||Lika-liku Perjuangan Calon Mahasiswa Bidikmisi untuk Lolos SBMPTN

Lika-liku Perjuangan Calon Mahasiswa Bidikmisi untuk Lolos SBMPTN

2019-02-19T12:02:19+00:00Cerita Komunitas|0 Comments

#CeritaKomunitas kali ini mengangkat kisah perjalanan Fitri, mahasiswa UNNES yang lolos SBMPTN berkat hasil kerja kerasnya sendiri


“Tantangan terbesarnya adalah mengubah mindset mereka dan membuktikan bahwa Fitri bisa kuliah dengan usaha sendiri tanpa membebani orangtua.”

Inspired. Itulah yang kami rasakan ketika berbincang dengan Fitrianingsih—atau akrab disapa Fitri, salah satu Campus Ambassador Dana Cita dari Universitas Negeri Semarang (UNNES). Gadis asal Banyumas yang murah senyum ini tampak ceria dan penuh semangat. Namun, siapa sangka di balik energi positif yang ia sebarkan kepada orang-orang di sekitarnya, ternyata Fitri menyimpan banyak cerita—terutama di masa-masa perjuangannya mempersiapkan diri mengikuti Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).

Selama duduk di bangku SMK dulu, mengikuti ujian masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) tak pernah ada dalam rencana Fitri. Minimnya sosialisasi tentang SBMPTN di sekolahnya membuat anak pertama dari dua bersaudara ini memutuskan untuk mencari institusi atau yayasan yang memberi kesempatan kuliah sambil bekerja. Sayangnya, alih-alih bisa menabung, kegiatan kuliah sambil bekerja ini justru membuat Fitri jadi punya banyak pengeluaran. Alhasil, ia terpaksa tidak meneruskan studinya dan hanya bekerja full-time di tempat yang sama.

Di tengah kesibukannya bekerja, Fitri tiba-tiba mendapatkan informasi mengenai SBMPTN—yang dulunya sempat ia kira tidak diperuntukkan bagi lulusan SMK. Lantas, tak ingin membuang-buang waktu, Fitri pun mantap untuk mengundurkan diri dari pekerjaan yang baru ia jalani selama empat bulan agar bisa mendedikasikan waktu dan tenaganya untuk persiapan SBMPTN.

Strategi cerdas agar lolos SBMPTN

Fitri memang baru memulai perjuangan SBMPTN-nya pada bulan Januari 2018, di mana pada saat itu teman-teman seangkatannya sudah lebih dulu berkuliah. Namun, keterlambatan tersebut tak ia jadikan alasan untuk bermalas-malasan. Sebaliknya, gadis penyuka komik ini justru semakin terpacu untuk mengerahkan usaha maksimalnya dalam menghadapi SBMPTN.

Apabila orang-orang yang menunda kuliah kebanyakan mengisi waktunya dengan mengikuti bimbingan belajar di lembaga kursus non-formal, tidak demikian dengan Fitri. Ia lebih pilih mengikuti kursus online di Quipper dan Zenius, yang diakuinya jauh lebih hemat. Untuk mengambil paket satu tahun di kedua platform tersebut, ditambah dengan membeli beberapa buku persiapan SBMPTN, Fitri hanya mengeluarkan uang sekitar Rp1.500.000 yang ia dapatkan dari pengalaman kerjanya.

  • Punya gaya belajar sendiri

Selama persiapan SBMPTN, Fitri belajar setiap hari di sela-sela kegiatannya membantu sang ibu berjualan, serta mengantar dan menjemput adiknya yang masih bersekolah. Meski begitu, ia tidak memforsir tenaganya dan tetap menyeimbangkan waktu belajarnya dengan istirahat yang cukup.

“Pagi hari biasanya Fitri habiskan untuk mengerjakan soal. Baru kalau kondisinya sudah lebih kondusif atau saat tidak ada orang, Fitri menyimak materi dari video (kursus online). Dengan begitu, Fitri bisa lebih menangkap apa yang disampaikan.”

Tips dari Fitri:

Materi kursus online dan buku, bagi Fitri, mempunyai fungsinya masing-masing. “Kalau di Zenius kan ada latihan soal yang langsung dibahas sama mentornya, sedangkan soal-soal di buku belum ada jawabannya. Jadi, kalau di buku Fitri bisa belajar menganalisis sendiri,” ujarnya.

