punya banyak orang yang pintar dan berkemauan tinggi untuk belajar. Walaupun belum bisa bantu secara materi, tapi saya ingin bisa bantu wujudkan impian mereka,” ujarnya.

Leave A Comment

Share via