||Mengintip Seluk-beluk Perjalanan Studi dan Bisnis Mahasiswa SBM ITB

Mengintip Seluk-beluk Perjalanan Studi dan Bisnis Mahasiswa SBM ITB

2019-02-19T10:26:20+00:00Cerita Komunitas|0 Comments

Jumlah startup yang kian menjamur seakan memotivasi banyak anak muda untuk melahirkan ide-ide bisnis yang inovatif. Bibit-bibit pengusaha muda ini pun tak sedikit yang merupakan jebolan sekolah-sekolah bisnis ternama di Indonesia, salah satunya Rizky, mahasiswa Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB).

Sebelum menempuh pendidikan S1-nya di ITB, laki-laki bernama lengkap Anugrah Rizky Harnoko ini merupakan santri Pondok Modern Darussalam Gontor, Jawa Timur. Menariknya, walaupun kurikulum pelajarannya berbeda dari sekolah-sekolah pada umumnya, justru di pesantren itulah Rizky menemukan ketertarikannya pada bisnis.

Sejak tahun ketiga sampai kelima di Gontor—atau setara kelas 3 SMP sampai 2 SMA, Rizky sudah mulai terjun ke dunia bisnis. Berkat koneksi yang ia miliki, Rizky menjadi perantara bagi teman-teman kelas, organisasi, dan paguyuban yang ingin memesan t-shirt.

Di tahun berikutnya, Rizky mendapat kesempatan menjadi koordinator gerakan pramuka, tepatnya sebagai penanggung jawab bagian pelatihan. Namun, di samping melatih para anggota, ia juga turut membantu mengurus penjualan peralatan atau atribut pramuka.

Pengalaman tersebut nyatanya menjadi titik balik perjalanan Rizky untuk mendalami ilmu bisnis di jenjang yang lebih tinggi.

Persiapan intensif masuk SBM ITB

Di saat kebanyakan teman-temannya bercita-cita mendalami pengetahuan agama dan bahasa di perguruan tinggi seperti Universitas Islam Negeri, Universitas Al-Azhar di Timur Tengah, atau Universitas Darussalam Gontor, Rizky mengambil jalan yang sedikit berbeda.

Usai lulus tahun 2015, Rizky harus menjalani program pengabdian selama setahun dengan mengajar para santri Gontor tingkat 1 sampai 3. Pada saat itulah perhatiannya tertuju pada jurusan Manajemen di Universitas Indonesia.

Di tengah penelusurannya tentang Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) dan SIMAK UI, Rizky mendapatkan informasi tentang sebuah fakultas di ITB yang ia percaya dapat mendukung jiwa bisnisnya. Ia pun lantas menjadikan Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) ITB sebagai program studi dan kampus pilihan pertamanya di SBMPTN 2016.

Persiapan Rizky untuk mengikuti seleksi ini bisa dibilang agak terlambat. Ia hanya punya waktu dua bulan sebelum ujian SBMPTN tiba.

Bersama belasan alumni lain yang juga tertarik ikut seleksi perguruan tinggi negeri, tapi kurang memiliki gambaran tentang ujiannya, Rizky banyak melakukan diskusi dan menggali informasi tentang SBMPTN beserta bentuk soalnya.

Agar hasilnya lebih maksimal, mahasiswa asal Cirebon ini mengikuti program super intensif di lembaga bimbingan belajar Nurul Fikri selama dua minggu. Strategi ini ia iringi dengan melakukan persiapan sendiri, salah satunya melalui platform belajar online.

Diakui Rizky, minimnya pengetahuan materi yang akan diujikan di SBMPTN membuatnya seakan harus mempelajari semuanya “dari nol”. Tak heran kalau ia mendorong dirinya lebih keras selama persiapan SBMPTN yang terbilang singkat.

Untuk menghadapi soal matematika, misalnya, Rizky menggunakan prinsip latihan berulang. Ia sampai menghabiskan beberapa buku tulis hanya untuk latihan soal.

