||Siapa Bilang Siswa Daerah Tak Bisa Lolos SIMAK UI?

Siapa Bilang Siswa Daerah Tak Bisa Lolos SIMAK UI?

2019-02-19T11:26:58+00:00Cerita Komunitas|0 Comments

Yeyen Azizah Putri Perdana adalah gadis asal Klaten, Jawa Tengah yang penuh ambisi. Keinginannya untuk masuk Universitas Indonesia (UI) sudah ia pendam sejak lama. Sayang, banyak orang di sekitarnya yang justru pesimis mengingat latar belakang Yeyen yang berasal dari SMA daerah. Tak mau termakan omongan, Yeyen pun membuktikan bahwa ia mampu menaklukkan seleksi masuk perguruan tinggi favorit tersebut, yakni SIMAK UI Reguler.

Diakui Yeyen, ia pun sempat tidak yakin akan peluangnya untuk masuk UI. Pasalnya, dari seluruh alumni SMA 1 Karanganom—tempatnya bersekolah dulu, hanya sedikit yang meneruskan studi di UI. Alasannya, sebagian besar dari mereka dikuasai oleh rasa takut dan minder untuk mencoba.

Beruntung, di tengah-tengah pencarian informasi mengenai seleksi masuk UI, Yeyen bertemu dengan seorang alumni SMA-nya dari angkatan 2014 yang berhasil masuk Fakultas Psikologi UI lewat jalur SIMAK.

Seakan mendapat pencerahan dan motivasi dari sang kakak tingkat, Yeyen pun kemudian giat mencari contoh soal SIMAK UI dan semakin yakin untuk mencoba peruntungannya dengan mengikuti seleksi tersebut.

Meski tujuan utamanya adalah SIMAK UI, karena satu dan lain hal Yeyen tetap memilih Universitas Diponegoro (UNDIP) saat mengikuti SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dan SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri).

Tanpa ia sangka, Yeyen diterima di jurusan Akuntansi UNDIP melalui sebuah seleksi khusus yang diadakan perguruan tinggi tersebut untuk siswa-siswi SMA di Jawa Tengah. Akan tetapi, demi mengejar mimpinya untuk masuk UI, Yeyen mau tak mau melepas kesempatan tersebut.

Di tengah ‘tekanan’ dari orang-orang terdekat yang menyangsikan peluangnya masuk UI, anak pertama dari dua bersaudara ini justru semakin berambisi untuk membuktikan bahwa ia pun tak kalah dari calon mahasiswa lain yang bersekolah di Jabodetabek.

“Kualitas seseorang gak bisa dilihat dari mana ia berasal. Kalau aku bisa berusaha dan berjuang, sehingga aku layak mendapatkan universitas tersebut, kenapa aku harus minder?”

Dana Cita | Siapa Bilang Siswa Daerah Tak Bisa Lolos SIMAK UI

Yeyen saat sedang memberikan materi tentang kesehatan reproduksi dalam acara yang diadakan oleh sebuah forum mahasiswa UI. (Photo by Yeyen)

Cara belajar mempersiapkan SIMAK UI

Saat tengah menggali informasi tentang SIMAK UI, Yeyen mendapati bahwa bentuk soal SIMAK UI sangat berbeda dengan SBMPTN. Ia merasa lebih nyaman belajar dan mengerjakan soal-soal SIMAK UI.

Menurutnya, soal SIMAK UI lebih menuntut kemampuan analisis—sesuai dengan gaya belajar Yeyen yang cenderung mengutamakan pemahaman dan analisis, bukan hafalan.

Dari satu buah soal saja, misalnya, Yeyen bisa membaginya menjadi beberapa materi pembelajaran. Dengan begitu, ketika menjumpai soal-soal serupa, ia dapat memecahkannya menggunakan logika, tanpa kesulitan mengingat hafalan.

Meskipun tidak mengikuti program bimbingan belajar atau kursus online, Yeyen mampu belajar sendiri melalui buku-buku, kumpulan soal-soal latihan yang ia dapat dari Internet, serta mengikuti beberapa try out.

Persiapan ini tentunya Yeyen lakukan dari jauh-jauh hari, karena ia menganggap kalau sudah mendekati hari-H dirinya akan jauh lebih tegang.

Yeyen pun mengungkapkan rasa bahagianya yang luar biasa ketika perjuangannya itu berbuah manis. Ia dinyatakan lolos SIMAK UI di jurusan yang benar-benar ia incar, yaitu Administrasi Negara.

