||Dana Cita Inspiring Forum: Cara Menemukan Passion dan Mengubahnya Menjadi Karier

Dana Cita Inspiring Forum: Cara Menemukan Passion dan Mengubahnya Menjadi Karier

2019-04-16T16:24:45+00:00News|0 Comments

Passion. Satu kata yang sangat sering kita dengar, tapi mungkin belum kita temukan artinya di kehidupan nyata. Hal itulah yang melatarbelakangi Dana Cita untuk mengajak anak-anak muda menemukan passion-nya lewat acara Dana Cita Inspiring Forum.

Selain berupaya menjadi sebuah platform yang dapat memfasilitasi kebutuhan pembiayaan pendidikan, Dana Cita memang berkomitmen untuk mewadahi serta mengembangkan minat, kemampuan, dan aspirasi anak-anak muda di Indonesia.

Sebagai salah satu wujud komitmen tersebut, Dana Cita kembali mengadakan Dana Cita Inspiring Forum (DCIF) untuk wilayah Jabodetabek pada hari Minggu, 31 Maret 2019.

Bertempat di MULA by Galeria Jakarta, acara tersebut diawali dengan sebuah sesi eksklusif untuk pengembangan diri anggota komunitas yang terdiri dari Campus Ambassador dan para pengguna pinjaman pendidikan Dana Cita.

Tema yang diangkat adalah Digital Marketing 101 dengan materi yang disampaikan oleh Product Marketing Manager Dana Cita, Kyrie Canille.

Meskipun tak semua peserta memiliki latar belakang marketing, tapi mereka berkumpul di ruangan yang sama dengan harapan bisa menambah pengetahuan sambil membangun networking.

Siapa tahu di antara mereka ada yang menyadari passion-nya terhadap dunia digital marketing?

Dana Cita percaya bahwa mengetahui passion dapat membuat hidup lebih bahagia, terlebih lagi kalau kita bisa mengubah passion tersebut menjadi sebuah profesi yang menghasilkan uang.

Hal itu pun dibuktikan oleh ketiga orang pembicara yang hadir dalam sesi kedua acara, yakni Dana Cita Inspiring Forum: “How to Turn Your Passion into a Career”.

Dana Cita Inspiring Forum | cara menemukan passion

Kak Kyrie Canille bersama anggota komunitas Dana Cita Jabodetabek

Traveling di dunia hiburan

Narasumber pertama, Abiyoga Harbunangin, merupakan lulusan S1 Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran. Alih-alih mengejar karier di bidang yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya, ia justru menjadi presenter program televisi Mancing Mania dan Jejak Petualang.

Semuanya bermula ketika Kak Abi terlibat dalam sebuah project yang mengharuskan ia untuk melakukan olahraga ekstrim di alam terbuka, yakni rock climbing. Meski medan yang ditempuh cukup berat dan cuacanya panas, ia mengaku sangat menikmati pengalaman pertamanya itu.

Momen tersebut menyadarkan Kak Abi bahwa travelingmengunjungi tempat baru, bertemu orang baru, dan mencoba hal-hal baru, khususnya di luar kota, adalah hal yang ingin terus ia lakukan dalam hidupnya.

“Passion itu sesuatu di mana pikiran dan perasaan jadi satu untuk melakukan suatu kegiatan yang hasilnya maksimal, dan lo menikmatinya. Gak terlalu mikirin gajinya berapa atau capeknya kayak apa,” jelasnya.

Kak Abi mungkin cukup beruntung karena “tidak sengaja” menemukan passion-nyawalaupun ia merasa cukup terlambat. Namun, bagi mereka yang masih bertanya-tanya apa passion-nya, Kak Abi membagikan beberapa cara yang bisa diterapkan.

Kalau secara tradisional kita mengenal upacara Tedak Siten, yang konon dapat menentukan masa depan seorang anak, di era modern ini kita bisa mencari tahu passion dengan mengambil tes minat dan bakat, atau by experience, yakni mencoba berbagai hal untuk mengeksplorasi diri.

Cara kedua tadi sangat disarankan. Sebab, kita bisa mengumpulkan banyak pengalaman terlebih dahulu, sebelum akhirnya menemukan mana yang paling pas dan menimbulkan kecintaan dari dalam diri.

Nah, kalau passion sudah diketahui, selanjutnya tinggal bagaimana kita mengubah itu menjadi sesuatu hal yang menghasilkan.

Dana Cita Inspiring Forum | cara menemukan passion

Abiyoga Harbunangin, lulusan S1 Hubungan Internasional yang kini menjadi presenter program televisi

Mungkin banyak di antara kita yang merasa terjebak dalam sebuah pekerjaan atau jurusan kuliah yang salah dan tidak membuat kita bahagia. Kak Abi sendiri berpesan agar sebisa mungkin kita segera keluar dari kondisi tersebut.

Baginya, tak ada kata terlambat untuk mengejar passion selama kita punya komitmen, kegigihan, serta keberanian untuk mengambil risiko. Apalagi kemajuan teknologi saat ini telah membuka lebar kesempatan bagi siapa saja untuk menyalurkan passion-nya.

Sebagai contoh, salah satu peserta DCIF bercerita bahwa ia tidak menikmati jurusan kuliahnya saat ini dan menyadari bahwa passion-nya adalah mengajar. Menurut Kak Abi, keberadaan Internet bisa membantunya menyalurkan passion tersebut.

Misalnya, menjadi pengajar di platform kursus online atau membuat channel Youtube. Keduanya bukan hanya dapat membahagiakan diri, tapi juga menghasilkan uang.

