|, Pengembangan Diri|Juarai Belasan Kompetisi, Mahasiswa UGM Ini Beri Motivasi untuk Para Anak Muda

Juarai Belasan Kompetisi, Mahasiswa UGM Ini Beri Motivasi untuk Para Anak Muda

Saat bersekolah di SMAN 1 Surakarta, Rizal merupakan siswa yang berprestasi di kelas dan aktif di berbagai organisasi. Akan tetapi, ketertarikannya untuk mengikuti berbagai kompetisi baru tumbuh setelah ia jadi mahasiswa UGM (Universitas Gadjah Mada).

Meskipun tidak menggambarkan dirinya sebagai sosok yang ambisius, laki-laki bernama lengkap Afrizal Hakim Ahmad Faiz ini cukup “ketagihan” mengikuti kompetisi business case, lomba karya tulis, dan sebagainya. Hal itu bermula saat Rizal memasuki semester 3 di UGM.

Memaksimalkan masa kuliah dengan ikut kompetisi

Diakui Rizal, tahun pertamanya di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM ia lalui tanpa mengikuti kegiatan non-akademik. Namun, pertemuan dengan seorang kakak tingkat menyadarkan ia bahwa masa-masa kuliah tak semestinya dilewatkan hanya dengan belajar di dalam kelas saja.

Wejangan yang ia terima pun menumbuhkan semangat dalam diri Rizal untuk mengikuti kompetisi pertamanya, yakni lomba karya tulis ekonomi Islam. Berkat bimbingan dari sang kakak tingkat, ia berhasil meraih juara 1.

Selain keinginan dari individu itu sendiri, lingkungan yang positif juga menjadi faktor yang menentukan keaktifan mahasiswa dalam mengejar prestasi di bangku kuliah. Menurut Rizal, seandainya ia tidak berkuliah di UGM, mungkin pencapaiannya tak akan segemilang sekarang.

Hingga tahun terakhirnya di UGM, Rizal sudah mengikuti belasan kompetisi dan pernah meraih beasiswa dari Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ Foundation. Meskipun saat ini tengah sibuk mengerjakan skripsi sembari menjadi Asisten Dosen, Rizal tetap tak ingin melewatkan berbagai kesempatan perlombaan yang datang.

Dana Cita | mahasiswa UGM Juarai Kompetisi

Bersama timnya, Afrizal menjuarai National Business Solution Competition di Universitas Padjadjaran

Pada bulan Maret mendatang misalnya, Rizal akan berangkat ke Tiongkok dalam rangka mengikuti program exchange trip yang diselenggarakan oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), bekerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok.

Mahasiswa yang bercita-cita jadi konsultan ini memang baru saja terpilih sebagai salah satu delegasi Write to China 2019. Bersama 19 peserta lain yang memenangkan kontes esai bertemakan “Strengthening Indonesia-China Bilateral Relationship” tersebut, Rizal akan mengunjungi Negeri Tirai Bambu itu selama tiga minggu.

Sudah cukup banyak perlombaan yang mengantarkan Rizal ke berbagai kota di dalam maupun luar negeri. Sebelumnya, ia juga pernah berkunjung ke Singapura setelah lolos seleksi untuk menyelesaikan business case di Singapore Management University (SMU).

Selalu ada pelajaran di balik kegagalan

Sekilas tampaknya kesuksesan demi kesuksesan berhasil dicapai oleh Rizal dengan begitu mudah. Padahal, tak sedikit pula kegagalan yang terjadi sepanjang proses tersebut.

Rizal mengungkapkan bahwa di setiap kompetisi yang ia ikuti, selalu ada hal-hal kecil yang jadi pembelajaran.

“Nge-blank ketika presentasi pernah, di depan juri pakai bahasa Inggris yang masih terbatas sehingga presentasinya jelek juga pernah. Banyak sih momen-momen yang memalukan, tapi itu semua jadi learning opportunities. Dari situ kita tahu kekurangan kita sehingga bisa belajar.”

Sebelum mulai mengumpulkan pengalaman berkompetisi, Rizal pernah merasakan salah satu kegagalan terbesar dalam hidupnya, yakni ketika mengikuti SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) di SMA.

