||Wish List: Harapan Sekaligus Doa

Wish List: Harapan Sekaligus Doa

Penulis: Nadia Putri Lingga –  Mahasiswi UGM asal Bandar Lampung ini menceritakan bagaimana keberaniannya untuk menuliskan mimpi di secarik kertas berbuah manis ketika satu per satunya berhasil terwujud.


“Teruslah bermimpi, selagi mimpi itu gratis.” Begitu kata orang bijak.

Aku setuju dengan perkataan tersebut. Bermimpilah tentang apapun yang kamu inginkan. Ya, apapun. Jangan halangi dirimu untuk memimpikan sesuatu yang bahkan kamu rasa mustahil.

Aku lebih setuju lagi dengan perkataan bahwa mimpimu hanya akan menjadi mimpi hingga kamu menuliskannya.

Semua keinginan yang ada di dalam pikiran dan hatimu akan tetap menjadi mimpi yang mungkin suatu saat kamu akan lupa. Tetapi, dengan menuliskannya maka kamu sudah satu langkah menuju mimpimu karena menuliskan mimpi sama seperti pengingat dan juga doa.

Kamu bisa menuliskannya di selembar kertas, di buku harian, atau bahkan dijadikan home screen laptopmu. Terserah kamu mau menuliskannya di mana saja atau melalui media apa saja.

“Tapi bagaimana jika nanti kertasku hilang atau aku lupa meletakkan buku harianku?”

Jika demikian, maka tulisanmu tersebut tetap menjadi doa yang ikut diaminkan oleh alam semesta, dan nanti ketika kamu menemukannya lagi, maka kamu akan sadar bahwa ada beberapa hal di wish list tersebut yang mungkin sudah terwujud tanpa kamu sadari. Sementara sisanya akan menjadi pengingat agar kamu terus berupaya untuk mewujudkannya.

Aku ingin sedikit bercerita mengenai wish list yang pernah aku buat.

Aku memiliki banyak sekali mimpi yang ingin aku capai sejak masih di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Kemudian, aku mulai menuliskan mimpiku ketika akhir masa sekolah. Sederhana sekali, hanya di selembar kertas binder dan menggunakan tinta berwarna hitam dan biru—aku masih ingat betul padahal kertasnya sempat hilang ketika renovasi kamar.

Tidak banyak, hanya ada 30 mimpi yang ingin aku capai yang mana tidak jauh-jauh dari mimpi seorang pelajar biasa. Beberapa di antaranya adalah, masuk SMAN 9 Bandar lampung, lulus dengan nilai rata-rata 9, mengikuti perlombaan ketika SMA, mendapat ranking tiga besar, mempunyai bakery, kuliah di UGM, ke Mekkah bersama keluarga, makan waffle di Belgia, dan melihat daun maple berjatuhan di Kanada.

List di atas hanyalah sebagian dari mimpi gila seorang siswi SMP tingkat akhir pada tahun 2012. Namun, kalian bisa tebak? Siapa sangka kalau sekarang beberapa di antaranya sudah terwujud. Ada yang membutuhkan waktu hanya beberapa bulan saja hingga beberapa tahun untuk menjadi kenyataan.

Tidak lama sejak aku menulis wish list yang kemudian aku tempel di dinding kamar, aku dinyatakan lulus di SMAN 9 Bandar Lampung. Satu tahun kemudian aku beberapa kali mengikuti perlombaan selama sekolah dan hampir selalu berada di peringkat tiga besar. Bahkan, tiga tahun kemudian aku berhasil diterima di UGM, dan di salah satu jurusan yang mana tidak banyak alumni dari sekolahku yang berkuliah di sana.

Aku semakin yakin bahwa mimpi yang aku tulis memiliki kekuatan tersendiri. Oleh karena itu, di awal perkuliahan aku kembali menuliskan mimpi-mimpiku di selembar kertas—meskipun kertas tersebut sempat hilang entah ke mana.

Sekali lagi, aku menuliskan mimpiku pada selembar kertas dengan tinta warna-warni, dengan tambahan tulisan yang mengatakan bahwa mimpi tersebut harus dicapai sebelum usia 30 tahun.

Beberapa tambahan mimpi baruku yaitu, mencoba solo backpacker, keliling Indonesia—termasuk ke wilayah timur, mengikuti perlombaan selama kuliah, lulus tepat waktu dengan predikat cum laude, traveling keliling dunia, melihat lumba-lumba di lautan bebas, ngomong bahasa Melayu ketika pergi ke Malaysia, dan banyak hal lainnya.

Percaya atau tidak, beberapa di antaranya kembali terwujud—bahkan dengan cara-cara unik yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan olehku.

Dua tahun setelah wish list itu dibuat, aku berhasil mengikuti beberapa perlombaan dan di antaranya berhasil mengantarkanku menjadi finalis dan juara. Mimpiku untuk melakukan solo backpacker dapat terwujud pada awal tahun 2018 lalu, dan langsung ke tiga daerah sekaligus.

Selain itu, mimpi untuk bercakap bahasa Melayu ketika mengunjungi Malaysia juga dapat terwujud ketika aku melakukan solo backpacker. Mungkin jika bukan karena tragedi kehilangan paspor, aku tidak akan bercakap dalam bahasa Melayu.

Aku sadar kehilangan paspor ketika sedang makan di salah satu restoran cepat saji. Lantas, aku bergegas mengelilingi bandara mencari pasporku yang mungkin terjatuh. Aku titipkan tas dan makananku yang berada di atas meja kepada pelayan restoran tersebut. Ia mengira aku merupakan orang Malaysia sehingga ia berbicara dalam bahasa Melayu yang kemudian aku sahut dengan bahasa Melayu juga.

Tiga tahun kemudian, aku menginjakkan kaki di wilayah timur Indonesia dalam rangka program KKN UGM. Aku tidak pernah menyangka akan bisa melihat lumba-lumba secara langsung di lautan bebas ketika berada di tanah Halmahera Selatan.

Lumba-lumba jarang sekali muncul di lautan Pulau Bacan, Maluku Utara. Namun, aku berhasil melihatnya ketika perjalanan menuju kota untuk berbelanja di siang hari. Padahal, seharusnya kami berangkat pagi hari, tetapi karena kami ketinggalan kapal penumpang, akhirnya kami berangkat ketika matahari cukup terik dan berada di atas kepala. Mungkin jika aku berangkat pagi hari aku tidak akan pernah melihat lumba-lumba lincah itu.

Itu hanya beberapa cara alam dan sekitarnya untuk membantu aku mewujudkan wish list-ku. Ketika kamu memiliki keinginan, maka alam semesta seolah akan selalu memberimu jalan (Film Trinity, 2017). Sekarang coba kamu ambil selembar kertas. Goreskan tinta warna-warni di atasnya dan mulailah tulis semua mimpimu.

Leave A Comment

Share via