||Mengungkap Serba-serbi Kuliah Jurusan Hukum Bersama Mahasiswi FH UNDIP

Mengungkap Serba-serbi Kuliah Jurusan Hukum Bersama Mahasiswi FH UNDIP

2019-04-16T14:19:35+00:00Cerita Komunitas|0 Comments

Pelajar yang bercita-cita jadi pengacara, jaksa, hakim, atau notaris, pastinya sudah tahu bahwa langkah yang harus mereka ambil setelah lulus SMA adalah kuliah jurusan hukum. Akan tetapi, tidak semuanya tahu kehidupan perkuliahan jurusan hukum yang sesungguhnya.

Meskipun berada di bawah rumpun ilmu soshum (sosial dan humaniora), banyak juga siswa jurusan IPA yang terpikat dengan program studi ini. Salah satunya Beatrice, seorang Campus Ambassador Dana Cita yang membagikan pengalaman studinya di Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (FH UNDIP).

Si anak IPA yang kuliah lintas jurusan

Berawal dari impian untuk jadi diplomat yang muncul saat mengikuti seleksi pertukaran pelajar ke Amerika Serikat, perempuan bernama lengkap Agnes Beatrice Sihombing ini lantas mantap ingin masuk jurusan Hubungan Internasional di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Gagal di percobaan pertamanya, yaitu SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri), Beatrice kembali mendaftarkan jurusan yang sama di SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri), diikuti dengan jurusan Sastra Inggris UGM dan Hukum UNDIP.

Meskipun selama tiga tahun masa SMA-nya terdaftar sebagai siswa kelas IPA, Beatrice mengaku memang lebih passionate terhadap mata pelajaran IPS. Bahkan, dari dulu gadis asal Banjarnegara, Jawa Tengah ini sudah gemar membaca buku-buku sejarah.

Karena passion tersebut, seleksi PTN lintas jurusan tak terasa sebagai beban. Tanpa ikut bimbingan belajar, Beatrice mampu mempersiapkan semuanya sendiri, seperti mengumpulkan soal-soal SBMPTN soshum dari tiga tahun sebelumnya, latihan mengerjakan Tes Potensi Akademik, serta membuat rangkuman pelajaran.

Alhasil, ia sukses menembus ujian SBMPTN dan resmi menjadi mahasiswa FH UNDIP.

Walaupun FH UNDIP bukan pilihan pertamanya, Beatrice tetap bersyukur karena menurutnya jurusan hukum masih bisa memberinya bekal untuk menggapai impian bekerja di ranah diplomatik, yakni melalui ilmu Hukum Internasional.

Akan tetapi, kehidupan perkuliahan Beatrice yang saat ini telah menginjak tahun terakhir rupanya telah mengubah banyak hal dalam dirinya, termasuk impiannya dahulu untuk menjadi diplomat.

Serba-serbi kuliah jurusan hukum

Pandangan seseorang tentang dunia perkuliahan sering kali berbeda dengan realitanya. Itu pula yang dirasakan oleh Beatrice. Ia mengungkapkan bahwa ekspektasinya sebelum masuk jurusan hukum sangat jauh berbeda dengan fakta yang ia jumpai di bangku kuliah.

“Tadinya aku pikir (mahasiswa) hukum itu kerjanya cuma menghafal undang-undang; kaku, membosankan, tapi ternyata kita lebih banyak diajarkan bagaimana menganalisis suatu kasus atau peraturan. Jadi, banyak praktiknya, gak cuma teori.”

Ia juga sempat mengira bahwa mahasiswa hukum pasti tujuannya jadi pengacara atau aparat penegak hukum. Namun, seiring berjalannya waktu Beatrice menyadari bahwa peluang kerja di bidang hukum ternyata sangat luas.

Di jurusan Hukum Bisnis, misalnya, Beatrice dan teman-temannya diajak masuk ke sektor keuangan dengan mempelajari hukum perbankan, pasar modal, dan sebagainya.

Pada akhirnya, terlepas dari profesi yang nantinya dipilih, menurut Beatrice, kemampuan logika, analisis, serta keberanian berbicara di depan umum menjadi tiga skill penting yang harus ada dalam diri mahasiswa hukum.