Saat itu, Rizal yang selalu masuk 10 besar di angkatannya merasa cukup percaya diri dengan hasil seleksi tersebut. Sayangnya, kenyataan berkata lain. Kedua perguruan tinggi yang ia pilih di jalur SNMPTN, yakni UI dan UGM, tak ada yang memberinya kabar baik.

Rizal yang kecewa dengan hasil dan proses penilaian SNMPTN, sempat melewati masa-masa down selama seminggu. Apalagi ia mengaku tidak mempersiapkan diri untuk mengikuti seleksi jalur lain, baik SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) maupun Ujian Mandiri.

Menyadari ujian SBMPTN yang sudah di depan mata, Rizal pun segera melawan keputusasaannya dengan melakukan persiapan belajar secara intensif. Ia sadar bahwa terlalu lama larut dalam kekecewaan hanya akan melahirkan penyesalan yang lebih besar.

“Di SNMPTN kan sudah gak diterima. Kalau SBMPTN juga gak segera dipersiapkan, (bisa jadi) aku harus mengambil gap year. Karena takut menyia-nyiakan waktu setahun itu, makanya tiga minggu yang tersisa (sebelum ujian SBMPTN) benar-benar aku maksimalkan.”

Berkat kerja kerasnya dalam waktu singkat, bungsu dari lima bersaudara ini berhasil diterima di perguruan tinggi impiannya lewat jalur SBMPTN. Ia pun harus merantau dan tinggal seorang diri di Yogyakarta demi menempuh studinya jurusan Manajemen.

Meskipun perjalanan Rizal untuk sampai ke titik ini tak selalu berjalan mulus, Rizal mendapat banyak sekali pelajaran berharga yang akan sangat bermanfaat saat terjun ke dunia kerja nanti.

Bagaimana tidak? Persyaratan mengikuti perlombaan yang telah berkali-kali ia lewati membuatnya semakin terlatih membuat CV, menulis motivational letter, serta menjalani interview.

Selain kemampuan teknis alias hard skill, soft skill Rizal juga ikut terasah karena kesibukannya di perkuliahan, organisasi, serta kegiatan perlombaan. Teamwork dan time management adalah dua di antaranya.

Dana Cita | mahasiswa UGM Juarai Kompetisi

Saat mengikuti program Young Leaders for Indonesia tahun 2018

Terlepas dari kepribadiannya yang tergolong tipe INFJ, Rizal mengaku selalu tertarik membangun hubungan dengan orang lain. Beruntungnya, tanggung jawab di dalam dan luar kampus membuat networking Rizal semakin luas.

Selain meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan bekerja sama dalam tim, Campus Ambassador Dana Cita ini juga dituntut untuk belajar mengelola waktu dengan baik.

“Awalnya keteteran ‘Gimana nih bagi waktu antara kerjain tugas organisasi, kuliah, dan lomba?’ tapi seiring berjalannya waktu, time management-nya tertata sendiri. Kalau kita mau belajar time management, kita memang harus learning by doing.”

Semua manfaat ini tentu saja tidak bisa didapatkan secara instan. Harus ada keinginan yang kuat untuk belajar dan mengembangkan diri, serta tentunya inisiatif untuk memulainya. Itu pula yang menjadi motivasi Rizal dalam meraih keberhasilannya.

Di luar sana banyak mahasiswa yang punya segudang mimpi, tapi ragu untuk memulainya karena minder atau takut gagal. Selama menjadi mentor buat adik-adik tingkatnya di kampus, Rizal tak pernah bosan mengingatkan mereka akan pentingnya mencoba dan pantang menyerah.

“Jangan langsung patah semangat kalau gagal. Aku pun dari banyak kesempatan, gak semuanya berhasil. Di balik keberhasilan seseorang, ada kegagalan-kegagalan yang tak terlihat. Yang penting coba dulu karena kita gak akan pernah tahu mana yang akan berhasil.”

Dana Cita | mahasiswa UGM Juarai Kompetisi

Saat mengikuti Deloitte Indonesia Risk Intelligence Challenge

Leave A Comment

Share via