||Tips Membuat CV: 8 Kesalahan yang Jarang Diketahui Mahasiswa

Tips Membuat CV: 8 Kesalahan yang Jarang Diketahui Mahasiswa

Penulis: Julius Daniel – Meski baru jadi mahasiswa angkatan pertama di ITB, pengalaman Julius telah mengajarkannya banyak hal tentang cara memenangkan persaingan, salah satunya melalui CV. Dalam artikel ini, ia ingin membagikan lima hal yang harus diperhatikan ketika membuat CV.


Apabila kita mendengar kata “CV”, pasti yang muncul di pikiran kita adalah dunia pekerjaan dan pengalaman bekerja. CV atau Curriculum Vitae adalah suatu dokumen yang memberikan gambaran mengenai pengalaman seseorang dan kualifikasinya.

Di Indonesia, CV menggambarkan profesionalitas dalam bekerja, agar kelak kamu dapat ‘dilirik’ oleh penyeleksi untuk lolos ke tahap selanjutnya. Pertanyaannya adalah, apakah seorang mahasiswa perlu memiliki CV dari sekarang?

Jawabannya Ya dan Tidak.

Tidak, karena pada kenyataannya mahasiswa belum benar-benar membutuhkan CV dan kebanyakan belum memiliki pengalaman bekerja. Ya, karena di realita kehidupan kampus dan luar kampus persaingan untuk mendapatkan sesuatu sudah sangat ketat. Contohnya, beasiswa, kepanitiaan besar, internship, dan masih banyak lagi.

Ketika kita masuk ke dalam suatu persaingan, kita dituntut untuk menunjukan suatu nilai lebih dari diri kita yang membuat kita ‘dilirik’ oleh penyeleksi. Maka dari itu, tidak ada salahnya jika seorang  mahasiswa belajar untuk membuat CV dari sekarang.

Dana Cita | Tips Membuat CV by Julius Daniel

Julius Daniel, Campus Ambassador Dana Cita dari ITB (Photo by Julius Daniel)

Nama saya adalah Julius Daniel Sarwono. Saat ini, saya tengah menjalani perkuliahan tahun pertama di Institut Teknologi Bandung, tepatnya di Fakultas Teknologi Industri. Saya sadar betul sejak awal masuk ke kampus ini aroma persaingan sudah sangat tercium dengan jelas.

Saya beruntung dapat menjadi salah satu penerima beasiswa swasta SEA Undergraduate Scholarships dari Singapore—yang merupakan manajemen dari perusahaan Shopee, Garenadan Airpay, serta beasiswa Program Kepemimpinan TELADAN, Tanoto Foundation.

Menjadi seorang penerima beasiswa di tahun pertama perkuliahan di mana IPK saja belum ada tentu menimbulkan pertanyaan, “Loh, terus apa yang dinilai?”

Seleksi yang dilakukan cukup ketat di mana penerima beasiswa ini untuk ITB berjumlah 10 orang dengan pendaftar hampir seribu orang yang harus melalui 3 tahap seleksi.

Dari tahap dokumen ke tahap wawancara dipilih 30 orang melalui 5 essays berbahasa Inggris dan CV. Bayangkan bagaimana krusialnya suatu CV dalam persaingan!

Maka dari itu, melalui artikel ini saya akan berbagi kesalahan yang jarang diketahui orang dalam membuat CV khususnya di kalangan mahasiswa.

1. CV kosong atau kurang padat

Mungkin hal ini akan menimbulkan beberapa pertanyaan seperti, “Loh, kalau belum ada prestasi atau pengalaman bagaimana, Kak?” atau “Kak, pengalamanku terbatas di kepanitiaan sekolah, itupun event internal dan peranku cuma sebagai divisi blabla…

Di sini saya harus menegaskan bahwa untuk membuat CVbukan berarti kamu harus memiliki prestasi yang menumpuk dulu! Justru melalui CV yang baik dan benar, kamu bisa me-“make up” diri kamu menjadi terlihat baik.

Eits, bukan berarti bohong ya, karena risiko berbohong di CV akan besar di tahap wawancara. Namun, ibaratnya untuk terlihat cantik, seorang perempuan melakukan make up di wajahnya. Nah, apakah hal tersebut merupakan suatu kebohongan? Tidak juga. Begitu pula saat di foto, kita cenderung menunjukkan best angle kita. Sama halnya dalam membuat CV!

Kamu bisa masukan pengalaman-pengalaman kamu seperti Juara Melukis tingkat SMP, Divisi Eksternal Pensi Sekolah, OSIS, dan sebagainya. Tidak ada yang salah dari pengalaman-pengalaman kecil. Penyeleksi pasti tetap menilai diri kamu secara keseluruhan kok, bukan dari jumlah penghargaan atau pengalaman yang kamu berikan.

