||Singkirkan Rasa Takut untuk Mencoba Hal Baru

Singkirkan Rasa Takut untuk Mencoba Hal Baru

Penulis: Nur Aini Gama Lestari Kurangnya ambisi untuk meraih prestasi di bangku sekolah menimbulkan penyesalan bagi salah seorang Campus Ambassador Dana Cita dari Universitas Negeri Malang. Perempuan yang akrab disapa Tari ini menjadikan pengalamannya itu sebagai pelajaran agar tidak takut mencoba hal baru.


Tulisan ini saya buat ketika pulang dari Malaysia dalam rangka mengikuti kompetisi di bidang inovasi. Masih tak bisa lepas dari ingatan saya bagaimana perjuangan tim saya  hingga berhasil mencapai apa yang kami harapkan di kompetisi tersebut.

Untuk diri saya pribadi, semua pencapaian saya saat ini tak akan dapat diraih apabila saya tidak melakukan hal yang sederhana, yaitu mencoba hal baru.

Ketika saya masih menjadi mahasiswa baru (maba), ada keinginan sederhana yang muncul dalam benak saya, “ Ya Tuhan, seandainya saya punya satu saja prestasi, akan menyenangkan pasti rasanya.”

Mungkin bagi kalian itu merupakan hal yang biasa, remeh, konyol, atau mudah didapatkan. Namun, bagi saya itu merupakan pencapaian yang sangat luar biasa.

Sedikit gambaran untuk kalian, sejak kecil sampai duduk di bangku sekolah saya tidak pernah memiliki satupun prestasi, baik menjuarai lomba maupun mengikuti organisasi. Bahkan, saya tidak mempunyai kegemaran yang membuat diri saya berbeda dari yang lain. Kegiatan ekstrakurikuler pun tidak terlalu intens saya ikuti—hanya sebagai syarat yang diwajibkan oleh sekolah.

Tak dapat dipungkiri bahwa saat itu saya sangat merasakan kenyamanan, atau mungkin lebih tepatnya tenggelam dalam ‘zona nyaman’. Hingga akhirnya saya menemukan titik balik ketika hendak masuk SMA.

Saya mulai belajar dengan keras agar mendapat nilai yang baik dan bisa masuk SMA favorit. Akan tetapi, pencapaian itu tidak berhasil saya raih.

Di bangku SMA, saya menginginkan masuk ke perguruan tinggi favorit—bahkan perguruan tinggi di Jepang. Saya pun kembali belajar dengan giat, termasuk mengambil dua bimbingan belajar sekaligus—belajar privat dan di lembaga bimbingan belajar. Sayangnya, saya masih belum bisa masuk ke perguruan tinggi yang saya inginkan.

Dari sini saya menyadari bahwa modal nilai rapor saja tidak cukup, sehingga saya berpikir apa yang bisa membuat saya berbeda dari lainnya. Seperti kata Pandji Pragiwaksono, “Sedikit lebih beda lebih baik daripada sedikit lebih baik.”

Saya menyadari bahwa saya cenderung mengikuti arus yang ada. Saya berpikir, “Toh gini-gini aja udah nyaman.” Akan tetapi, nahkoda yang hebat tidak tebentuk dari arus yang tenang, kan?

Saya tidak ingin hidup dengan penyesalan untuk yang kesekian kalinya. Akhirnya saya mencoba mengatasi rasa takut saya dalam mencoba hal yang baru—dan positif tentunya.

“Fear is simply because you are not living with life. You are living in your mind.” – Sadhguru

Ketakutan hanya ada dalam benak kita. Sering kali kita takut menghadapi yang akan terjadi selanjutnya, yang berarti ketakutan merupakan hal yang sebenarnya tidak ada, tapi ‘diada-adakan’.

Ketakutan merupakan hal yang wajar, bahkan membuat kita menjadi lebih hidup. Tetapi, harus bisa dipahami mana yang benar-benar fear, mana yang driven by our fears.

Dikendalikan oleh ketakutan akan membatasi diri kita dan akhirnya berakhir dengan penyesalan. Untuk itu, kita perlu mengendalikan rasa takut dan mengerti mengapa rasa takut itu ada.

Contohnya, ada perasaan takut ketika saya berhadapan dengan lingkungan baru, ketika saya mencoba untuk mendaftarkan diri dalam suatu organisasi mahasiswa, ataupun ketika saya mengikuti kelas sanggar di mana saya tidak mempunyai satu teman pun.

Di sini saya menekankan pada diri saya bahwa you’ll never walk alone,  dan terbukti ketika berada di lingkungan baru saya mempunyai teman yang baru dan hal ini melatih saya untuk beradaptasi.

Setelah berhasil memahami dan mengendalikan rasa takut kita, selanjutnya kita perlu memperkuat tujuan yang membuat kita ingin melakukan hal baru ini.

Tujuan yang kuat itu diperlukan agar ketika mulai menyerah, kita langsung ingat kembali bagaimana perjuangan memulainya dari awal.

Tunggu apa lagi?

Take your first step and take your chance. Yakinkan dirimu untuk memulai, sekalipun dari hal yang kecil. Tidak ada hal yang besar tanpa adanya langkah-langkah yang kecil dan jangan menunggu waktu yang tepat untuk melakukan sesuatu yang hebat.

Saya terngiang quote dari Ralph Waldo Emerson, yaitu “Once you make decision, the universe conspires to make it happen.”

Saya pernah mengalami kejadian di mana ketika saya disibukkan oleh kepanitiaan suatu acara dan terdapat dua agenda ujian. Ajaibnya ketika saya merasa benar-benar tidak sanggup untuk mengerjakan keduanya, tiba-tiba terjadi ada suatu hal yang membuat ujian tersebut diundur. Bersyukur sekali atas izin dari-Nya, semesta pun mendukung.

Hal yang terpenting saat kita memulai hal yang baru adalah percaya pada kemampuan yang kita miliki dan menghindari pikiran negatif.

Sering kali ketika saya memulai hal yang baru muncul pertanyaan, “Bagaimana jika saya gagal?”

Percayalah pada kemampuanmu karena meragukan diri sendiri tidak akan ada gunanya. Keraguan itu hanya akan menghancurkan harga dirimu dan momentummu.

Apabila memang tidak berakhir sesempurna yang kita harapkan, ingatlah you won’t be flawless when you’re trying something completely new to you. Jangan jadikan kesempurnaan sebagai patokan dalam keberhasilan mencoba hal yang baru. Jadikan progress dan proses sebagai tujuan, bukan kesempurnaan.

Yah, memang mencoba sesuatu yang baru bisa menakutkan. Saya pun masih terus mencoba mengatasinya. Keraguan adalah hal yang wajar ketika kita mencoba tantangan baru, tapi kuncinya adalah tidak membiarkan benih-benih pikiran negatif tumbuh.

Dengan demikian, tidak peduli seberapa besar suara hati merendahkan, yang penting adalah keinginan kita untuk maju. Jangan berhenti bahkan sebelum memulai, dan jangan takut gagal.

Menurut saya, kegagalan terbesar adalah ketika saya takut untuk mencoba karena dengan begitu kita membatasi diri untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Kita tidak tahu masa depan akan menjadi seperti apa, jadi yang terpenting adalah mempersiapkannya sebaik mungkin.

“Change can be scary, but you know what’s scarier? Allowing fear to stop you from growing, evolving, and progressin.” – Mandy Hale


 

Leave A Comment

Share via