||Mahasiswa Universitas Negeri Malang Ubah Penyesalan Jadi Pencapaian

Mahasiswa Universitas Negeri Malang Ubah Penyesalan Jadi Pencapaian

Penulis: Prasetio Febiantono Saputra – Masa-masa SMA yang kurang dimaksimalkan membuat Tio berusaha membayar penyesalannya di bangku kuliah. Setelah menjadi mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM), ia pun menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan organisasi yang manfaatnya benar-benar ia rasakan.


Perkenalkan, nama saya Prasetio Febiantono Saputra. Saya lahir di Bogor, 7 Februari 1998. Kini saya sedang menempuh pendidikan S1 di Universitas Negeri Malang jurusan Manajemen, dengan mengambil konsentrasi Manajemen Sumber Daya Manusia, serta menjadi bagian dari Campus Ambassador 2.0 Dana Cita.

Saya akan cerita sedikit tentang pengalaman yang saya rasakan sebelum dan setelah menjadi mahasiswa di Universitas Negeri Malang hingga sekarang, dan apa saja yang telah saya dapatkan selama di sana.

Cerita ini dimulai pada tahun 2016 ketika saya tamat Sekolah Menengah Atas. Saya mengakhiri jenjang pendidikan tersebut di salah satu SMA unggulan yang berada di kota Bogor, yaitu SMA Negeri 5. Saya sangat menikmati masa-masa menjadi pelajar SMA, di mana kata orang “SMA itu masa-masa paling indah”.

Benar saja, saya pun terlena dengan masa paling indah itu, mulai dari kisah persahabatan, pengalaman ‘cabut’ ketika jam belajar—yang tentunya tidak untuk ditiru, pacaran, dan banyak hal lainnya. Hari berlalu begitu cepat sampai tiba saatnya di penghujung masa SMA, tepatnya setelah Ujian Nasional (UNBK) berakhir.

Tuntutan dari orang tua dan keinginan pribadi terus berputar dalam pikiran, “Lanjut ke mana setelah SMA?”

Hasil UNBK akhirnya diumumkan. Nilai yang saya dapatkan lumayan pas-pasan karena saya terlalu menikmati masa-masa indah itu. Kecewa dengan nilai tersebut, orangtua akhirnya menyuruh saya untuk bekerja saja. Namun, saya berhasil meyakinkan mereka bahwa saya akan bersungguh-sungguh kuliah dan belum siap untuk bekerja.

Meski telah berhasil mengubah keputusan kedua orangtua, bukan berarti perjalanan saya selesai saat itu. Pertanyaan “di mana saya akan berkuliah menjadi persoalan yang harus segera dijawab.

Sama halnya setelah UNBK, hari yang berlalu begitu cepat saya rasakan. Saya berusaha keras untuk bisa masuk perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia,  mulai dari  SNMPTN, SBMPTN, SIMAK UI, Ujian Mandiri UNDIP, UNS, dan sebagainya saya coba, tapi hasilnya tidak ada yang lolos satu pun.

Rasa menyesal dan ketakutan menghantui diri karena saya kurang bisa memaksimalkan proses pembelajaran di SMA. Sampai akhirnya orangtua menyuruh saya untuk mencoba tes di Universitas Negeri Malang (UM). Alhamdulillah, berkat doa orangtua dan kerja keras saya, akhirnya saya diterima di perguruan tinggi tersebut.

Cerita ini belum selesai sampai di sini, saya pun harus berpisah dengan orang tua untuk mengenyam pendidikan di Kota Apel. Bukan persoalan yang mudah untuk berpisah dengan keluarga, apalagi jarak Bogor – Malang yang jauh menimbulkan perasaan homesick. Suasana hangat rumah, harumnya masakan ibu, petuah dari ayah, dan jahilnya kakak, menjadi bayang-bayang yang jarang ditemukan saat semester pertama di Malang. Akhirnya, saya memutuskan untuk menyibukkan diri dengan mengikuti beberapa organisasi sekaligus untuk mengobati rasa rindu tersebut.

Tak terasa, semester demi semester dapat dilalui dengan cepat hingga saya memasuki tahun ketiga di UM. Berawal dari mengikuti organisasi hanya untuk mengatasi rasa homesick hingga akhirnya saya mengetahui pentingnya organisasi sebagai modal keberhasilan mahasiswa.

Mengapa saya bisa mengatakan demikian? Karena saya telah merasakan manfaatnya.

Organisasi bukan sekadar kumpulan orang yang memiliki tujuan yang sama. Lebih dari itu, dalam organisasi kita dapat merasakan hal yang lebih kompleks, seperti dinamika anggota yang memiliki sifat berbeda, tuntutan mengambil keputusan atas perbedaan pandangan, relasi atau networking yang berkembang, kemampuan komunikasi dan leadership yang semakin terasah, dll. Itulah hal-hal yang saya rasakan setelah terlibat dalam organisasi.

Beberapa organisasi yang pernah atau sedang saya ikuti antara lain, HMI cabang Malang Komisariat Ekonomi UM (2016 – 2017), Koperasi Mahasiswa Universitas Negeri Malang (2016 – 2017), HMJ Manajemen Universitas Negeri Malang  (2017 – 2018), Himpunan Mahasiswa Manajemen Malang (2016 – 2017), Himpunan Mahasiswa Manajemen Indonesia Wilayah IV (2017 – 2019), Dewan Mahasiswa Fakultas Ekonomi UM 2018 – 2019, Dewan Perwakilan Mahasiwa Universitas Negeri Malang (2019 – 2020).

Berkat modal organisasi, saya pun percaya diri mengikuti Campus Ambassador Dana Cita 2.0 dan bangga ketika akhirnya berhasil menjadi bagian dari keluarga besar Dana Cita.

Akan tetapi, bukan hanya ilmu dari bangku perkuliahan dan organisasi saja yang saya dapatkan selama kuliah. Di sini saya juga mendapatkan tanggung jawab besar dan kepercayaan dari berbagai macam pihak, baik orangtua, dosen, maupun teman-teman. Hal ini membuat saya mampu berpikir lebih dewasa, menghargai semua hal, menjawab setiap persoalan yang dihadapi, dan bersyukur atas apa yang telah saya lalui untuk lebih mengenal diri seutuhnya.

Atas perjalanan yang penuh dengan tantangan—sebelum kuliah sampai saat ini, saya bersyukur dan bangga bisa melaluinya.

Itulah sedikit cerita yang bisa saya sampaikan dalam artikel ini.

Pesan saya, maksimalkan semua proses yang kalian jalani saat ini. Jangan sampai menyesal. Hargai semua hal dan jadikan itu sebagai proses mengenal diri. Selesaikanlah tanggung jawab hingga tuntas, dan sayangi orangtua. Pada akhirnya, kitalah yang menciptakan alur hidup sendiri karena hanya ikan mati yang mengikuti arus.


Sebelum menjadi Campus Ambassador Dana Cita, Tio sudah mengumpulkan pengalaman di lima organisasi mahasiswa, serta sejumlah kepanitiaan acara. Berkat keterlibatannya ini, Tio mendapatkan banyak pelajaran berharga yang mengubah pandangannya terhadap kehidupan.

Leave A Comment

Share via