2. CV terlalu padat!

Betul sekali, kebalikan dari kesalahan pertama, CV kamu terlalu padat! Saking padatnya sampai-sampai ukuran font di CV kamu 6 atau 7. Tentu saja hal ini sudah bikin penyeleksi malas untuk membaca CV kamu.

Faktanya, ada sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa seorang HRD di perusahaan biasanya membaca CV seseorang dalam waktu kurang dari 5 detik! Hal ini berlaku juga untuk para mahasiswa.

Bayangkan saja apabila tulisan kamu memenuhi satu halaman A4 hingga harus berpadat-padatan dan besar kemungkinan CV kamu harus dibaca dalam waktu paling lama 5-10 detik. Penyeleksi tentu saja tidak akan membawa CV kamu terlebih dahulu ke coffee shop untuk direnungkan lalu dibaca berulang-ulang.

Maka dari itu, tunjukkanlah cukup sisi terbaik yang kamu perlu tunjukkan di dalam CV kamu! Tidak perlu sampai memasukkan semua yang kamu miliki, ya.

3. Tidak ada parameter yang bisa dipercaya

“Saya sangat mahir dalam mengoperasikan Ms. Excel” dibanding “Saya mengikuti kursus tersertifikasi ‘mahir’ Ms. Excel 2010 selama 3 bulan di PT Internet Train SaintikaJakarta”, mana yang terkesan lebih menarik?

Tentu saja yang ke-2!

Parameter yang bisa dipercaya sangatlah penting. Lalu, coba lihat contoh kesalahan yang kerap terjadi di gambar ini.

Dana Cita | Tips Membuat CV

Sering bertemu dengan grafik di atas apabila mencari template CV di Google?

Ini merupakan suatu kesalahan yang sebaiknya jangan kalian masukkan ke CV kalian. Selain memakan tempat, penilaian tersebut sangatlah tidak kredibel! Tidak fair rasanya apabila kalian menilai sendiri kemampuan kalian dengan range 0-10 atau bintang 1-5.

Kalau begitu, bagaimana cara kita menunjukkan keahlian kita?

Tentu saja keahlian kamu sudah tergambarkan melalui bagian achievements, education background, dan experience kamu. Cukup dengan memasukan prestasi kamu seperti Juara 1 Pidato se-Kabupaten Banyumas, orang sudah dapat mengetahui bahwa kamu pandai berpidato atau berbicara di depan umum.

4. Terlalu memikirkan desain CV yang menarik

Ini adalah salah satu kesalahan terbesar dalam pembuatan CV. Perlu diketahui bahwa terdapat dua buah jenis CV secara umum, yaitu Standard CV dan Creative CV.

Dana Cita | Contoh CV

Contoh Standard CV

Dana Cita | Contoh CV

Contoh Creative CV

Sudah mendapatkan gambaran bukan?

Ilustrasi pertama menunjukkan format Standard CV, sedangkan ilustrasi kedua menunjukkan format Creative CV.

Perhatikan, tidak ada yang salah dari kedua CV tersebut. Masing-masing memiliki keunggulan dan lahannya sendiri.

Di seleksi-seleksi beasiswa yang menuntut kamu berpikir kreatif seperti Beswan Djarummungkin Creative CV akan lebih manjur. Kamu bisa mencari inspirasi dan berbagai contoh CV yang menarik di Internet. Namun, apabila kamu mengajukan beasiswa pendidikan ke pemerintah atau akademisi kampus, tentu saja Standard CV lebih dibutuhkan di sini.

Jangan pernah memaksakan diri untuk membuat Creative CV apabila memang kemampuan desain kamu kurang. Kamu bisa meminta bantuan teman untuk membuatkannya atau mungkin kamu dapat memilih Standard CVyang tentunya tidak ada salahnya juga.

Nilaimu tidak akan dikurangi apabila kamu menggunakan Standard CV dengan baik, tapi kemungkinan nilaimu akan dikurangi apabila kamu membuat Creative CV yang berantakan atau sekadar menyunting format yang sudah ada di Google yang notabene banyak mengandung kesalahan.

Perhatikan juga font dan warna yang kamu gunakan dalam Creative CV . Di sini kamu harus sangat berhati-hati. Oleh karena itu, saya pribadi sangat merekomendasikan kamu untuk menggunakan Standard CV saja bila memang kamu masih awam dalam pembuatan CV.

5. Membuat satu CV untuk banyak penggunaan

Kesalahan yang cukup sering terjadi dan kebanyakan mahasiswa tidak menyadarinya adalah, membuat satu buah CV lalu menggunakannya untuk berbagai kepentingan, seperti beasiswa pendidikan, seleksi klub musik, seleksi unit kemahasiswaan, seleksi BEM, dsb.

