||Pentingnya Global Exposure bagi Kehidupan Mahasiswi Kelas Internasional UGM

Pentingnya Global Exposure bagi Kehidupan Mahasiswi Kelas Internasional UGM

2019-05-16T15:13:13+00:00Cerita Komunitas|0 Comments

Zhafira Elham memang baru jadi mahasiswa kelas internasional UGM (International Undergraduate Program Universitas Gadjah Mada). Namun, deretan pengalaman dan pencapaiannya di tingkat global sudah sangat banyak.

Selain lancar berbahasa Inggris, mahasiswi Computer Science ini juga beberapa kali mengikuti program ke luar negeri, serta pernah mendapatkan beasiswa kuliah di Korea Selatan. Berbeda dari kebanyakan pelajar SMA yang giat mengikuti kegiatan organisasi sekolah, Zhafira lebih memilih terlibat dalam program-program pengembangan diri di tingkat internasional.

Salah satu program yang pernah diikuti oleh Zhafira adalah #UnlockingYou, yakni sebuah project yang diselenggarakan di London yang memungkinkan para pesertanya untuk mengeksplorasi passion, talenta, dan soft skill, serta memperkenalkan mereka pada budaya asing.

Masih di negara yang sama, Zhafira juga pernah mengikuti program The Young Scientist Center—di mana ia mempelajari ilmu bioteknologi forensik, serta berkesempatan menjadi bagian dari tim redaksi The Guardian, sebuah perusahaan surat kabar dari Inggris.

“Secara pribadi, aku suka exposure-nya. Aku suka hal-hal baru, aku suka adventure. Aku merasa lebih berkembang mengikuti program-program tingkat internasional. Soalnya, di situ aku belajar hal-hal yang lebih unik dan menurut aku lebih cocok aja sama visi dan misi aku.”

Berbicara mengenai biaya, Campus Ambassador Dana Cita ini mengungkapkan bahwa ada sejumlah harga yang harus ia bayarkan untuk mengikuti program-program tersebut. “Namun, it was all worth it.” Menurutnya, besar kecilnya tergantung bagaimana kita mengelola budget.

Zhafira sendiri kuliah di kelas internasional UGM dengan bantuan beasiswa dari sebuah perusahaan, di mana ia terikat kontrak kerja selama dua tahun setelah lulus kuliah.

Dana Cita | kelas internasional UGM

Penyerahan laptop oleh penyelenggara beasiswa (Photo by Zhafira)

Sejak SMA, mahasiswi yang gemar menulis novel ini memang sudah getol mencari beasiswa, khususnya untuk kuliah di luar negeri. Ia bahkan mendapat tawaran beasiswa dari Dankook University berkat skor IELTS-nya yang mencapai angka 7,5.

Sayangnya, karena terkendala izin dari sang ibu, Zhafira harus mengurungkan niatnya untuk kuliah di luar negeri. Beruntung masih ada International Undergraduate Program (IUP) yang akhirnya dipilih oleh Zhafira untuk menempuh studinya di UGM.

Zhafira menekankan pentingnya kemampuan bahasa Inggris sebagai bekal untuk mengikuti perkuliahan dan kegiatan-kegiatan di tingkat internasional, seperti program pertukaran pelajar, konferensi internasional, dan sebagainya. Zhafira sendiri cukup beruntung karena sejak kecil sudah terpapar oleh lingkungan dan media belajar berbahasa Inggris.

 

Meski demikian, Zhafira percaya bahwa keberanian merupakan salah satu kunci keberhasilannya. Yang penting “take the first step!”

Menurutnya, keaktifan di skala internasional akan membuat kita menyerap lebih banyak pengetahuan dan memahami beragam budaya. Alhasil, bukan cuma kemampuan akademik saja yang meningkat, tapi juga non-akademik, yaitu soft skills.

Kalau ada masalah biaya, pintar-pintar cari institusi yang bisa membantu financially for your international academic exposure, tetapi selalu INGAT tanggung jawabmu. Skill yang kamu dapatkan di luar pasti—one way or another—bisa jadi bermanfaat bagi negara. Jadi, make sure you do your best!”

Penyuka musik klasik dan anime ini punya cara yang unik dalam memandang kesuksesan. Ia menyiratkan bahwa pencapaian itu tak melulu soal ambisi di bidang akademik. “Aku paling bangga di titik di mana aku puas dengan diri aku sendiri, dengan semua achievement aku, dan stop comparing myself to others,” ujarnya.

Motivasi Zhafira untuk masuk jurusan Computer Science juga patut diacungi jempol. Selain memang menyukai coding, Zhafira ingin mendorong lebih banyak perempuan untuk eksis di bidang pekerjaan yang umumnya didominasi oleh laki-laki.

“Apabila aku bisa succeed di field ini, aku berharap akan lebih banyak lagi perempuan yang hobi dan succeed di field IT.”

Self-love dan happiness adalah dua hal yang menjadi cita-cita jangka panjang Zhafira. Tampaknya global exposure yang ia rasakan telah membentuknya menjadi pribadi yang menarik dan membawa semangat baru bagi anak-anak muda seusianya.

I want to be happy. I want to feel that I am enough. I want to enjoy what I do, and I want to love the journeys I am going to go through.”

Tak hanya membagikan tips dan inspirasi melalui #CeritaKomunitas ini, Zhafira juga bersedia menjawab pertanyaan dari para pembaca blog Dana Cita yang ingin mengikuti jejaknya di program-program internasional melalui email [email protected].

Terima kasih sudah berbagi, Zhafira! 🙂

Leave A Comment

Share via