Kabar gembira tersebut bukan hanya menjadi hadiah terindah untuk Yeyen dan keluarga, tapi juga bentuk pembuktian kepada orang-orang yang sempat menganggap remeh dirinya.

Kehidupan Yeyen sebagai mahasiswa UI

Sebagai orangtua, ayah dan ibu Yeyen tentu saja mendukung impian sang anak yang terwujud untuk masuk UI. Satu-satunya kekhawatiran mereka adalah kemampuan Yeyen untuk merantau dan hidup mandiri.

Beruntung, setiap kali perasaan homesick datang, Yeyen dapat menguatkan dirinya dengan cara mengingat-ingat kembali perjuangannya untuk masuk UI dulu, sehingga ia bisa langsung bangkit kembali.

Kesibukan Yeyen di kampus tampaknya berhasil mengalihkan perhatiannya. Pasalnya, sejak masih MABA alias mahasiswa baru, Yeyen sudah aktif mengikuti organisasi dan kegiatan kemahasiswaan. Keterlibatan ini pula yang memberikannya banyak pelajaran berharga.

Sebagai mahasiswa, Yeyen sering mendengar pesan-pesan tentang pentingnya organisasi, seperti untuk memperluas jaringan, memperkuat soft skill, dan sebagainya. Namun, fakta yang ia temukan tak selalu demikian.

Dana Cita | Siapa Bilang Siswa Daerah Tak Bisa Lolos SIMAK UI

Yeyen bersama para peserta program Pelatihan Pendidik Sebaya (Photo by Yeyen)

Sempat terjun ke sebuah lingkungan organisasi yang tidak sesuai ekspektasi, Yeyen belajar bahwa budaya setiap organisasi ternyata berbeda-beda. Meski merasa kecewa, Yeyen jadi tahu cara memilih organisasi yang tepat.

“Pertama, aku lihat dulu background organisasinya, kerja sama dengan siapa, program kerjanya apa saja, dan apakah aku akan dapat pelatihan (untuk pengembangan diri). Setelah itu, aku juga tanya-tanya ke mahasiswa lain yang sudah lebih dulu bergabung.”

Saat ini, Yeyen sedang menikmati kesibukannya di sejumlah organisasi dan kegiatan komunitas, di antaranya Korps Mahasiswa Anti Korupsi, PCHE (Peer Counselor and Health Education), dan Forum Mahasiswa Peduli Kesehatan Reproduksi (RUMPAN UI).

Di luar kampus sendiri, mahasiswa semester 5 ini aktif menyebarluaskan pinjaman pendidikan terjangkau bersama Dana Cita. Dukungannya terhadap student loan, ditambah dengan latar belakang Dana Cita sebagai perusahaan yang bonafide, membuatnya yakin untuk menjadi Campus Ambassador Dana Cita.

Dana Cita | Siapa Bilang Siswa Daerah Tak Bisa Lolos SIMAK UI

Meeting bersama teman-teman Campus Ambassador Dana Cita dari Universitas Indonesia (Photo by Yeyen)

Rencana setelah kuliah

Sesuai namanya, yaitu jurusan “Administrasi Negara”, lulusannya pun sering dilihat sebagai calon-calon pegawai pemerintahan. Yeyen sendiri mengaku punya keinginan untuk menjadi abdi negara. Namun, kini ia sadar betapa luasnya area bagi seorang lulusan Administrasi Negara untuk menerapkan ilmu yang ditekuni.

Meskipun jurusan tersebut mencakup ilmu-ilmu pemerintahan, seperti manajemen kebijakan publik, manajemen sumber daya manusia, dan sebagainya, bukan berarti lulusannya otomatis bergelut di lingkup pemerintahan.

Yeyen mencontohkan Dana Cita sebagai startup fintech dari sektor swasta yang layanannya turut mendukung upaya pemerintah dalam melayani publik, yakni untuk memperluas akses pendidikan yang terjangkau.

Oleh sebab itu, Yeyen tak ingin membatasi dirinya dalam membangun karier di masa depan. Ia mengaku terbuka dengan berbagai peluang, baik di perusahaan swasta yang sudah mapan, menjadi PNS di instansi pemerintahan, maupun di perusahaan startup seperti Dana Cita.

Di mana pun ia menjatuhkan pilihannya nanti, Yeyen berharap kontribusinya bisa memberikan dampak yang nyata bagi masyarakat.

Leave A Comment

Share via