||Pengguna Pinjaman Pendidikan Dana Cita Buktikan Mutu Mahasiswa PTS Tak Kalah dari PTN

Pengguna Pinjaman Pendidikan Dana Cita Buktikan Mutu Mahasiswa PTS Tak Kalah dari PTN

2019-02-19T10:59:13+00:00Cerita Komunitas|0 Comments

Citra perguruan tinggi negeri (PTN) sebagai tempat belajarnya mahasiswa-mahasiswa terpilih, sudah lama melekat di benak masyarakat. Stigma perguruan tinggi swasta (PTS) yang dinomorduakan pun seakan sulit untuk dihindari. Namun, anggapan tersebut tak berpengaruh bagi Andi, pengguna pinjaman pendidikan Dana Cita yang sudah jatuh hati pada Binus University, sebuah PTS yang berlokasi di Jakarta.

Sejak kelas 1 SMA, laki-laki bernama lengkap Andi Novaldo Rizky Sommeng ini sudah aktif melakukan riset tentang calon kampusnya, baik PTN maupun PTS. Setiap ada campus expo di sekolahnya di Makassar, Andi tak pernah absen. Dorongan dari para senior membuat ia sadar bahwa penting untuk mencari tahu calon perguruan tinggi yang akan dituju sejak dini.

Menyadari ketertarikannya terhadap hal-hal yang berbau sejarah, bahasa asing, budaya berbagai negara, serta diplomasi, Andi akhirnya memutuskan untuk menempuh studi S1 di Binus University jurusan Hubungan Internasional.

Biaya mahal tak jadi penghalang

Pertimbangan Andi sebelum memilih Binus bisa dibilang cukup matang. Berbagai aspek, mulai dari kurikulum jurusan, fasilitas kampus, kualitas tenaga pengajar, lulusan, pelayanan mahasiswa, dan tentunya biaya kuliah, diperhitungkan dengan baik oleh Andi.

Kalau hanya melihat nominal uang yang harus dikeluarkan, orang lain mungkin akan langsung mengurungkan niatnya. Namun, tidak demikian dengan Andi. Baginya, apa yang akan ia dapatkan sebanding dengan biayanya sehingga mimpi untuk masuk Binus pantas ia perjuangkan.

Andi percaya bahwa hanya ada satu hal yang membedakan PTN dengan PTS, yaitu metode subsidinya. Bahkan, berdasarkan perhitungan Andi, total biaya kuliah di PTN lewat jalur Mandiri sebenarnya relatif tak jauh berbeda dari PTS.

Selain itu, banyak faktor lain yang memperkuat keputusan Andi untuk masuk Binus; di antaranya fasilitas yang memadai, networking yang luas dengan perusahaan dan perguruan tinggi lain, jaminan kerja setelah lulus, dan kesempatan mendapatkan beasiswa.

Andi sendiri coba mengajukan permohonan beasiswa kepada pihak kampus, dan berhasil mendapat keringanan uang bangunan dan laboratorium. Akan tetapi, karena belum cukup menutupi kebutuhan lainnya, Andi berusaha mencari bantuan dana pendidikan tambahan.

Salah seorang rekan Andi saat bekerja paruh waktu di Makassar memperkenalkannya pada Dana Cita. Ia lantas menelusuri apa itu Dana Cita, serta membandingkannya dengan platform lain yang menyediakan metode pembiayaan pendidikan dengan skema pinjaman online.

Merasa puas dengan informasi yang tertera jelas di website, besar cicilan per bulan yang sama sekali tidak memberatkan, serta pelayanan dari tim call center yang komunikatif, membuat Andi menjatuhkan pilihannya pada Dana Cita.

“Dana Cita itu bukan cuma soal peminjaman biaya pendidikan, tapi ada komunitasnya juga dan itu sangat membantu saya sebagai mahasiswa,” ujar Andi.

Dana Cita memang rutin mengadakan kegiatan atau event spesial untuk anggota komunitasnya, yang terdiri dari Campus Ambassador dan pengguna pinjaman Dana Cita. Andi sendiri sempat menghadiri workshop hasil kerja sama Dana Cita dengan Apple Developer Academy. Ia merasa sangat terbantu dengan adanya program-program pengembangan komunitas milik Dana Cita.

Sebagai mahasiswa yang sangat menghargai pengalaman di luar kampus, Andi selalu haus akan ilmu dan pengalaman baru. Tak heran kalau ia punya semangat yang tinggi untuk melakukan hal-hal positif, baik saat masih duduk di bangku SMA maupun setelah menjadi mahasiswa.

Si Indiana Jones yang penuh prinsip

Sebagai anak tunggal, sosok Andi jauh dari sifat manja dan bergantung pada orang lain. Dengan alasan tak ingin memberatkan kedua orangtua, sejak SMA ia sudah getol mencari penghasilan sendiri dengan menjadi waiter dan game master di sebuah kafe di kampung halamannya.

