||Rahasia Keberhasilan Mahasiswa Ekonomi UGM Penerima Bidikmisi

Rahasia Keberhasilan Mahasiswa Ekonomi UGM Penerima Bidikmisi

2019-02-19T11:09:56+00:00Cerita Komunitas|0 Comments

Dalam mengejar kesuksesan, setiap orang biasanya punya prinsip hidup dan cara belajar masing-masing. Begitu pula dengan salah satu Campus Ambassador Dana Cita, Reza Fernandes. Bukan hanya diterima di salah satu PTN favorit dengan beasiswa Bidikmisi, Reza juga mampu mempertahankan IPK di atas 3,80 di tengah kesibukannya di berbagai kegiatan organisasi.

Saat ini Reza merupakan mahasiswa tingkat akhir di Universitas Gadjah Mada (UGM) jurusan Ekonomi. Namun, jauh sebelum itu Reza sebenarnya hampir masuk Institut Pertanian Bogor (IPB). Ia bahkan sudah sempat mengikuti matrikulasi selama 1,5 bulan di perguruan tinggi tersebut.

Meskipun saat masih SMA hanya aktif di dua organisasi dan belum berkesempatan menjuarai perlombaan-perlombaan yang ia ikuti, Reza berhasil diterima di IPB lewat jalur SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri).

Menurut Reza, nilai rapornya yang selalu menunjukkan peningkatan di setiap semester menjadi salah satu faktor keberhasilannya. Bahkan, di kelas 3 Reza berhasil menduduki peringkat pertama paralel, mengalahkan 299 siswa lain di angkatannya.

Meski demikian, Reza mengungkapkan bahwa nilai akademik bukan satu-satunya penentu kelulusan. Hal ini terbukti dari pengalaman temannya sendiri yang selalu masuk ranking “bontot” di kelasnya, tapi lolos SNMPTN karena mencantumkan banyak prestasi di bidang olahraga.

Menjadi satu dari sedikit pelajar yang berhasil menembus SNMPTN tentu saja memberikan kepuasan tersendiri bagi setiap calon mahasiswa. Bagaimana tidak? Mereka bisa masuk PTN impian dengan modal nilai rapor dan prestasi lainnya, tanpa perlu ikut ujian tertulis.

Lantas, mengapa kemudian Reza melepaskan kesempatan emas tersebut?

Jatuh cinta pada ilmu ekonomi

Selama menjalani matrikulasi di IPB, Reza dilanda kebimbangan. Pasalnya, materi ajar yang diberikan tak sesuai dengan yang ia harapkan.

Reza mendapati bahwa walaupun ia diterima di Fakultas Ekonomi dan Manajemen, di semester 1 dan 2 nanti ia masih akan bertemu dengan beberapa mata kuliah IPA, serta dasar-dasar Manajemen Pertanian. Ia pun merasa kurang sreg dan mulai berpikir untuk berganti haluan.

Reza cukup beruntung karena matrikulasi di IPB sudah diadakan dari jauh-jauh hari. Mahasiswa yang punya hobi menyanyi dan bermain teater ini pun punya kesempatan untuk mengikuti ujian masuk PTN lain, tepatnya Ujian Tulis (UTUL) UGM.

Sejak SMA, Reza memang sudah punya ketertarikan pada ilmu ekonomi. Selain pernah mengikuti Olimpiade Sains Nasional di bidang ekonomi, pertemuan dengan seorang kakak tingkat yang merupakan mahasiswa jurusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UGM juga kian memotivasinya untuk kuliah lintas jurusan demi mendalami ilmu tersebut, khususnya di bidang makro.

Hanya berselang tiga hari sejak program matrikulasi berakhir, Reza mengikuti UTUL UGM. Meskipun waktu persiapannya terbatas, nyatanya Reza tetap berhasil menembus seleksi jalur mandiri tersebut.

 

Dana Cita | berhasil menerima Bidikmisi

Foto bersama teman-teman dari Shariah Economics Forum UGM (photo by Reza Fernandes)

Sistem belajar dengan target

Diakui Reza, ia sama sekali tak mengetahui tipe soal yang akan keluar di UTUL UGM. Untungnya, saat menunggu pengumuman SNMPTN, Reza sempat melakukan persiapan untuk mengikuti ujian SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri).

Selama persiapan SBMPTN, Reza menargetkan setiap harinya ia harus menyelesaikan satu bundel soal latihan. Reza juga menjadikan passing grade jurusan yang dikeluarkan oleh lembaga-lembaga bimbingan belajar sebagai acuan untuk mengukur kemampuannya.

Dari situ, Reza bisa memprediksi kemungkinannya lolos di perguruan tinggi dan jurusan yang ia inginkan.

“Aku belajarnya harus selalu ada target. Jadi, it’s all about target. Target itulah yang menguatkan dan memotivasi aku karena ada tujuan yang harus aku gapai. Aku memang tipe orang yang ambisius dan perfeksionis,” tutur Reza.

Selain menetapkan target untuk dirinya sendiri, Reza juga tak lupa mengasah kemampuannya dengan mengikuti berbagai macam try out, seperti try out STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara), try out SBMPTN, dan sebagainya.

