||Berprestasi, Bentuk Kontribusiku untuk Negeri

Berprestasi, Bentuk Kontribusiku untuk Negeri

Penulis: Indra Febrianto –  Campus Ambassador Dana Cita satu ini dikenal dengan prestasinya yang gemilang di Universitas Negeri Malang. Segala pencapaian yang berhasil diraih ia anggap sebagai bentuk kontribusinya untuk agama, bangsa, dan negara.


“Jika belajar dianggap sebagai ibadah, maka prestasi adalah dakwah”

Dibesarkan oleh keluarga yang sederhana mengajarkan saya arti penting bersyukur atas segala potensi yang saya miliki. Saya selalu berusaha untuk memanfaatkan kesempatan yang ada di depan mata.

Berkali mendulang kegagalan, memberikan warna tersendiri bagi hidup saya. Teringat perjuangan keras saya untuk bisa masuk dan bertahan di perguruan tinggi negeri ini, hingga perjuangan mendapat beasiswa untuk menyelesaikan kuliah.

Sebagai salah satu mahasiswa yang menerima beasiswa Bidikmisi pengganti, saya sadar bahwa ada janji prestasi yang perlu saya bayar untuk negeri ini. Saya sadar bahwa negara telah mengeluarkan banyak uang untuk biaya hidup dan kuliah saya selama di Universitas Negeri Malang.

Inilah yang menjadi niat awal saya untuk terus mengembangkan diri dan memberikan manfaat bagi agama, bangsa, dan negeri tercinta.

Setelah mendapat beasiswa Bidikmisi di pertengahan semester empat, saya mulai mengubah pola hidup. Di awal menjadi mahasiswa baru, saya hanya fokus agar bisa bertahan di kampus tercinta ini dengan terus bekerja untuk tambahan biaya kuliah dan biaya hidup.

Sayangnya, saya sedikit mengesampingkan pengembangan diri dan prestasi, hingga Allah memberikan titik cerah pada hidup saya melalui beasiswa ini. Terbukti anugerah tersebut berhasil membangkitkan semangat saya untuk mengembangkan diri dan berprestasi.

Pada semester itulah saya mulai mengikuti kompetisi, konferensi, dan kegiatan kepemudaan lainnya. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan berganti semester, hingga pada semester tujuh saya mendapat anugerah yang luar biasa sekaligus kepercayaan besar untuk menjadi Mahasiswa Berprestasi Utama (MAWAPRES) Universitas Negeri Malang (UM), bahkan berhasil membawa nama baik UM di ajang Pilmapres Nasional 2018 di Surakarta.

Setelah ajang Pilmapres Nasional selesai, saya sadar pencapaian dan kepercayaan yang saya miliki sekarang tidak akan berarti jika hanya saya simpan untuk diri sendiri.

Saya percaya, jika belajar dianggap sebagai ibadah, maka prestasi adalah dakwah. Saya pun bertekad untuk menyebarkan manfaat bagi teman-teman dan masyarakat sekitar dengan bekal yang saya miliki.

Saya memutuskan untuk menghidupkan kembali Ikatan Mahasiswa Berprestasi (IMAPRES) UM sebagai media dan wadah bagi mahasiswa UM, khususnya dalam menemukan dan mengembangkan potensi diri hingga bisa menjadi inspirasi bagi orang sekitarnya.

Imapres Talks merupakan kegiatan rutin yang saya dan teman-teman Imapres lainnya rintis dan terus jalankan. Saya percaya bahwa manfaat bisa didapatkan dari kesederhanaan, dan kesederhanaan itulah yang kami ciptakan dari Imapres Talks.

Sebuah organisasi pastinya perlu melakukan regenerasi untuk terus melanjutkan perjuangan yang telah dirintis. Regenerasi inilah yang nantinya akan terus menghidupkan Imapres Talks, meskipun suatu saat nanti saya dan teman-teman sudah menyelesaikan studi S1.

Sebagai mahasiswa program studi Pendidikan Ekonomi, tentunya saya tidak terlepas dari tugas dan tanggung jawab sebagai seorang pendidik dan ekonom nantinya. Hal inilah yang mengobarkan semangat saya untuk memperdalam ilmu dan pengalaman dalam pendidikan dan ekonomi.

Setelah menjadi salah satu guru privat di Lembaga Bimbingan Belajar di Malang, jiwa pendidik saya semakin terpanggil. Betapa serunya mendidik calon generasi emas yang akan memberikan karya terbaik mereka untuk bangsa dan negara suatu saat nanti.

