||Manfaat Mengikuti Kompetisi bagi Pengembangan Diri Mahasiswa

Manfaat Mengikuti Kompetisi bagi Pengembangan Diri Mahasiswa

Penulis: Agnes Beatrice Sihombing – Beatrice, mahasiswi Universitas Diponegoro yang juga salah satu Campus Ambassador Dana Cita menceritakan pengalaman berharganya mendapatkan latihan pengembangan diri melalui berbagai kompetisi yang ia ikuti.


Cerita ini berawal ketika saya mulai menjadi mahasiswa baru di Fakultas Hukum (Universitas Diponegoro) UNDIP. Pada saat awal perkuliahan, saya mulai bingung untuk memilih kegiatan mahasiswa apa yang harus saya ikuti dan mana yang paling sesuai dengan passion saya.

Sampai akhirnya pada suatu waktu di pertengahan bulan September 2015, seorang kakak tingkat menyebarkan brosur mengenai seleksi lomba peradilan semu tingkat nasional atau yang lebih sering disebut dengan National Moot Court Competition (NMCC).

Catatan: moot court atau peradilan semu adalah kegiatan ekstrakurikuler yang biasa dilakukan di sekolah hukum, di mana peserta akan mengambil bagian dalam sebuah simulasi peradilan atau proses arbitrasi (seperti dikutip dari Wikipedia)

Dana Cita | Manfaat Mengikuti Kompetisi bagi Pengembangan Diri Mahasiswa

Seperti inilah suasana Moot Court (Photo by Beatrice)

Awalnya saya kurang begitu tertarik, karena saya belum begitu paham mengenai NMCC itu sendiri, bagaimana sistem lombanya, materi apa yang dilombakan dan siapa saja yang akan bersama saya di dalam satu tim nantinya.

Tetapi, setelah berdiskusi lebih lanjut dengan orang tua, akhirnya saya memutuskan untuk mendaftarkan diri.

Tak berselang lama saya pun mengikuti proses seleksinya dan pada awal bulan Oktober tahun 2015, saya dinyatakan diterima dan bergabung ke dalam tim NMCC Fakultas Hukum UNDIP untuk perlombaan yang diadakan di Fakultas Hukum UGM Yogyakarta.

Saya tentu merasa sangat senang dan bangga karena menjadi satu-satunya mahasiswa angkatan 2015 yang tergabung dalam tim tersebut, sedangkan rekan satu tim saya lainnya adalah angkatan 2014 dan 2013.

Namun, rasa senang dan bangga itu tidak berlangsung lama, karena ternyata proses di dalamnya tidak semudah yang saya bayangkan sebelumnya. Sebagai satu-satunya mahasiswa angkatan 2015, tentunya secara substansi saya sangat jauh tertinggal dari kelima belas kakak saya yang lainnya. Alhasil, di awal berjalannya tim saya sering merasa minder karena merasa tidak sepandai kakak-kakak saya yang lainnya.

Karena ke-“minder”-an itulah saya menjadi tidak fokus dan semakin tertinggal dari yang lainnya. Sampai akhirnya ada salah seorang kakak yang menyadari kesulitan yang saya alami dan menawarkan diri untuk mengajari saya di jeda jam istirahat kami.

Oh iya, sebelumnya saya ingin memberitahukan bagaimana proses kami mempersiapkan lomba ini.

Jadi, selama kurang lebih 4,5 bulan kami harus tinggal bersama di sebuah rumah yang kami sebut “sekre”, dengan ketentuan 30 menit setelah kuliah harus segera ke “sekre” untuk belajar serta mengerjakan berkas yang menjadi tugas kami.

Dana Cita | Manfaat Mengikuti Kompetisi bagi Pengembangan Diri Mahasiswa

Kurang lebih seperti inilah suasana rumah “sekre” (Photo by Beatrice)

Kemudian kami diperbolehkan untuk kembali ke kostan/rumah masing-masing pada pukul 18.00 WIB dan harus kembali lagi berkumpul di “sekre” pada pukul 20.00 WIB dan diberi waktu istirahat untuk tidur pada pukul 03.00 WIB (tentatif).

Setelah beberapa kali belajar bersama, saya pun akhirnya bisa mengejar ketertinggalan saya dan mulai menyamai kakak-kakak saya yang lainnya. Proses kami dalam mempelajari materi terbilang cukup singkat karena sesudahnya kami harus segera menyusun berkas-berkas yang menjadi materi lomba kami.

Berkas yang kami buat pun sangat banyak, sehingga wajar saja membutuhkan waktu yang lama untuk mempersiapkannya, dan tahap mengerjakan berkas ini merupakan tahap yang lebih sulit dari tahap belajar sebelumnya.

Di tahap ini setiap orang memiliki kewajiban untuk menyelesaikan berkas sesuai dengan peran masing-masing. Misalnya, seseorang berperan sebagai Penasihat Hukum, maka harus membuat semua berkas yang diperlukan oleh Penasihat Hukum di persidangan nantinya seperti eksepsi, pembelaan, duplik, dan lain sebagainya.

Setiap berkas yang kami buat pun tidak bisa seenaknya sendiri, kami harus memperhatikan kepentingan pihak yang lain, serta kepentingan tim tentunya.

