||Putuskan Ikut Organisasi, Mahasiswa Universitas Indonesia Ini Dapat Banyak Pelajaran

Putuskan Ikut Organisasi, Mahasiswa Universitas Indonesia Ini Dapat Banyak Pelajaran

Penulis: Ananda Kiranatasha Ichsani – Tasha adalah mahasiswi Kelas Khusus Internasional Universitas Indonesia jurusan Hukum. Fokus mengejar nilai sempat membuatnya tak ingin ikut organisasi. Namun, ia bersyukur karena akhirnya ia mengubah pandangan tersebut.


Dalam perkuliahan, tidak dapat dipungkiri bahwa prestasi akademis merupakan prioritas utama saya. Selama beberapa saat di awal semester 1, saya tidak berpartisipasi dalam kegiatan organisasi maupun perlombaan. Alasannya karena saya ingin lebih fokus dalam menggapai nilai setinggi mungkin.

Pilihan saya untuk tidak ikut organisasi cukup dipengaruhi oleh keluarga. Sejak duduk di bangku SD, saya selalu diarahkan untuk lebih fokus terhadap akademis. Namun, melihat teman-teman kuliah yang berbondong-bondong mendaftar beberapa organisasi sekaligus, saya pun berpikir bahwa pasti ada alasan mengapa organisasi sangat penting. Saya pun lega karena akhirnya memilih untuk mengubah opini saya.

Saat itu, hampir semua organisasi telah menutup pendaftarannya. Untungnya, saya masih bisa mendaftar menjadi staf bidang Advokasi Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum (BEM FH).

Setelah sekali mencoba, saya seperti ketagihan untuk berorganisasi maupun bergabung dalam perkumpulan yang dapat memfasilitasi saya untuk bertemu dengan orang baru, serta dalam frekuensi yang cukup tinggi. Karena itu, saya juga mendaftar sebagai Head of External Affairs di KOPMA FH UI pada tahun kedua, sampai akhirnya saya melanjutkan amanah di KOPMA FH UI sebagai Vice President.

Melihat beberapa teman saya yang mendaftar jadi berbagai duta, seperti Abang None, dan sebagainya, saya pun ikut tertarik. Pasalnya, melalui kompetisi tersebut saya dapat melatih public speaking. Bukan cuma itu, scope dari aktivitas kedutaan pastinya jauh lebih besar dari organisasi dalam kampus

Saya pun mencoba mendaftarkan diri sebagai Duta Bahasa DKI Jakarta. Sejak kecil saya mempunyai ketertarikan terhadap bahasa. Sampai sekarang pun saya mampu berbicara dan membaca dalam bahasa Spanyol, serta sedikit mengerti bahasa Mandarin. Keduanya saya pelajari sendiri secara autodidak.

Alhamdulillah, saya berhasil menjadi finalis Duta Bahasa DKI Jakarta. Saya yakin kegiatan saya sebagai Duta Bahasa akan sangat bermanfaat nantinya dan menambah pengalaman saya sebagai seorang mahasiswa.

Meskipun sudah ikut banyak kegiatan, saya merasa sedikit kecewa karena tidak membuka diri terhadap kesempatan sejak dulu. Jika saya tidak memiliki mindset bahwa hanyalah prestasi akademis yang amat penting, saya pasti sudah jauh lebih aktif dibandingkan sekarang.

Saya mulai merasakan penyesalan tersebut saat pendaftaran Duta Bahasa DKI kemarin. Saya sudah termasuk angkatan tua untuk mendaftarkan diri. Kebanyakan dari peserta berumur 1-2 tahun lebih muda dibanding saya.

Walaupun ada penyesalan dikarenakan past choices, saya tetap yakin bahwa walaupun saya sudah berada di tahun ketiga perkuliahan, saya masih dapat berpartisipasi di banyak kegiatan kampus maupun luar kampus, sambil tetap mempertahankan prestasi akademis saya. Bahkan, sampai sekarang pun saya tetap mempunyai waktu untuk merangkum materi kuliah.

Melalui pengalaman selama tiga tahun terakhir ini, saya mendapatkan pelajaran yang berharga, yaitu bahwa manusia diberikan kemampuan untuk multitasking, serta waktu merupakan hal yang berharga.

Dari pengalaman tersebut, saya belajar bahwa keseimbangan antara akademis dan kegiatan lainnya dapat dicapai dengan manajemen waktu yang baik. Terbukti, prestasi akademis saya pun tetap berjalan dengan baik.


Tasha merupakan salah satu Campus Ambassador Dana Cita batch pertama. Sebelumnya cerita mahasiswa yang mengidolakan Elon Musk ini pernah dibagikan di blog Dana Cita tentang pentingnya berorganisasi.

Leave A Comment

Share via