Meski baru jadi mahasiswa pada tahun 2018 lalu, Andi juga sudah terlibat dalam divisi marketing Binus University, di mana ia turut dikirim ke beberapa daerah untuk mempromosikan kampus tersebut. Waktu yang fleksibel memungkinkan Andi untuk bekerja tanpa mengganggu kuliahnya.

Andi menganggap kesempatan ini sebagai pengalaman berharga untuk mempersiapkan dirinya menghadapi dunia kerja setelah lulus nanti. Selain itu, pemasukan yang ia terima juga turut membantu memenuhi kebutuhan sehari-harinya sebagai anak kos yang merantau di Ibu Kota.

Meskipun ia menilai dirinya terbuka dalam bersosialisasi, serta punya rasa ingin tahu yang besar—seperti karakter idolanya, Indiana Jones, Andi tetap berpegang teguh pada prinsipnya.

Ia tak mudah termakan gengsi akibat pengaruh lingkungan sekitar yang seakan wajib mengikuti arus perkembangan zaman. Andi percaya bahwa cukup tidaknya biaya hidup di Jakarta tergantung dari bagaimana seorang mahasiswa menjalani kehidupan sosialnya.

“Selama kita hanya melakukan hal-hal yang dibutuhkan, kita pasti bisa survive,” tegasnya.

Kegigihan dan keteguhan prinsip Andi cukup tercermin dari sosok sang ayah yang ia kagumi. Kedua orangtuanya pula yang menjadi sumber motivasi Andi untuk menjadi individu yang dibanggakan oleh keluarga dan orang-orang sekitarnya.

Kualitas diri yang bersaing

“Visioner” bisa dikatakan merupakan sebutan yang tepat untuk Andi. Rencana tahunan sudah tersusun rapi untuk ia realisasikan selama kuliah. Selain bekerja di divisi marketing Binus, saat ini Andi juga tergabung dalam BIRDS (Binus International Relations Dialectic Society), sebuah klub di bawah naungan Himpunan Mahasiswa HI.

Pengguna Pinjaman Pendidikan Dana Cita Mahasiswa Binus University

Usai latihan rutin bersama teman-teman klub BIRDS (Photo by Andi)

 

Meskipun baru memasuki semester 2, Andi sudah menentukan apa yang ingin ia lakukan hingga tahun terakhirnya di Binus, guna melengkapi program 3+1 yang diusung oleh kampus kebanggaannya.

Program 3+1 memberi kesempatan bagi mahasiswa Binus untuk menjalani perkuliahan reguler selama tiga tahun pertama, kemudian disusul dengan program pilihan di tahun keempat. Mereka diberi kebebasan untuk memilih antara melakukan penelitian, menjalani study abroad, mengikuti program internship, community development, atau entrepreneurship.

Alih-alih memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mewujudkan impiannya menginjakkan kaki di negeri Sakura dengan mengambil program study abroad, Andi justru memilih mengikuti internship. Keputusan ini tentu saja sudah ia pertimbangkan dengan matang dan penuh strategi.

Mahasiswa yang gemar menonton film dokumenter ini memang punya ketertarikan terhadap Jepang, termasuk bahasa dan budayanya. Ia yakin ada banyak jalan untuk menggapai impian tersebut, salah satunya dengan mengikuti program student exchange di semester 4.

Mengejar beasiswa untuk studi S2 di Jepang juga ada dalam daftar impian yang ingin Andi capai. Di samping itu, ia berencana ingin memanfaatkan layanan international office di kampusnya, agar sebelum lulus kuliah nanti bisa disalurkan ke perusahaan atau lembaga pemerintahan di Jepang.

Motivasi dan semangat juang Andi yang kuat untuk mewujudkan mimpi-mimpinya—tanpa melihat masalah finansial sebagai penghalang, semakin membuktikan bahwa almamater tidak serta merta menentukan kualitas seseorang.

Meskipun kondisi keuangan keluarga sedang tersendat, Andi tak mau menyerah dan berusaha mengajukan pinjaman pendidikan di Dana Cita. Untuk merealisasikan impian studi ke luar negeri pun, ia akan mencari bantuan dari kampus maupun lembaga penyedia beasiswa lainnya.

Kepribadian Andi yang tangguh dan berani bermimpi rupanya tak lepas dari peran sang ayah, yang mana “di saat kondisi terendah pun dia masih bisa bangkit dan tak pernah ada kata menyerah.”

Pada akhirnya, Andi menjadi salah satu contoh mahasiswa PTS yang patut diperhitungkan. Sebagai penyedia pinjaman pendidikan terjangkau yang dipercaya oleh Andi, Dana Cita yakin potensi dan kualitas diri Andi akan membawanya menuju gerbang kesuksesan.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Andi, kuliah di PTN maupun PTS, hasil akhirnya ditentukan oleh peserta didik masing-masing.

Leave A Comment

Share via