“Saya dapat pola bahwa soal SBMPTN itu sebenarnya template-nya gitu-gitu aja, tapi angkanya yang divariasikan. Jadi, basic-nya itu yang saya ulang-ulang,” ungkap Rizky.

Segala distraksi disingkirkan demi mengejar target diterima di perguruan tinggi impiannya. Meski demikian, ia memastikan waktu belajarnya terjadwal dengan baik dan tidak ada yang diforsir.

Kegigihan Rizky akhirnya membuahkan hasil yang membanggakan. Ia lolos SIMAK UI sekaligus SBMPTN di SBM ITB jurusan Manajemen.

Setelah berkonsultasi dengan teman-teman dan kerabat, Rizky pun menjatuhkan pilihannya pada SBM ITB. Siapa sangka, di tahun ketiganya di perguruan tinggi tersebut, Rizky telah menjadi pengusaha muda yang mendirikan tiga buah startup.

Belajar tentang bisnis dan kegagalannya

Berbeda dari fakultas lain di ITB, mahasiswa SBM dipersiapkan untuk lulus hanya dalam waktu tiga tahun. Tak heran kalau jadwal perkuliahan mereka begitu padat dari Senin sampai Jumat, dan kelas semester pendek menjadi kewajiban.

Meski demikian, tak sedikit mahasiswa SBM yang aktif mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan berkolaborasi dengan mahasiswa fakultas lain. Begitu juga dengan Rizky yang beberapa kali menduduki jabatan ketua panitia dan divisi.

Di tahun pertamanya, mahasiswa yang hobi olahraga ini mengikuti Techno Entrepreneur Club ITB. Pilihannya tersebut dilandasi oleh prinsip Rizky yang cukup selektif dalam memilih kegiatan non-akademik yang ingin ia geluti—sama halnya ketika ia memutuskan untuk bergabung dengan Campus Ambassador Dana Cita.

Dana Cita | Perjalanan Studi dan Bisnis Mahasiswa SBM ITB

Rizky (paling kanan) dan rekan-rekan Campus Ambassador ITB dalam acara Dana Cita Inspiring Forum Chapter Bandung (Photo by Dana Cita)

“Saya tetap memilih-milih apa sih kegiatan-kegiatan yang bisa mendukung personal development dan sesuai passion saya? Jadi, (ikut organisasi) bukan cuma untuk mengejar jabatan.”

Techno Entrepreneur Club sendiri merupakan sebuah UKM yang tidak tertutup untuk mahasiswa SBM saja. Bagi Rizky, kesempatan ini memungkinkannya untuk bertukar pikiran dan ilmu, serta berkolaborasi dengan mahasiswa fakultas lain.

Di UKM ini pula Rizky berjumpa dengan tiga orang mahasiswa yang kemudian menjadi rekan bisnisnya dalam mendirikan Grovvit, sebuah platform P2P lending berbasis syariah yang mempertemukan investor dan pengusaha UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah).

Sayangnya, setelah berhasil menangani beberapa klien, Rizky dan timnya terpaksa menyusun exit plan untuk mengakhiri eksistensi startup tersebut.

Meski tidak dapat meneruskan bisnis pertama yang ia dirikan sebagai mahasiswa SBM, Rizky belajar banyak hal, salah satunya tentang team management. Dari sosok Ahmad Zaky, CEO Bukalapak lulusan ITB yang beberapa kali mengalami kegagalan, Rizky belajar menjadi pribadi yang gigih dan tidak mudah menyerah pada kekecewaan.

“Saya cukup introspeksi diri. Pelajaran apa yang bisa didapat? Dari situ saya justru jadi semangat lagi. Saya juga sering baca, banyak founder atau pengusaha sukses yang juga pernah gagal dan itu memang bagian dari hidup yang bisa membangun kedewasaan kita,” pungkasnya.

