||Cerita Campus Ambassador Dana Cita dan Kecintaannya pada Dunia Pendidikan

Cerita Campus Ambassador Dana Cita dan Kecintaannya pada Dunia Pendidikan

Penulis: Melisa Fitryana Santoso –  Sebelum merantau ke Yogyakarta untuk kuliah di UGM, Melisa selalu berambisi untuk meraih prestasi akademis dan nonakademis. Berikut ini cerita perjalanan studinya hingga bergabung dengan Campus Ambassador Dana Cita.


Perkenalkan nama saya Melisa Fitryana Santoso, mahasiswa D3 Akuntansi Universitas Gadjah Mada 2017. Saya berasal dari Medan, Sumatera Utara dan saya merupakan anak kedua. Di keluarga saya, pendidikan adalah hal yang paling penting—bahkan nomor satu, bagi saya.

Saya memiliki seorang kakak yang kuliah di S1 Sastra Inggris Universitas Indonesia. Dia adalah sumber inspirasi dan motivasi saya dalam menuntut ilmu. Saya selalu ingin terus berusaha lebih agar dapat mengalahkannya baik di kegiatan akademis ataupun nonakademis. Walaupun terdengar sangat ambisius, tapi itulah saya, selalu tidak ingin kalah dari kakak saya.

Dari SD sampai SMA, saya selalu berada di sekolah yang sama dengannya. Untungnya kami kuliah di universitas yang berbeda. Pada saat saya SMA, saya sudah mengikuti berbagai organisasi dan perlombaan. Walaupun belum pernah menjadi juara pertama, hal itu tidak pernah menyurutkan niat saya untuk terus berkembang dan tetap mencoba.

Adapun kegiatan yang pernah saya ikuti ketika SMA, yaitu Klub Intensif Jerman, Matriks (Klub Majalah dan Pers), dan Olimpiade Ekonomi. Di Klub Intensif Jerman, saya terpilih dalam 20 besar dari satu angkatan yang boleh mengikuti ujian sertifikat A1 dan A2 oleh Goethe Institut Jerman. Sedangkan di Matriks, saya menjabat sebagai jurnalis dan Bendahara.

Di klub tersebut, saya menyalurkan bakat menulis saya. Saya percaya bahwa bergabung dengan Matriks adalah cara untuk meningkatkan kemampuan yang saya miliki. Saya juga termasuk anggota Olimpiade Ekonomi di sekolah tingkat kabupaten, dan lomba terakhir saya di SMA adalah Lomba KEN (Kompetisi Ekonomi Nasional) FEB UGM 2016 di mana tim saya masuk 30 besar.

Berlanjut ke bangku kuliah, saya mengikuti berbagai kompetisi, yaitu Liga PKM tingkat Fakultas (Alhamdulilllah, tim saya lolos dan mendapatkan dana), Vocational Business Plan (masuk 5 besar), dan Hult Prize (lomba startup pertama di Indonesia yang diadakan oleh UGM—masuk 10 besar).

Saya belajar banyak dari berbagai lomba yang saya ikuti. Sdaya tidak pernah menyerah akan mimpi-mimpi saya walaupun saya mengalami banyak kegagalan. Saya menganggap kegagalan hanyalah bagian kecil dari kesuksesan.

Di samping mengikuti lomba, saya juga aktif di organisasi dan kepanitiaan—baik di dalam maupun luar kampus. Saat ini saya menjabat sebagai Wakil Koordinator Divisi Acara PPSMB tingkat Fakultas sekaligus Sekretaris di Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM).

Tentunya ini tidak menjadi hambatan bagi saya karena saya masih bisa me-manage waktu. Saya tidak ingin ketika lulus dari UGM, hanya prestasi akademis saja yang bisa saya tonjolkan. Saya ingin memiliki skill dan pengalaman organisasi yang lebih sehingga membuat diri saya berbeda dari yang lain.

Ketika saya melihat iklan di Instagram dan ada pembukaan pendaftaran Campus Ambassador Dana Cita, saya langsung mendaftar. Saya melihat bahwa Dana Cita memiliki misi yang sama dengan saya, yaitu pendidikan.

Mendengar kata pendidikan, saya tidak berpikir panjang. Dengan bergabung di Dana Cita, saya bisa membantu memperkenalkan solusi pembiayaan pendidikan ke masyarakat terutama teman-teman saya. Saya ingin membantu mereka untuk bisa merasakan pendidikan seperti saya.

“Pendidikan adalah senjata paling mematikan di dunia, karena dengan pendidikan, Anda dapat mengubah dunia”. – Nelson Mandela.

Saya setuju dengan apa yang dikatakan Nelson Mandela, Mantan Presiden Afrika Selatan, bahwa dengan pendidikan, seseorang dapat mengubah dunia. Saya percaya bahwa dengan adanya Dana Cita, siapa saja bisa melanjutkan pendidikan tanpa perlu takut dengan tidak adanya biaya.

Leave A Comment

Share via