||Pernah Merasakan Sulitnya Bayar Kuliah, Mahasiswa ITS Termotivasi Ikut Campus Ambassador Dana Cita

Pernah Merasakan Sulitnya Bayar Kuliah, Mahasiswa ITS Termotivasi Ikut Campus Ambassador Dana Cita

2019-05-29T14:26:29+00:00Cerita Komunitas|0 Comments

Sudah dapat kampus yang diinginkan, tapi tak ada dana untuk bayar kuliah? Itulah yang dialami Mail, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember jurusan Teknik Geomatika. Pengalaman tersebut bahkan memotivasinya untuk bergabung dengan Campus Ambassador Dana Cita.

Laki-laki bernama lengkap Ismail Saputro ini menempuh pendidikan menengahnya di SMA Negeri 1 Widodaren, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Sama seperti banyak siswa daerah lainnya, Mail bermimpi untuk masuk Universitas Indonesia (UI), tepatnya di jurusan Teknik.

Sayangnya, hasil Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) menunjukkan bahwa Mail belum berjodoh dengan PTN yang berlokasi di Depok itu. Meski demikian, ia berhasil diterima di kampus pilihan ketiganya, yakni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Di sinilah perjuangan Mail dimulai. Ia harus mencari sumber bantuan dana untuk menutupi biaya kuliahnya di ITS.

Perjuangan mencari beasiswa

Keputusan Mail untuk masuk ITS awalnya sempat ditentang oleh keluarganya. Pasalnya, kedua orangtua Mail lebih menginginkannya untuk masuk UI agar ia bisa tinggal bersama sang kakak di Jakarta sehingga mengurangi anggaran biaya sehari-hari.

Ketika mendaftar SBMPTN, Mail sebenarnya bisa mengambil jalur Bidikmisi. Akan tetapi, melihat persaingan pendaftar Bidikmisi yang lebih ketat, ia pun mengambil strategi yang cukup cerdas untuk meningkatkan peluang lolos SBMPTN, yakni mengikuti jalur reguler.

Setelah dinyatakan diterima di ITS, Mail harus melewati suatu rintangan. Dana kuliah yang sudah disiapkan orangtuanya harus dialihkan untuk menutupi biaya berobat sang ayah yang mengalami kecelakaan kerja. Mereka sampai terpaksa menjual barang-barang berharga yang dimiliki.

Terlepas dari musibah yang dialami keluarganya, bungsu dari empat bersaudara ini berhasil membuktikan bahwa ia dapat mempertanggungjawabkan pilihannya untuk kuliah di ITS dengan membantu meringankan beban orangtuanya.

Pada tahun 2016, biaya kuliah yang dibutuhkan Mail adalah Rp4000.000 dengan rincian UKT (uang kuliah tunggal) semester 1 sebesar Rp1.000.000, biaya Iuran Rp500.000, serta biaya asrama Rp2.500.000.

Nominal tersebut cukup besar bagi Mail mengingat kondisi finansial keluarganya yang sedang kurang baik. Namun, semua itu berhasil teratasi berkat beasiswa yang berhasil ia dapatkan.

Mail pernah mencoba peruntungan dengan mengirimkan proposal pengajuan beasiswa ke Dinas Pendidikan Kabupaten Ngawi. Tanpa ia sangka, permohonan tersebut disetujui dan ia berhasil menerima uang saku untuk menambah kebutuhan biaya kuliahnya.

Di semester pertama, mahasiswa yang pernah menjabat sebagai Ketua OSIS ini juga berhasil mendapatkan beasiswa dari Etos Dompet Dhuafa. Bentuk beasiswanya adalah gratis biaya asrama selama dua tahun.

Tak berhenti di situ, Mail juga coba mengajukan beasiswa Bidikmisi di pertengahan semester 1 dan diterima. Alhasil, ia dan keluarganya tak perlu pusing lagi karena kuliahnya akan dibiayai sampai lulus dan bahkan setiap bulan ia juga menerima uang saku.

“Dulu aku aktif organisasi di SMA sama masuk peringkat 3 besar di kelas. Sertifikat berbagai kegiatan juga aku lampirkan, dan aku minta surat rekomendasi dari Kepala Sekolah,” kata Mail menceritakan kunci suksesnya dalam meraih berbagai beasiswa.