Terbukti, tak butuh waktu lama bagi Rizky untuk bangkit dan mencoba kembali.

Di tahun 2017, ia berhasil merealisasikan dua ide bisnis baru yang ia percaya mampu menghasilkan perputaran uang (cash flow) yang cepat, salah satunya adalah bisnis online dengan skema dropshipping.

Berangkat dari hasil riset di Internet, Rizky yakin bahwa model bisnis yang ia gagas ini tak membutuhkan modal besar, tapi pasarnya luas. Terbukti, bisnis tersebut berhasil memberi keuntungan yang cukup memuaskan.

Dana Cita | Perjalanan Studi dan Bisnis Mahasiswa SBM ITB

Kunjungan Techno Entrepreneur Club ITB ke kantor Bukalapak (Photo by Rizky)

Lingkungan yang mendukung

Tak bisa dipungkiri, lingkungan kampus SBM berperan besar dalam menginspirasi Rizky untuk berbisnis. Meski bukan mengambil jurusan Kewirausahaan, Rizky dan teman-temannya tetap dibekali dengan ilmu bisnis yang kuat.

Di tahun pertama, misalnya, para mahasiswa ini mendapat mata kuliah Intro to Business di mana mereka dibagi ke dalam beberapa kelompok, kemudian masing-masing diberi modal dan ditantang untuk menyusun business plan, serta mengeksekusi ide dalam waktu lima minggu.

Kemahiran Rizky dalam berbisnis semakin diasah di tahun-tahun berikutnya. Bahkan, melalui salah satu mata kuliah yang ia dapat di tahun kedua, yaitu IBE (Integrated Business Experience), Rizky berhasil melahirkan sebuah startup fashion brand bernama Ruang.co.

Keikutsertaan Rizky di sebuah professional club di bawah naungan Keluarga Mahasiswa Manajemen ITB, Progressio Consulting Group, juga ikut berkontribusi dalam memperkaya pengetahuan bisnis, serta memupuk kemampuan problem solving-nya.

Di club tersebut, Rizky dihadapkan pada permasalahan-permasalahan klien yang sesungguhnya. Sebagai seorang “konsultan”, ia harus menempatkan diri di posisi klien untuk menyelesaikan berbagai persoalan bisnis mereka, mulai dari masalah keuangan, pemasaran, hingga operasional.

Dana Cita | Perjalanan Studi dan Bisnis Mahasiswa SBM ITB

Rizky bersama tim Progressio Consulting Group (Photo by Rizky)

Tak hanya dukungan dari perguruan tinggi saja, anak kedua dari dua bersaudara ini juga sangat bersyukur dikelilingi oleh teman-teman dengan passion yang sama. Hal itu pula yang semakin menyemangatinya untuk lebih gigih berjuang menjadi calon pengusaha besar yang sukses.

Rencana setelah lulus

Dari hasil ketiga bisnis yang pernah dijalani, Rizky mengumpulkan pundi-pundi sebagai modal untuk mewujudkan project bisnis yang tengah ia garap. Ia memberi sedikit bocoran bahwa project inilah yang akan menentukan arah yang ingin ia tuju setelah lulus kuliah nanti.

Menjadi seorang entrepreneur merupakan cita-cita jangka panjang Rizky. Namun, apabila di akhir masa perkuliahan skala bisnis project yang ia jalankan belum mencapai target angka yang sudah ditetapkan, Rizky berencana untuk mengambil alternatif lain, yaitu kerja kantoran.

Divisi marketing atau business development di perusahaan startup pun menjadi incaran Rizky, dengan harapan ia dapat menambah pengalaman, wawasan, dan membangun relasi untuk keberlangsungan bisnisnya kelak.

Semoga bekal ilmu dan pengalaman yang didapat selama menjadi mahasiswa SBM ITB, dapat membukakan jalan kamu untuk menggapai cita-cita terbesarmu ya, Rizky! 🙂

 

Leave A Comment

Share via