Kerja keras Reza yang penuh dengan target ini pun terbayar ketika ia dinyatakan lolos UTUL UGM.

Mencari bantuan biaya kuliah

Merasa membutuhkan keringanan biaya kuliah, saat mendaftar SNMPTN Reza memilih untuk mengambil jalur Bidikmisi, di mana ia bukan hanya harus melewati seleksi administrasi, tapi juga mengikuti tes wawancara calon penerima Bidikmisi di IPB.

Saat resmi pindah ke UGM, Reza kembali mendaftar Bidikmisi. Apalagi mengingat keluarganya punya banyak tanggungan, seperti sang kakak yang berkuliah di perguruan tinggi swasta dan adiknya yang masih duduk di bangku SMA.

Sayangnya, bantuan biaya pendidikan dari Kemenristekdikti ini ternyata diutamakan untuk mahasiswa UGM dari jalur SNMPTN dan SBMPTN. Alhasil, Reza masih harus membayar UKT semester pertama, dan baru resmi menjadi penerima Bidikmisi susulan di akhir semester tersebut.

Selain bukti kondisi finansial, prestasi saat SMA turut menentukan keberhasilan seseorang untuk lolos Bidikmisi. Reza pun tak segan memperkuat aplikasi Bidikmisi-nya dengan mencantumkan perlombaan-perlombaan yang pernah ia ikuti—walaupun hasilnya belum juara.

Terbukti, baik IPB maupun UGM menyetujui permohonan Bidikmisi Reza di mana salah satu syaratnya adalah ia harus mempertahankan IPK di atas 2,75.

Bagi Reza, syarat tersebut cukup mudah dipenuhi. Bahkan, di tahun terakhirnya ini ia berhasil meraih IPK 3,81!

Cara menyeimbangkan prestasi akademik dan non-akademik

Di tahun terakhir Reza sebagai mahasiswa UGM, anak kedua dari tiga bersaudara ini sudah mengurangi kesibukan non-akademiknya. Selain fokus menyelesaikan skripsi, saat ini Reza juga sedang menjalani magang di Bank Indonesia, serta menjadi asisten dosen.

Sebagai seorang mahasiswa berprestasi yang juga pernah mencari bantuan biaya pendidikan, sejak semester 7 ini Reza juga terlibat dalam program Campus Ambassador Dana Cita untuk ikut menyebarkan informasi tentang pinjaman pendidikan terjangkau Dana Cita.

 

Dana Cita | berhasil menerima Bidikmisi

Reza Fernandes (paling kanan) bersama teman-teman Campus Ambassador Dana Cita dari UGM (photo by Dana Cita)

Sebelum fokus pada kegiatan-kegiatan tersebut, Reza sangat aktif mengikuti berbagai perlombaan, seperti kompetisi business plan, serta menjadi penyelenggara berbagai event di fakultasnya.

Meskipun kegiatannya cukup padat, Reza tak kesulitan menyeimbangkannya dengan prestasi akademik.

Saat ditanya mengenai rahasia keberhasilannya, Reza mengungkapkan bahwa ia punya buku agenda yang ia susun setiap tahun. Di buku tersebut, ia menuliskan setiap rencana kegiatan yang akan ia lakukan selama setahun penuh. Dari situlah Reza bisa mengetahui prioritasnya.

“Misalnya, Senin sampai Selasa aku ada rapat di organisasi, maka otomatis aku akan kurangi (waktu) belajar di hari tersebut dan diganti di hari lainnya.”

Kebiasaan menyusun agenda ini sangat penting bagi Reza untuk menjaga agar tidak ada target atau rencana yang terlupakan.

“Setiap tahunnya aku buat mindmap, satu tahun ke depan aku mau ngapain aja, target apa yang ingin aku capai, dan alhamdulillah setiap tahunnya 70% (dari target) bisa tercapai. Sebuah kebanggaan ketika target-target yang kamu susun di awal tahun bisa tercapai di akhir tahun,” imbuhnya.

Meskipun sebagian besar keinginannya tercapai, Reza tak menyangkal bahwa ada kalanya ia merasa kurang pede dengan kemampuan yang ia miliki. Namun, ketika ia berhasil mengalahkan ketidakpercayaan diri tersebut, saat itu pula ia merasa seperti mencapai suatu keberhasilan.

Dari situ Reza belajar bahwa setiap orang punya kelebihan dan kelemahan, tapi mereka juga harusnya berani untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

Sebagai upaya untuk meningkatkan kepercayaan dirinya, Reza juga senang tampil di depan umum. Pada bulan November 2018, ia bahkan sempat menjadi MC dalam acara Dana Cita Inspiring Forum: Chapter Yogyakarta, mewakili Campus Ambassador lainnya dari UGM dan UNY.

Reza berharap bahwa setamatnya dari UGM, ia bukan cuma bisa meringankan beban kedua orangtuanya dengan mendapat pekerjaan yang menjanjikan, tapi juga mencapai cita-citanya sebagai seorang ekonom hebat yang mampu membenahi perekonomian di Indonesia.

Leave A Comment

Share via