Menciptakan impact melalui passion

Pengalaman kuliah yang tak sesuai minat juga dialami oleh pembicara kedua, Devina Mahendriyani. Ia adalah Miss Scuba Indonesia 2016 yang aktif mengkampanyekan pelestarian lingkungan, dan kini bekerja sebagai Brand Communications Specialist di sebuah media online.

Walaupun Kak Devina menempuh studi S1-nya di jurusan Arsitektur Universitas Parahyangan, secara jujur ia menceritakan bahwa keputusan untuk kuliah di jurusan tersebut bukan datang dari keinginan sendiri, melainkan kedua orangtuanya.

Dana Cita Inspiring Forum | cara menemukan passion

Devina Mahendriyani, Miss Scuba Indonesia 2016 yang peduli lingkungan

Lulus kuliah, ia sempat bekerja di sebuah perusahaan konsultan arsitek selama tiga bulan, sebelum akhirnya mendapat tawaran untuk menangani content sebuah website arsitektur yang fokus pada bangunan ramah lingkungan.

Secara perlahan, pekerjaan tersebut membuat Kak Devina berpindah haluan ke bidang komunikasi dan pemasaran. Di saat yang sama, ia juga jadi semakin peduli akan isu-isu lingkungan. Ditambah lagi setelah ‘ketagihan’ dengan olahraga scuba diving.

Keindahan alam bawah laut Indonesia yang tercemar oleh sampah menyadarkan Kak Devina bahwa ia harus berbuat sesuatu untuk memperbaikinya. Ia pun menemukan kontes Miss Scuba Indonesia yang visi misinya sejalan dengan keinginan dirinya untuk melestarikan alam.

Keikutsertaan Kak Devina di Miss Scuba Indonesia membuka kesempatan baginya untuk terlibat dalam banyak kegiatan positif yang memberikan dampak nyata bagi lingkungan, di antaranya menjadi pembicara seminar yang bertujuan mengedukasi masyarakat tentang pelestarian laut.

Serupa dengan Kak Abi, pertemuan Kak Devina dengan passion-nya juga awalnya tak disengaja lewat pengalaman. Meski demikian, keputusan untuk mendalami passion tersebut datang dari dirinya sendiri.

Kak Devina mengingatkan bahwa kita bebas mencoba sebanyak-banyaknya hal sampai menemukan passion.

“Jangan takut mencoba. Kalau ternyata gak suka (dengan hal yang dilakukan), gak apa-apa. At least, coba dulu. Tapi kalau mau dilanjutkan, maka harus consistent dan persistent.”

Pegiat lingkungan hidup yang berjiwa bisnis

Nah, sosok inspiratif berikutnya di DCIF kali ini bernama Edy Fajar Prasetyo. Di usianya yang masih muda, Kak Edy telah melakukan sebuah inisiatif yang berdampak besar, yakni mendirikan Eco Business Indonesia (EBI), sebuah komunitas untuk memberdayakan masyarakat melalui pengolahan sampah.

Profesi sebagai sociopreneur bukan hal yang baru buat Kak Edy. Pasalnya, dunia entrepreneur memang sudah cukup lama ia tekuni. Saking cintanya, ia tidak melihat setiap kerugian yang ia alami sebagai kegagalan, melainkan sebagai cost yang ditukar dengan pelajaran berharga.

Passion tersebutditambah dengan kepedulian Kak Edy terhadap lingkungan hidupmelahirkan sebuah ide kreatif. Lulusan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang pernah menerima beasiswa Bidikmisi ini sukses mengembangkan bisnis, yang berangkat dari gagasan untuk menjadikan sampah sebagai alat intervensi permasalahan sosial yang ada di Indonesia.

Secara giat, Kak Edy menggerakkan para ibu rumah tangga untuk menghasilkan produk kerajinan tangan seperti tas, dompet, dan sebagainya. Melalui bisnis yang telah membawanya menginjakkan kaki di benua Eropa ini, Kak Edy tidak hanya memperbaiki perekonomian masyarakat, tapi juga mengembangkan soft skill mereka.

Kalau ada yang bilang mencari passion berarti mencari apa yang kita sukai, Kak Edy justru percaya bahwa hal itu bisa dilakukan dengan belajar menyukai hal-hal di sekeliling kita.

“Daripada ribet menemukan passion, coba mulai senangi berbagai macam hal yang ada di sekeliling kita. Jadikan setiap hal baru sebagai challenge, bukan beban. Ketika ada amanah baru, tanggung jawab baru, gue selalu berpikir positif; bukan tanggung jawabnya yang salah, tapi pundak gue yang harus dikuatkan.”

Selanjutnya, menjalankan profesi yang berawal dari passion tentu bukan tanpa usaha. Walaupun Kak Edy punya passion terhadap bisnis, ia juga pernah mengalami kegagalan. Namun, selalu ada pelajaran yang bisa dipetik dari kegagalan tersebut. Sesuai prinsip yang selalu ia pegang, “setiap teman adalah guru, setiap tempat adalah sekolah.” Artinya, kita bisa belajar di mana pun.

Dana Cita Inspiring Forum | cara menemukan passion

Edy Fajar Prasetyo, pendiri Eco Business Indonesia

Setelah ketiga pembicara selesai membagikan inspirasinya, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, kuis, lalu ditutup dengan foto bersama. Seluruh peserta tampak senang dan puas. Kami pun berharap agar semua peserta bisa membawa pulang banyak cerita dan pelajaran bermakna, yang berguna bagi perjalanan studi maupun karier mereka. 🙂

Dana Cita Inspiring Forum | cara menemukan passion 4

Seluruh peserta berfoto dengan pembicara dan tim Dana CIta

Leave A Comment

Share via