Fitri juga menambahkan bahwa biasanya setiap video ia ulang berkali-kali, kemudian isinya ia rangkum dan dibuatkan kesimpulan atau catatan sendiri. Menurutnya, menulis membuat ia lebih mudah mengingat.

Meskipun punya trik yang dianggap jitu, Fitri mengingatkan bahwa pada akhirnya keberhasilan itu bergantung pada strategi masing-masing, karena setiap orang punya cara belajar dan pemahaman yang berbeda-beda.

  • Rajin ikut try out

Tak terhitung sudah berapa banyak try out yang Fitri ikuti untuk persiapan SBMPTN. Try out pertamanya adalah try out Masuk Kampus yang berlokasi di Bandung, sementara di kotanya sendiri ia mengikuti try out paling tidak sampai lima kali. Meskipun ada sedikit biaya yang dikeluarkan untuk mengikuti persiapan SBMPTN ini, Fitri tidak menyesal karena banyak sekali manfaat yang ia rasakan.

“Setelah ikut try out rasanya seperti dapat kekuatan karena Fitri bisa melihat kalau yang berjuang bukan cuma Fitri.”

Selain memacu motivasinya untuk berjuang menaklukkan SBMPTN, try out juga menjadi kesempatan Fitri untuk menambah relasi. Dari semua try out inilah ia bertemu dengan sesama pejuang SBMPTN yang kemudian mengajaknya untuk masuk grup diskusi online—sehingga ia tidak pernah ketinggalan informasi, bahkan memperkenalkannya pada beasiswa Bidikmisi.

  • Pilih perguruan tinggi

Fitri tak mau sembarangan dalam menentukan perguruan tinggi dan program studi yang ia tuju. Itu sebabnya, ia memilih untuk mendaftar Bidikmisi terlebih dahulu, baru kemudian mendaftar SBMPTN saat hampir mendekati deadline. Tentu saja di balik langkah tersebut, Fitri punya alasan yang kuat.

“Fitri daftar SBMPTN belakangan karena menunggu siap. Setelah ikut try out berkali-kali Fitri bisa mengira-ngira, dengan nilai segini, bisa diterima di PTN mana?”

Meski begitu, mahasiswa yang bercita-cita kuliah S2 di luar negeri ini tidak semata-mata mencari PTN atau program studi (prodi) berdasarkan passing grade yang sesuai dengan hasil try out-nya. Fitri memang turut memperhitungkan peluangnya untuk diterima berdasarkan jumlah peminat di PTN atau prodi yang ia incar. Namun, pada akhirnya ia tetap mengambil pilihan yang sesuai dengan minatnya.

Menyadari ketertarikannya untuk terjun ke masyarakat dan mempelajari hubungan atau interaksi antarmanusia, Fitri lantas menjatuhkan pilihan pada jurusan-jurusan di ranah ilmu sosial, yaitu jurusan Kriminologi UI sebagai pilihan pertama, kemudian disusul dengan Pendidikan Sosiologi dan Antropologi UNNES dan Ilmu Sosiologi Universitas Jember.

“Yang penting bukan cuma paham materi, tapi juga mengatur strategi bagaimana menempatkan prioritas kampus dan jurusan,” pungkasnya.

Meski sudah mengerahkan upaya terbaiknya untuk ikut SBMPTN, Fitri tak mau besar kepala dan tetap mempersiapkan plan B seandainya hasil SBMPTN-nya tak sesuai harapan. Ia pun sudah berencana mendaftar Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dengan menggunakan pinjaman pendidikan dari Dana Cita. Akan tetapi, berkat persiapan matang dan strateginya yang terencana, ternyata Fitri berhasil lolos SBMPTN di salah satu prodi dan PTN pilihannya, yaitu Pendidikan Sosiologi dan Antropologi UNNES.

Dana Cita | Lika-liku Perjuangan Calon Mahasiswa Bidikmisi untuk Lolos SBMPTN

Fitri bersama Campus Ambassador Dana Cita dari UNDIP dan UNNES (photo by Dana Cita)

Menjadi mahasiswa peraih Bidikmisi

Kebahagiaan Fitri tidak berhenti sampai ia diterima di UNNES. Pengajuan beasiswa Bidikmisi—yang ia lakukan saat tengah mempersiapkan SBMPTN—juga ternyata disetujui! Artinya, Fitri telah memenuhi semua ketentuan yang ditetapkan pemerintah sebagai penyelenggara Bidikmisi, yang mana tidak hanya menilai latar belakang ekonomi calon mahasiswa, tapi juga prestasi akademik dan non-akademiknya.

