||Bagaimana Traveling Dapat Membuka Pikiran: Kisah Mahasiswa Universitas Airlangga

Bagaimana Traveling Dapat Membuka Pikiran: Kisah Mahasiswa Universitas Airlangga

Penulis: Hadit Fikri Falah – Pengalaman berpindah-pindah tempat tinggal menjadi sebuah cerita yang berkesan buat Hadit. Selain membuka pikiran, bertemu dengan berbagai macam orang saat traveling juga ia percaya dapat menyembuhkan rasisme di masyarakat.


Saya lahir di Surabaya pada 18 November 1997. Dua tahun setelah itu saya pindah ke Banjarmasin, Kalimantan Tengah. Di umur enam tahun saya pindah ke Batam, Riau. Tinggal di Jakarta pada umur 11 tahun, dan setelah dua tahun di sana akhirnya kembali ke kota kelahiran saya, Surabaya, untuk mengambil pendidikan SMA dan kuliah.

Sejak kecil saya memang sering berpindah-pindah. Hal ini dikarenakan tuntutan pekerjaan orangtua saya yang memiliki mobilisasi sangat tinggi. Pada dasarnya, ada suka dan duka menjadi anak yang sering pindah-pindah. Namun, saya lebih melihat sisi positifnya.

Pengalaman tersebut membuat saya memiliki teman-teman yang beragam. Saya juga memiliki banyak cerita, dan yang paling penting saya dituntut menjadi seseorang yang open minded untuk dapat bersosialisasi. Selain itu, saya bisa berbicara bahasa melayu, Jawa halus, Kalimantan, dan Betawi.

Namun, di tulisan kali ini saya ingin menceritakan bagaimana traveling mampu menyembuhkan penyakit rasisme yang didasari oleh pikiran yang tertutup. Tulisan ini terinspirasi dari sebuah frasa seorang sastrawan Spanyol bernama Miguel de Unamuno, di mana ia mengatakan ‘Fascism is cured by reading and racism is cured by traveling’.

Saya sangat setuju dan merasa bahwa traveling secara tidak langsung mampu menjadi obat rasisme. Saya melihat rasisme sebagai suatu hal yang sangat buruk dan hanya menciptakan permasalahan dalam berbagai lini berkehidupan di masyarakat.

Saya kemudian mengembangkan keingingan untuk dapat berkeliling dunia—bukan untuk sekadar jalan-jalan, melainkan menjadi seorang pengelana yang ingin bertemu orang-orang dan pengetahuan baru di dunia.

Di tulisan ini saya akan menceritakan bagaimana traveling dapat membuka pikiran manusia serta mengatasi rasisme. Saya akan memilih beberapa tempat yang menurut saya sangat menarik dan menjadi narasi tersendiri bagi pengalaman hidup saya.

Kumamoto, Jepang – 8 Februari 2017

Kumamoto merupakan kota yang pertama kali saya datangi dalam rangka kegiatan akademis kemahasiswaan. Pada tahun 2017 saya terpilih menjadi delegasi perguruan tinggi saya untuk menghadiri sebuah acara internasional di Kumamoto University, Kumamoto, Jepang.

Tempatnya tidak seramai Osaka, Fukuoka, ataupun Tokyo. Namun, suasana di sana benar-benar harmonis, di mana waktu terasa sangat cepat dan setiap momen terasa sangat indah.

Acara internasional tersebut dihadiri oleh 58 mahasiswa dari 21 negara, yaitu Austria, Tiongkok, Nepal, Kongo, Thailand, Myanmar, Rusia, Spanyol, Slovenia, Uzbekistan, dan negara-negara Asia lainnya.

Di sana saya berinteraksi langsung dengan mereka selama 20 hari. Kami berbagi makanan, cerita, dan pengetahuan. Saya belajar bahasa mereka sebanyak-banyaknya dan melihat banyak hal yang mirip dengan bahasa Indonesia, seperti kata ‘gratia’ dalam bahasa Spanyol yang sama dengan ‘gratis’ di bahasa Indonesia, kemudian ‘zapato’ yang artinya adalah ‘sepatu’.

Di Kumamoto ini pula saya melakukan pengabdian masyarakat di sebuah pedesaan yang satu tahun sebelumnya mengalami gempa.

Walaupun terkadang masih sulit mendengarkan bahasa Jepang, saya bisa memahami para korban yang saya temui melalui gestur mereka. Saya senang karena mendapatkan pengalaman yang luar biasa. Pengalaman itu membuka mata saya sebesar-besarnya bahwa banyak framing media yang melupakan detail-detail penting untuk menunjang pengetahuan.

Ketika saya berbagi cerita dengan teman-teman saya dari luar negeri, saya bisa melihat hal-hal menarik di luar sana yang tidak dapat ditemukan hanya dengan duduk di depan komputer.

Traveling berbeda dengan browsing. Traveling memberikan sebuah pengalaman geopolitik yang tidak bisa didapat hanya dengan browsing. Ketika traveling, saya terkadang menemukan hal menarik yang tidak terduga. Sedangkan dalam browsing, ada keterbatasan pengetahuan yang muncul melalui kata kunci.

Sejak saat itu saya menjadi sangat suka melakukan traveling. Namun, ada tiga hal yang harus diperhatikan ketika melakukan traveling.

Bagaimana membuat traveling lebih berkesan

Pertama, traveling berbeda dengan shopping. Ketika ke luar negeri teman-teman sering sekali tergiur dengan barang-barang yang dijual di mal-mal yang tidak ada di Indonesia. Namun, saya menganggap traveling merupakan tujuan utama, sedangkan shopping merupakan bonus.

Secara pribadi saya juga menganggap shopping dapat membuang waktu sangat lama ketika traveling, dan membuat barang bawaan kita jadi lebih banyak. Tentu hal seperti itu akan sangat menghambat mobilisasi kita.

Kedua, traveling tanpa travel agent. Saya merasa dengan traveling sendiri kita bukan hanya mendapatkan apa yang ingin kita lihat, tapi juga apa yang butuh kita lihat.

Saya menemukan perjalanan yang sudah dirancang oleh pihak-pihak universitas jauh lebih menyenangkan dan mampu menunjukkan hal-hal yang sangat menarik di perjalanan. Maka dari itu, exchange program merupakan cara yang sangat saya rekomendasikan untuk melakukan suatu perjalanan.

Terakhir adalah talk with new people. Walaupun kadang terdapat kendala bahasa, setidaknya kita harus menunjukkan sedikit usaha untuk berbicara dengan orang-orang di sana dengan bahasa mereka.

“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.”

Saya yakin teman-teman akan menemukan hal menarik dari cerita orang-orang baru. Bagi saya traveling itu adalah tiga hal, yaitu people, food, and spaces.


Hadit adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga. Selain aktif berorganisasi, Hadit juga pernah menerima beberapa beasiswa dan punya banyak prestasi di bidang olahraga.

Leave A Comment

Share via