Seorang Penasihat Hukum tidak bisa memaksakan Terdakwanya untuk dianggap tidak bersalah, tapi seorang Jaksa Penuntut Umum juga tidak bisa menuntut Terdakwa tanpa memberikan celah kepada Penasihat Hukum untuk membela—dalam arti kedudukan kedua belah pihak harus proporsional dan tetap pada alur pengembangan tim.

Tak jarang karena hal ini beberapa orang sering berdebat hingga bertengkar karena tidak tercapai kesepakatan di antara mereka.

Namun, ternyata tidak hanya perdebatan atau pertengkaran saja yang menjadi kendala dalam tim kami. Terkadang beberapa orang ada yang tidak menyelesaikan tugasnya sesuai dengan deadline yang sudah disepakati bersama, sehingga membuat beberapa pekerjaan tertunda.

Selain itu, padatnya agenda kami dalam tim ditambah dengan tanggung jawab kami sebagai mahasiswa dan anggota organisasi, sering membuat kami merasa kelelahan dan tak jarang tertidur ketika sedang mengerjakan tugas kami dalam tim. Saat-saat seperti inilah yang menguji saya untuk berani menegur kakak-kakak yang tidak menyelesaikan tugasnya sesuai dengan deadline ataupun yang tertidur.

Awalnya saya merasa ragu dan sungkan untuk mengingatkan, tetapi saya merasa bahwa jika hal ini terus dibiarkan akan membawa dampak yang tidak baik kepada tim kami dan sampai akhirnya saya pun memberanikan diri untuk menegur dengan cara yang sopan. Beberapa orang ada yang merasa senang karena diingatkan oleh saya, tapi ada juga yang merasa tersinggung dan marah ketika saya ingatkan.

Setelah tahapan berkas berhasil saya lalui, tibalah pada saat yang tersulit dari semua tahapan ini yaitu latihan sidang—karena dalam tahapan ini kami harus berlatih untuk memerankan peran yang sudah diberikan kepada kami.

Banyak hal yang harus kami lakukan, mulai dari berlatih untuk berbicara seperti seorang Hakim, Jaksa, ataupun Penasihat Hukum, sampai mempersiapkan kostum dan membuat alat bukti yang akan digunakan dalam persidangan nantinya dalam kurun waktu yang singkat.

Hal ini tentu memberikan tekanan tersendiri kepada kami. Ada beberapa orang yang sifatnya berubah menjadi lebih sensitif karena tertekan, ada juga yang menunjukkan sikap “bodo amat” ataupun menjadi lebih egois sehingga hanya mementingkan kepentingan diri sendiri tanpa melihat kebutuhan tim.

Di tengah kondisi tim yang sudah tidak kondusif ini saya sempat merasa bingung harus bersikap bagaimana, ditambah kondisi saya yang saat itu hanya seorang diri sebagai angkatan yang termuda. Beban yang saya rasakan terasa sangat berat sehingga terkadang saya berpikir untuk menyerah dan keluar dari tim.

Tetapi, berkat dukungan dari orang tua serta teman-teman terdekat saya, niatan untuk keluar dari tim saya urungkan dan saya memutuskan untuk tetap berjuang di dalam tim.

Sampai akhirnya pada 16 Januari 2016, tim kami pun berhasil memetik buah hasil usaha kami selama kurang lebih 4,5 bulan dengan meraih penghargaan sebagai Penasihat Hukum Terbaik, Penuntut Umum Terbaik, Hakim Terbaik, serta Panitera Pengganti Terbaik.

Setelah selesai dengan tim NMCC yang pertama, saya memutuskan untuk kembali berproses dengan mengikuti perlombaan yang sama di tahun 2016 dan tahun 2017 dengan waktu persiapan yang lebih lama yaitu, masing-masing selama 6 bulan.

Dana Cita | Manfaat Mengikuti Kompetisi bagi Pengembangan Diri Mahasiswa

Ini tim kami—setelah mengikuti salah satu kompetisi (Photo by Beatrice)

Walaupun tidak semuanya menghasilkan kemenangan atau penghargaan, tetapi saya merasa ada pelajaran jauh lebih penting yang bisa saya raih, di antaranya adalah belajar untuk menjadi pribadi yang percaya diri; belajar untuk bernegosiasi serta berkompromi dengan orang lain; belajar untuk menahan diri dan mengendalikan emosi; belajar untuk lebih peka dan peduli dengan kondisi sekitar; belajar untuk bekerja sama dengan orang banyak yang sifatnya beragam; belajar bagaimana mengatur dan menyeimbangkan kewajiban sebagai mahasiswa, anggota organisasi, dan anggota tim lomba; dan yang paling penting adalah belajar bagaimana menyelesaikan masalah demi masalah untuk meraih tujuan kita dan tidak menyerah pada apa yang kita impikan.

Semoga pengalaman yang saya bagikan ini bisa menjadi inspirasi bagi teman-teman di luar sana yang sedang berjuang di dalam suatu kompetisi ataupun berjuang dalam perkuliahan dan organisasinya.


Agnes Beatrice Sihombing sedang menjalani tahun terakhirnya di Fakultas Hukum UNDIP. Selain menjadi delegasi kompetisi Moot Court, mahasiswi asal Banjarnegara, Jawa Tengah ini juga sering menjadi panitia berbagai event kampus.

Leave A Comment

Share via