Perlu diperhatikan bahwa CV kamu menggambarkan diri kamu kepada penyeleksi. Tentu saja ada suatu hal yang kamu coba angkat dari diri kamu sebagai keunggulan di dalam sebuah CV.

Tidak relevan jika kamu mengutamakan prestasi-prestasi di bidang sains untuk seleksi klub musik, atau sebaliknya.

Selain itu, mengurutkan prestasi dan pengalaman juga menjadi poin penting, karena biasanya penyeleksi cenderung memprioritaskan prestasi dan pengalaman teratas dalam suatu CV.

Apabila kamu ingin mengajukan beasiswa, coba lihat latar belakang pemberi beasiswa tersebut. Terkadang ada beasiswa yang memprioritaskan mahasiswa berprestasi di berbagai bidang baik musik dan olahraga, sehingga kamu dapat mengurutkan prestasi dan pengalaman kamu dengan memprioritaskan musik dan olahraga terlebih dahulu.

Namun, ada juga beasiswa yang memprioritaskan penerima yang pintar dalam hal akademis, sehingga kamu dapat menaruh prestasi dan pengalamanmu di bidang sains atau ilmu sosial dan akademis terlebih dahulu.

Berbeda lagi untuk seleksi masuk BEM—contohnya, yang kamu prioritaskan di sini adalah sisi self-management yang baik, maka kamu dapat memprioritaskan pengalaman kepanitiaan kamu terlebih dahulu, kemudian dibumbui dengan prestasi di bidang akademis atau non-akademis untuk menunjukkan bahwa kamu dapat me-manage diri kamu di tengah kesibukan.

6. Pemilihan kata

Kamu harus berhati-hati dalam memilih kata, baik dalam CV berbahasa Inggris maupun berbahasa Indonesia. Hindari menggunakan kata-kata yang terkesan kurang menarik dan menggunakannya berulang-ulang dalam CV kamu!

7. Kalau pengalaman kamu belum cukup membuat mereka percaya, berikan peran kamu!

Biasanya orang cenderung menuliskan pengalamannya seperti poin-poin “1. Pimpinan Divisi Eksternal Pentas Seni Kultura ITB 2018; 2. Humas dan teknis acara Wisuda Oktober 2018; dst”

Coba kamu pikirkan lagi, dalam suatu kepanitiaan terdapat lebih dari puluhan, bahkan ratusan orang yang terlibat di sana. Namun, pada kenyataannya tidak semuanya memiliki peran yang penting dalam kepanitiaan tersebut.

Apabila kamu sebatas menulis kepanitiaan yang pernah kamu ikuti, bagaimana kamu mau menunjukkan keunggulanmu dibanding teman sekepanitiaanmu?

Untuk mengakali ini, kamu bisa menggunakan format seperti gambar di poin sebelumnya, berikan peran kamu pada pengalaman yang kamu ikuti tersebut! Contohnya, “Pimpinan Divisi Eksternal Pentas Seni Kultura ITB 2018; – Menghadirkan 5240 penonton dari luar (melampaui target sebesar 13,4%); – Mengkoordinasikan gerakan “Kultura Kuy” dalam rangka promosi eksternal pentas seni; dsb.”

8. Kurang menunjukkan sisi profesional kamu

Kasus-kasus seperti menuliskan alamat email [email protected] sering kali terjadi dalam CVBukannya tidak boleh, tapi kenyatannya hal tersebut menunjukkan sisi tidak profesional kamu. Terlebih hal ini akan menyulitkan penyeleksi apabila perlu menghubungi kamu melalui email.

Usahakan menggunakan email standar seperti [email protected] Lalu, dalam memasukkan akun media sosial, usahakan masukkan media sosial yang menunjukkan citra baik diri kamu!

Terkadang ada penyeleksi yang suka iseng membuka media sosial yang tertulis di CVJika kamu memasukan username Instagram kamu di sana, pastikan Instagram kamu menunjukkan sisi profesional dan positif dari diri kamu. Saran dari saya, masukkan hal-hal penting saja di bagian contact, seperti nomor telepon, alamat, email, dan LinkedIn.


Julius Daniel Sarwono merupakan mahasiswa semester 2 di ITB asal Purwokerto, Banyumas. Sejak SMA, mahasiswa Fakultas Teknik Industri ini sudah aktif menjadi panitia serta menjuarai berbagai perlombaan—baik di tingkat regional maupun nasional. Selain menjadi Campus Ambassador Dana Cita, saat ini Julius juga aktif di sejumlah kegiatan kemahasiswaan.

Leave A Comment

Share via