Hal ini juga yang melatarbelakangi saya bersama Komunitas Ekonomi Kerakyatan (EKORA) untuk menginisiasi kegiatan sosial yang bernama DEWANTARA dan terjun langsung ke sekolah-sekolah pinggiran area Malang Raya. Melalui kegiatan tersebut, kami membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.

Nawa Cita ketiga Presiden Joko Widodo inilah yang berusaha kami wujudkan melalui pembangunan sektor pendidikan di DEWANTARA. Selain itu, social project bernama GELORA (Gerakan Kelompok Pengelolaan Sampah Kreatif) menjadi awal semangat saya untuk memberikan manfaat dalam bidang ekonomi. Bersama dengan teman-teman kami berusaha memberikan manfaat kepada KPSM (Kelompok Pengelolaan Sampah Mandiri) di kota Batu.

Berangkat dari situlah jiwa sosial saya terus tumbuh dan berkembang, hingga saya memiliki rencana untuk memberikan kontribusi bagi agama, bangsa, dan negara dalam lima tahun ke depan.

Di tahun 2019 ini, target saya adalah menyelesaikan studi S1 dan mempersiapkan diri untuk melanjutkan studi S2 melalui beasiswa yang tersedia. Selama studi S2 saya akan tetap aktif membantu Imapres UM untuk terus berkembang dan berdampak bagi mahasiswa UM khususnya.

Waktu ini juga akan saya gunakan untuk memperdalam keilmuan dan pengalaman di bidang saya, sebagai salah satu bekal untuk langkah selanjutnya. Tiga tahun berlalu, saya harus menyelesaikan studi S2 saya, dan akan memilih akademisi sebagai profesi setelah lulus nanti.

Bekal yang telah saya dapatkan hingga S2 ini, InsyaAllah akan saya gunakan untuk merintis organisasi kepemudaan yang berkontribusi dalam sektor pendidikan. Youth Change Forum (YCF) akan  menjadi organisasi kepemudaan yang berisikan pemuda inspiratif dari daerah yang memiliki ketertarikan kuat dalam pendidikan. Social project DEWANTARA yang telah saya dan teman-teman lakukan di S1 menjadi bekal awal untuk penyusunan kegiatan utama di YCF.

Konsisten membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa menjadi target utama yang akan kami capai nantinya. Tentunya melalui organisasi inilah kami akan melahirkan generasi pemimpin masa depan yang berdaya saing dan berakhlak, melalui pendampingan intensif bagi anak-anak sekolah di desa untuk mengembangkan diri dan mencapai mimpinya.

Selama menebarkan manfaat melalui Youth Change Forum (YCF), saya juga akan mempersiapkan diri untuk melanjutkan studi S3 dengan beasiswa yang tersedia.

Lima tahun berjalan hingga saya telah menyelesaikan studi S3 saya, akademisi tetap menjadi profesi saya setelah lulus S3 nanti. Tentunya dalam kurun waktu itu Youth Change Forum (YCF) telah melakukan regenerasi dan memperbesar manfaatnya dengan membuka cabang di daerah-daerah lain.

Dalam kurun waktu inilah saya akan mencoba mendirikan perusahaan jasa training, consulting, dan organizing dengan bekal yang telah saya dapatkan sebelumnya.

Konsisten dengan keyakinan bahwa jika belajar dianggap sebagai ibadah, maka prestasi adalah dakwah, juga saya terapkan di Imapres UM. Selanjutnya, perusahaan jasa ini menjadi wadah bagi masyarakat untuk berprestasi dan melahirkan prestasi-prestasi lain untuk bangsa.

Di samping semua itu, saya percaya bahwa ada tanggung jawab di setiap detik kehidupan ini, hingga saya sadar sebagai seorang Muslim tentunya saya juga harus memberikan kontribusi bagi agama saya.

Terus bergerak dan berlomba-lomba dalam kebaikan untuk negeri harus terus saya lakukan, salah satunya dengan berprestasi. Sebagai wadah untuk memberikan kontribusi bagi agama, saya menjadi bagian dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang terus mengiringi langkah saya dalam menebar manfaat.

“The best way to find myself is to lose myself in the service of others” menjadi moto hidup yang terus saya pegang hingga saat ini.

Leave A Comment

Share via