“Pekerjaan kita menuntut kemampuan berkomunikasi sama orang. Terutama untuk menyampaikan legal issue. Bagi orang awam yang gak belajar hukum pasti susah dipahami. Salah satu tugas kita adalah mengedukasi (mereka) dengan penyampaian yang mudah dipahami,” jelas Beatrice.

Beatrice sendiri merasakan banyak perubahan positif sejak kuliah di jurusan hukum. Berkat tuntutan dari berbagai mata kuliah, ia merasa kemampuan analisis dan logikanya semakin tajam. Kemampuan public speaking-nya pun semakin terasah.

Perubahan lain yang dialami Beatrice adalah keputusan untuk beralih dari rencana awal mengambil konsentrasi Hukum Internasional menjadi Hukum Bisnis. Hal itu bermula dari keikutsertaannya di sebuah organisasi mahasiswa FH UNDIP.

Sejak semester satu, Beatrice memang sudah tergabung dalam organisasi Moot Court alias peradilan semu. Secara sederhana, Moot Court merupakan sebuah kegiatan yang memungkinkan para mahasiswa hukum untuk melakukan simulasi sidang di pengadilan.

Dana Cita | kuliah jurusan hukum

Bersama tim peserta kompetisi Moot Court

Bersama anggota tim lainnya, Beatrice kerap mengikuti kompetisi Moot Court yang diadakan. Kompetisi terakhir yang ia ikuti, yakni tentang kepailitan, menumbuhkan rasa ingin tahunya yang besar terhadap hukum di dunia korporat.

Dikarenakan hasil penelusuran dan pengamatan terhadap kasus-kasus hukum yang menantang, serta pengaplikasian ilmu yang beragam, Beatrice lantas jadi tertarik untuk mendalami hukum bisnis.

Ditambah lagi, sebenarnya dasar-dasar hukum internasional sudah Beatrice dapatkan di semester genap, dan kakak-kakak tingkatnya pun sudah membuktikan bahwa peluang berkarier di ranah diplomatik akan tetap terbuka bagi setiap lulusan hukumterlepas dari latar belakang penjurusannya. Hal itulah yang membuat Beatrice semakin mantap untuk berganti haluan.

Prospek kerja mahasiswa hukum

Rencana karier seorang lulusan hukum akan menentukan perjalanan yang harus ia tempuh. Misalnya, seorang sarjana hukum yang ingin jadi pengacara dapat membangun kariernya dengan masuk law firmsama seperti Beatrice yang ingin jadi corporate lawyer.

Sementara itu, mereka yang bercita-cita jadi notaris harus mengambil program S2 Kenotariatan. Begitu juga dengan calon dosen yang harus punya gelar magister. Sedangkan calon jaksa atau hakim disyaratkan mengikuti program pendidikan dan pelatihan khusus terlebih dahulu.

Beatrice selalu menekankan bahwa pada dasarnya peluang kerja bagi lulusan hukum sangatlah luas. Nah, kunci pentingnya adalah mau belajar hal baru.

Mahasiswi penyuka filosofi ini pun merasakan sendiri semangat yang terus tumbuh seiring perjalanan studinya di FH UNDIP. Ia yang awalnya agak ragu dengan pilihan jurusannya, lama-kelamaan semakin excited dan selalu penasaran dengan hal baru yang bisa dipelajari.

Meskipun sudah jatuh cinta dengan jurusan hukum, Beatrice tetap berusaha menyeimbangkan kesibukannya dengan hal-hal lain seperti kegiatan sosial yang dapat melatih soft skill. Tak heran kalau ia memutuskan untuk mengikuti program Campus Ambassador Dana Cita batch kedua.

Dana Cita | Beatrice - kuliah jurusan hukum 1

First meeting Campus Ambassador Dana Cita Semarang

Berbicara soal cita-cita jangka panjangnya, Beatrice mantap ingin menjadi ahli di bidang hukum. Tak menutup kemungkinan pula suatu saat nanti ia akan meneruskan studi S2 di luar negeri, serta membangun bisnisnya sendiri. Di samping itu, Beatrice juga menyimpan harapan untuk bisa berkontribusi dalam mengembangkan sektor pendidikan di Indonesia.

Semoga semuanya tercapai ya, Beatrice! 🙂

Leave A Comment

Share via