Dana Cita | Ismail - sulit bayar kuliah

Penerima Bidikmisi ITS menjadi delegasi di UNSRI Palembang

Selain prestasi akademis dan keaktifan berorganisasi, Mail mengaku bermodal nekat saat mengirimkan proposal ke Dinas Pendidikan di kampung halamannya. Pasalnya, ia tidak tahu apakah pemerintah daerah setempat sedang membuka program beasiswa atau tidak.

Menurut Mail, kuncinya adalah berani mencoba.

“Waktu SMA, keinginan aku untuk kuliah itu tinggi. Jadi, pokoknya apapun itu aku coba dulu. Pernah merasakan gagal juga, tapi gak jadi masalah,” imbuhnya.

Aktif berorganisasi dan menyebarkan kebaikan bersama Dana Cita

Tak bisa dipungkiri lagi, salah satu rahasia keberhasilan Mail dalam meraih beasiswanya adalah prestasi non-akademis. Pengalamannya menjabat sebagai Ketua OSIS pun ia yakini sebagai pencapaian yang paling menonjol di mata penyelenggara beasiswa.

Hingga kini Mail masih terus aktif di berbagai kegiatan di lingkungan kampus. Kalau selama tahun pertama dan kedua ia hanya mengikuti sejumlah UKM (unit kegiatan mahasiswa), di tahun ketiga ini ia ingin lebih fokus di BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa).

Mail yang sekarang menduduki posisi Wakil Menteri Adkesma (Advokasi Kesejahteraan Mahasiswa) bertekad ingin mengejar tanggung jawab yang lebih besar, di mana ia dapat belajar lebih banyak, serta berkontribusi menyusun strategi kepengurusan BEM.

Dana Cita | Ismail - sulit bayar kuliah 2

Bersama keluarga Kementerian Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa BEM ITS

Kalau bicara soal skill dan pengalaman, Mail percaya keduanya sudah pasti didapatkan di organisasi. Namun, ada hal-hal lain yang justru kerap dilupakan oleh mahasiswa ketika mengikuti organisasi, salah satunya adalah unsur kekeluargaan di dalamnya.

Keluarga baru ini juga Mail dapatkan sejak bergabung dengan komunitas Dana Cita. Keinginannya untuk menjadi Campus Ambassador Dana Cita dilatarbelakangi oleh pengalaman pribadinya yang sempat kesulitan mencari dana untuk membayar kuliah.

Menurutnya, Dana Cita bisa jadi solusi untuk anak-anak muda di sekitarnya yang ingin menempuh pendidikan tinggi, tapi terkendala biaya. Karena itu, ia termotivasi untuk ikut menyebarkan kebaikan bersama Dana Cita dengan menjadi salah satu Campus Ambassador dari ITS.

Selama hampir satu tahun menjadi bagian dari keluarga besar Dana Cita, Mail dan teman-teman Campus Ambassador telah menyelenggarakan dua kegiatan, yaitu Dialog Pasca Campus di ITS, serta sebuah event hasil kolaborasi dengan organisasi mahasiswa dan Campus Ambassador Universitas Airlangga.

Perkenalan Mail dengan teman-teman Campus Ambassador lain yang terdiri dari anak-anak muda berprestasi dari berbagai perguruan tinggi, membuatnya semakin terpacu untuk terus meningkatkan kemampuan diri.

Kontribusi setelah lulus S1

Setelah menikmati segala keuntungan yang ia peroleh semasa kuliah, pengagum B.J. Habibie ini punya cita-cita yang mulia sebagai bentuk balas budi, serta wujud kontribusi sosialnya kepada masyarakat.

Alih-alih meneruskan kuliah S2 atau bekerja kantoran, setelah menyandang gelar sarjananya nanti Mail berencana ingin meluangkan waktu satu tahun untuk mengajar di daerah-daerah terpencil di pelosok Indonesia, salah satunya melalui gerakan Indonesia Mengajar.

Setelah impian itu tercapai, barulah ia akan fokus mengasah bidang keahliannya dengan bekerja di industri terkait, sambil memantapkan diri untuk merealisasikan rencana panjangnya, yaitu mendirikan sebuah usaha.

Leave A Comment

Share via