Saat melakukan pendaftaran Bidikmisi sekitar bulan Maret 2018, Fitri memang diminta untuk melengkapi beberapa data, seperti kondisi finansial keluarga—yang meliputi pekerjaan dan pendapatan orangtua, status kredit, hingga beberapa dokumen pendukung seperti foto-foto kondisi tempat tinggal, serta memasukkan nilai rapor semester 4 sampai 6, nilai Ujian Nasional (UN), serta bukti keikutsertaan di organisasi dan prestasi.

Usai pengumuman SBMPTN dan melakukan registrasi ulang, pihak Bidikmisi pun melanjutkan proses pendaftaran Fitri dengan melakukan survei ke rumahnya. Beruntung seminggu setelahnya kabar baik itu datang, dan Fitri pun dapat menempuh pendidikan tingginya di UNNES dengan dibiayai penuh oleh pemerintah.

Sebagai salah satu mahasiswa peraih Bidikmisi, Fitri harus memenuhi beberapa persyaratan, seperti IPK yang tidak boleh di bawah 3, serta selalu mengikuti setiap seminar atau event untuk mahasiswa Bidikmisi yang diadakan di kampus. Kendati demikian, semua itu sama sekali tidak dirasa membebani karena sejak awal Fitri telah berkomitmen untuk selalu menjaga IPK-nya sambil menyeimbangkannya dengan partisipasi dalam kegiatan-kegiatan kampus.

Bahkan, meski masih berstatus mahasiswa baru alias MABA, Fitri sudah mengikuti kepanitiaan event yang diselenggarakan oleh beberapa organisasi, antara lain DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa), ERC (English Research Community), dan Himpunan Mahasiswa (HIMA) Sosiologi. Fitri juga punya prinsip yang patut dicontoh mengenai keaktifannya ini.

“Nambah relasi dan pengalaman itu perlu, tapi jangan sampai over karena kita juga punya tanggung jawab akademik. Caranya, pilih (organisasi) yang sesuai dengan passion dan minat kita. Pilih mana yang bisa mengembangkan soft skill demi bekal di masa depan. Jadi, harus ada skala prioritas. Kalau ikut dua organisasi, mana yang perlu diutamakan?”

Pembuktian kepada orangtua

Semangat Fitri yang luar biasa untuk berprestasi di kampus tak lain didorong oleh keinginannya untuk membahagiakan kedua orangtua. Fitri ingin membuktikan bahwa ia bisa berkuliah dengan usaha sendiri, tanpa membebani mereka. Uang saku bulanan yang didapat dari Bidikmisi pun ia kelola dengan baik agar ayah ibunya tak perlu mengeluarkan uang untuknya.

Di awal perjuangan Fitri untuk kuliah di PTN, kedua orangtuanya memang sempat merasa keberatan. Kondisi ekonomi membuat mereka mengharapkan anak pertamanya ini untuk bekerja saja. Beruntung, lama-kelamaan keduanya luluh melihat perjuangan sang anak yang tak mengenal kata menyerah agar lolos SBMPTN.

Bahkan, setelah diterima di PTN incaran dengan beasiswa Bidikmisi—ditambah lagi menjadi lulusan pertama di SMK-nya yang masuk PTN, Fitri sudah menetapkan target-target yang ingin ia capai di semester-semester ke depan. Mulai dari masuk struktur organisasi kemahasiswaan, ikut perlombaan esai atau karya tulis, ikut pertukaran pelajar, hingga berbagai rencana lain setelah lulus kuliah nanti.

Tak hanya orangtua Fitri, kami pun bangga memiliki Campus Ambassador dengan semangat untuk menempuh pendidikan tinggi yang besar seperti Fitri. Semoga dengan keikutsertaannya sebagai bagian dari keluarga besar Dana Cita, Fitri bisa menginspirasi lebih banyak pelajar atau mahasiswa di Indonesia supaya tidak melihat biaya sebagai penghalang untuk berpendidikan tinggi. 🙂

Leave A Comment

Share via