||Perjuangan Meraih Beasiswa Pertukaran Pelajar Intra ASEAN

Perjuangan Meraih Beasiswa Pertukaran Pelajar Intra ASEAN

Penulis: Fariz Shidqi – Fariz adalah salah satu Campus Ambassador Dana Cita yang bersemangat tinggi untuk mendapat  beasiswa pertukaran pelajar ke luar negeri. Perjalanannya untuk meraih impian tersebut pun ia bagikan dalam artikel ini.


Dalam menjalani kehidupan di dunia perkuliahan, salah satu Campus Ambassador Dana Cita ini telah memiliki rencana dan target yang harus ia capai di setiap tahun perkuliahannya. Tahun 2019 ini adalah tahun ketiga Fariz Shidqi dalam mengejar gelar sarjananya di Institut Pertanian Bogor.

Tahun pertama dan kedua sudah dilewatinya dengan memberi tanda checklist pada setiap target yang sudah tercapai di akhir tahun, dan mulai merangkai kembali rencana dan target apa yang akan ia lakukan di tahun ketiga masa perkuliahan.

Sejak SMA, Fariz memiliki mimpi untuk berkesempatan menjadi penerima beasiswa pertukaran pelajar di luar negeri. Hingga akhirnya Fariz menuliskan mimpinya tersebut di tahun kedua (tahun 2018) ia menjalani masa perkuliahannya.

Ketika Fariz direkomendasikan oleh dosennya untuk mendaftar program beasiswa pertukaran pelajar, Malaysia menjadi pilihan akhirnya pada saat pengambilan keputusan mengenai tempat ia akan menjalani masa pertukaran pelajarnya.

Tidak hanya berhenti sampai tahap pendaftaran, Universitas di Malaysia meminta Fariz untuk melakukan Tes Kemampuan Bahasa Inggris (English Proficiency Test), yaitu TOEFL ITP yang harus mencapai skor 500 dan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang harus mencapai angka lebih dari 3,00.

Semua persyaratan itu telah Fariz penuhi dengan matang. Hingga saat proses seleksi tahap akhir Program Beasiswa Pertukaran Pelajar ke luar negeri ini, Fariz dinyatakan tidak lulus. Pengumuman itu menjadi pukulan yang begitu menyakitkan menurutnya. Namun, di sisi lain ia berpikir mungkin 2018 bukanlah rezekinya untuk mendapatkan kesempatan itu.

Lalu, apa yang dilakukannya untuk mengganti target yang sudah gugur tersebut di tahun 2018?

Fariz sangat bersyukur dan tidak pernah merasa gagal lagi akan itu. Tahun 2018 adalah tahun bagi Fariz untuk mengembangkan kemampuan diri serta memperluas hubungan social, di mana kesempatan itu muncul satu per satu kepadanya.

Dimulai dengan bergabungnya Fariz menjadi bagian dari Campus Ambassador Dana Cita 1.0 yang menurutnya adalah salah satu pengalaman yang menjadi dasar keberhasilan Fariz hingga ia ada di titik ini.

Dana Cita memberikan (program) community building yang luar biasa, yang tidak mungkin saya dapatkan di dalam kelas selagi kuliah berjalan. (Program ini) membantu saya mengerti diri saya lebih dalam. Saya sangat senang bisa dipertemukan denga Co-Founder Dana Cita bersama rekan kerja lainnya,” ujarnya dengan penuh keyakinan.

Dana Cita | Meraih Beasiswa Pertukaran Pelajar

Mengikuti program Community Building “Workshop Design Thinking 101” di Tokopedia Tower (Photo by Dana Cita)

Setelah menjalani waktu bersama tim Dana Cita selama 8 bulan penuh, Fariz direkomendasikan oleh temannya untuk mengikuti seleksi dari salah satu program leadership yang diselenggarakan oleh salah satu Market Leader Company di industri kosmetik Indonesia, yakni Paragon.

Tak disangka seluruh tahap seleksi, yakni seleksi administrasi, video profile, creative essay, serta interview telah Fariz taklukan. Ia pun menjadi salah satu dari 150 awardee yang berasal dari empat universitas terbaik di Indonesia yakni UI, ITB, IPB, dan UNPAD—yang juga mengalahkan 740 pendaftar Paragon Indonesian Leaders 2018. Hal ini sekaligus menutup pencapaiannya di tahun 2018.

Dana Cita | Meraih Beasiswa Pertukaran Pelajar

Mendapatkan Award “The Best Team of Social Project” di Hemangini Hotel Bandung, 25 November 2018 (Photo by Fariz)

Mengingat kegagalan Fariz ketika mengikuti seleksi beasiswa pertukaran pelajar di tahun 2018, ia tidak berputus asa untuk mencobanya kembali dengan tujuan negara yang berbeda.

Vietnam menjadi target negara yang dipilih oleh Fariz untuk menjalani kegiatan pertukaran pelajarnya di tahun 2019.  Melihat keunggulan negara tersebut dalam komoditi kopi, membuat Fariz lebih yakin dengan pilihannya—mengingat ia berasal dari institusi pendidikan yang fokus pada sektor pertanian.

Serangkaian seleksi kembali Fariz hadapi, tapi kali ini ia lebih hati–hati dalam mengambil keputusan. Sampai di bulan November 2018, Tuhan pun tak pernah tidur. Secara resmi Fariz dinyatakan lulus dan menerima beasiswa program pertukaran pelajar mulai bulan Februari 2019 di Hanoi University of Science and Technology, Vietnam.

Dana Cita | Meraih Beasiswa Pertukaran Pelajar

Letter of Agreement dari Hanoi University of Science and Technology (Photo by Fariz)

Lagi lagi ucapan syukur tidak Fariz lupakan setiap mendapatkan apa yang ia inginkan. Menjadi mahasiwa yang biasa tidaklah cukup untuk Fariz.

“IPK bukanlah dasar yang menjadi batas setiap mahasiswa untuk berkembang, kuncinya adalah niat dan mau mempelajari hal baru,” pesan Fariz kepada teman- temannya.

Ia percaya bahwa kegagalannya bukan berarti gagal di setiap aspek kehidupannya, dan ia percaya bahwa kegagalan adalah awal dari sebuah kemenangan.

“I am Fariz Shidqi, a person who appreciates a challenge; a person who will always aim for success. I can’t wait to see what the future holds!” tutupnya pada cerita inspirasi kehidupannya di tahun 2018.


Fariz Shidqi adalah mahasiswa S1 Manajemen Institut Pertanian Bogor. Ia bergabung dengan angkatan pertama Campus Ambassador Dana Cita dan sampai saat ini masih aktif menyebarluaskan solusi pinjaman pendidikan terjangkau. Selain berorganisasi, Fariz juga mengikuti banyak perlombaan untuk mengasah kemampuannya di berbagai bidang.

Dana Cita | Meraih Beasiswa Pertukaran Pelajar

(Photo by Fariz)

Leave A Comment

Share via